Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Tidak Baik-Baik Saja


__ADS_3

Kabar kecelakaan Ajik Gung De, pun kini sudah di ketahui oleh Bu Astuti. Alhasil Bu Astuti pun langsung kembali ke Bali untuk melihat keadaan suaminya. Dengan berat hati ia meninggalkan Giska dan membiarkan Giska merawat Pak Bram seorang diri. Jika saja Pak Bram mau diajak ke Bali, mungkin saat ini mereka bertiga ke Bali bersama-sama. Namun, Pak Bram tetap menolak, jadilah ia --- Bu Astuti pulang sendirian.


Sesampainya di Bali, Bu Astuti pun langsung menuju rumah sakit tempat suaminya dirawat. Sesampainya di rumah sakit, ia pun segera berlari menuju ruangan tempat suaminya dirawat.


Ceklekkk....


Pintu di salah satu ruangan pun terbuka, dan... "Ajikk..." Teriakan Bu Astuti pun terdengar di sana.


Bobby dan Tia yang sudah lebih dulu sampai di rumah sakit. Mereka berdua yang juga berada di ruangan tempat Ajik Gung De dirawat pun sontak menoleh ke arah pintu.


"Ibu," sapa Bobby seraya langsung menghampiri ibunya.


"Bagaimana keadaan Ajik?" Bu Astuti langsung menanyakan keadaan suaminya, seraya ia berjalan mendekat ke ranjang pembaringan tempat suaminya berbaring dengan di tuntun oleh Bobby --- putranya.


Karena saat ini Ajik Gung De sedang tidur maka ia pun tak menjawab pertanyaan istrinya itu. Bobby lah yang langsung menjawab, mewakili Ajiknya.


"Ajik baik-baik saja, Bu. Ibu jangan khawatir," ucap Bobby menenangkan ibunya.


"Tapi kenapa Ajik tidak bangun, Bob? Kenapa dengannya?" tanya Bu Astuti cemas. Nampaknya ia tak yakin dengan jawaban Bobby baru saja.


"Tadi Ajik sudah sadar, Bu. Ini sekarang Ajik baru saja tidur, istirahat," jawab Bobby.


"Apa kau tidak berbohong, Bob?"


"Bobby berkata jujur, Bu." Tia menimpali.


"Ajik baik-baik saja. Tadi bahkan Ajik sendiri yang menelpon Bobby, mengabari kalau Ajik kecelakaan. Dan saat sampai di rumah sakit ini, Ajik juga terlihat baik-baik saja. Dan dokter juga mengatakan baik-baik saja setelah memeriksa Ajik tadi." Tia menambahkan. Ia menjelaskan kondisi Ajik Gung De pada ibu mertuanya itu.


"Astungkara (Ucapan syukur) kalau begitu. Ibu benar-benar cemas di sepanjang perjalanan tadi."


"Ibu pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Lebih baik ibu istirahat dulu," tutur Bobby.


_____________


Hari demi hari telah berlalu. Tanpa terasa sudah satu minggu setelah Ajik Gung De kecelakaan di hari itu. Hingga saat ini pun Ajik Gung De masih dirawat di rumah sakit. Memang terdengar kurang meyakinkan mendengar Ajik Gung De sampai saat ini masih belum diperbolehkan pulang meski sudah satu minggu dirawat. Apalagi mengetahui kondisi Ajik Gung De yang baik-baik saja di saat itu.


Namun kenyataannya sangat berbeda. Pada saat itu memang Ajik Gung De di katakan baik-baik saja oleh dokter, melihat tak ada luka serius dan tak ada cedera serius di tubuh Ajik Gung De. Namun pada kenyataannya kondisi Ajik Gung De tidak sebaik itu. Ajik Gung De mengalami cidera otak serius yang di akibatkan oleh benturan keras di kepalanya. Luka luar memang tidak ada tetapi luka dalam yang terpampang nyata setelah menjalani beberapa pemeriksaan lanjutan.


Tak hanya Ajik Gung De saja yang masih dirawat di rumah sakit ini, tetapi Bu Astuti pun kini ikut dirawat juga. Tepatnya ia mengetahui kondisi suaminya yang sebenarnya, ia pun langsung jatuh sakit di saat itu juga. Hal itu disebabkan oleh pola makan yang sangat tidak teratur yang menyebabkan asam lambungnya kambuh.


Bobby... ia tentunya kembali menunda urusannya dengan Giska karena kondisi kedua orang tuanya kini sedang tidak baik-baik saja. Hal ini justru malah membuat Tia gembira. Pasalnya suaminya batal menyusul Giska ke Surabaya.




Di tempat lain, Giska terlihat murung di depan kamar bapaknya. Sesekali ia memandang wajah bapaknya lalu kemudian ia memandang ponselnya yang saat ini berada di tangan kanannya.



"Cepat sehat ya, Pak," ucapnya lirih seraya menatap bapaknya yang tengah tidur itu.

__ADS_1



Kondisi Pak Bram saat ini juga belum membaik. Justru saat ini kondisi Pak Bram semakin menurun. Bahkan setiap saat Pak Bram selalu mengeluh punggung dan perutnya sakit. Bahkan saat ini ia sudah tak bisa duduk terlalu lama. Jangankan lama, sebentar saja ia sudah tak betah. Dan yang lebih parah lagi, ia juga kesulitan untuk bangun ataupun duduk sendiri.



"*Ya Tuhan, kenapa harus berbarengan seperti ini? Di sini bapak masih belum sehat sampai sekarang. Dan di sana, Ajik dan Ibu juga masih dirawat di rumah sakit. Ajik dan Ibu sangat baik padaku dan juga pada bapak. Rasanya aku ingin sekali menemui mereka di sana tetapi itu tidak mungkin karena aku tidak mungkin meninggalkan bapak sendirian dalam keadaan sakit seperti ini*," batin Giska sedih.



"*Bagaimana keadaan Ajik dan Ibu saat ini ya? Kenapa Bli Bobby tidak memberi kabar padaku hari ini*?" batinnya bertanya-tanya.



"*Lebih baik aku tanya saja langsung pada Bli Bobby sekarang*," ucapnya dalam hati. Lalu kemudian ia segera mengirim pesan pada Bobby.



{***Bagaimana keadaan Ajik dan juga Ibu, Bli? ~ Giska***}



"*Jika saja Ibu masih bisa dihubungi, aku tidak akan langsung menghubungi Bli Bobby seperti ini. Rasanya aneh seperti ini, aku merasa canggung lagi pada Bli Bobby. Mungkin karena hubungan ini rumit ini. Apalagi dengan masalah-masalah yang kemarin*," batin Giska.



"*Sebenarnya kalau boleh jujur, aku sangat merindukanmu, Bli Bobby. Tapi aku juga sadar diri akan posisiku. Meski kau selalu berkata sayang padaku tapi entah kenapa aku belum bisa ikhlas menerimanya. Apalagi dengan keadaan kita sekarang ini*."




{***Ajik sedang tidak baik-baik saja, Gis. Kondisinya semakin menurun. Bahkan setelah dilakukan operasi kemarin, Ajik masih tidak sadarkan diri. Dokter mengatakan kalau kecil kemungkinan untuk Ajik sembuh seperti sedia kala. ~ Bobby***}



{***Dokter juga mengatakan kita harus mengikhlaskan jika sesuatu terjadi pada Ajik. ~ Bobby***}



{***Sementara Ibu, dia juga masih kurang baik keadaannya. Aku bahkan tidak berani memberitahu Ibu tentang kondisi Ajik saat ini. ~ Bobby***}



{***Tolong doakan Ajik dan Ibu ya, Gis. ~ Bobby***}



Empat pesan balasan dari Bobby serta di akhiri dengan beberapa emotikon sedih dan menangis.


__ADS_1


"Ya Tuhan..." Air mata Giska pun menetes membaca pesan dari Bobby itu. Ia pun membalas pesan itu.



"***Itu pasti, Bli. Aku akan selalu mendoakan kesembuhan Ajik dan Ibu. Maaf jika aku tidak bisa berada di sana. Aku hanya bisa mendoakan dari sini. Sampaikan pada Ajik dan Ibu kalau aku sangat menyayangi mereka. ~ Giska***}



Pesan sudah terkirim. Namun setelah beberapa menit, ia tak kunjung mendapatkan balasan lagi dari Bobby. Justru ia malah mendapatkan panggilan video call dari Bobby. Tanpa berjual mahal, Giska pun segera menjawab panggilan itu.



Di dalam panggilan video call itu, Bobby tampak menangis. Bobby mengatakan kalau ia sangat mencemaskan keadaan kedua orang tuanya, terutama Ajiknya. Mengingat apa yang dikatakan oleh dokter, ia merasa takut jika nantinya ia akan kehilangan Ajiknya.



Giska pun hanya bisa memberikan support pada Bobby. Ia meyakinkan Bobby jika Ajik dan Ibunya pasti akan kembali sehat. Namun tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya ia juga merasa khawatir. Namun ia tak ingin Bobby melihat kekhawatirannya itu dan nantinya malah akan menjadikan Bobby semakin cemas akan keadaan orang tuanya.



\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



Keesokan paginya.



Jam masih menunjukkan pukul 3.40 subuh. Terdengar getaran ponsel di sebelah bantal Giska. Giska yang tak tidur pun segera mengambil ponsel itu dan ia segera menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya itu.



"Hallo, Bli Bobby." Giska langsung menyapa Bobby, di seberang telpon.



"Ajik sudah pergi, Gis..." Terdengar suara Bobby menangis di dalam panggilan itu.



..



..



..


__ADS_1


**Bersambung**...


__ADS_2