
"Paa..." Tia menjentikkan jemarinya tepat di depan wajah Bobby. Bobby pun sontak terkejut.
"Haa?" Bobby seakan langsung tersadar dari lamunannya.
"Ayolah, Pa! Pleasee!" Tia lagi-lagi memelas.
Bobby menelan salivanya. "Eummm, jangan sekarang, Tia. Kau sedang hamil, kan? Kita juga belum tau bagaimana kondisi janinmu saat ini. Aku tidak ingin membahayakan janinmu itu," tutur Bobby. Ia mencoba menasehati Tia sekaligus ia mencari cara untuk menolak Tia namun dengan cara yang halus.
"Ahh iya, kau benar, Pa. Ya sudahlah, nanti akan ku tanyakan pada dokter tentang ini." Tia berlalu pergi mengambil pakaiannya di lemari. Setelah mengambil pakaiannya, ia pun langsung mengenakannya. Kemudian setelah itu, ia sedikit memoles wajahnya di depan meja rias. Ia memakai lipstik warna merah menyala di bibirnya. Lalu ia juga merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Tak lupa ia juga menyemprotkan parfum wangi Vanilla kesukaannya pada lengan dan juga bajunya.
"Aku sudah selesai, Pa. Ayo kita berangkat!" ajak Tia.
"Ayo."
Tia dan Bobby pun berjalan beriringan keluar dari kamar.
____________________
"Istirahatlah ke kamar! Biar aku saja yang meletakkan makanan ini di meja makan," pinta Bobby. Ia dan Tia baru saja kembali dari rumah sakit. Saat perjalanan menuju rumah tadi, ia dan Tia mampir ke restaurant untuk membeli makanan untuk di bawa pulang. Kini makanan yang ia beli tadi sedang di pegang oleh Bobby.
"Iya, Pa." Tia pun langsung berjalan ke kamarnya. Sementara Bobby, ia langsung menuju meja makan untuk meletakkan makanan yang ia beli tadi.
Usai meletakkan makana itu di meja, Bobby mendudukkan tubuhnya di kursi sebentar. Sejenak ia berpikir tentang kehamilan Tia. Ia mengingat perkataan dokter kandungan yang memeriksa Tia, tadi.
Flashback On beberapa saat yang lalu.
"Usia kandungan Bu Tia sudah memasuki minggu ke 6, Pak. Di trimester awal ini, kandungan masih sangat lemah. Jadi, saya sarankan, Ibu banyak-banyak istirahat. Nanti saya kasih resep vitamin untuk menjaga kandungan, Ibu." tutur sang dokter usai memeriksa kandungan Tia.
"Sudah 6 minggu?" celetuk Bobby. Seketika ia berpikir, saat terakhir kali ia meniduri Tia.
"Benarkah sudah selama itu saat terakhir kali aku meniduri Tia waktu itu?" batinnya.
"Iya, Pak. Sudah 6 minggu," ucap sang dokter sambil menuliskan resep vitamin untuk Tia.
"Pa, anak kita sudah berusia 6 minggu." Tia tersenyum sambil memegang lengan Bobby.
__ADS_1
Bobby hanya menatap Tia tanpa bicara apapun pada Tia.
"Ini resepnya, Pak, Bu. Silahkan ditebus di Apotek depan," ucap dokter itu sambil menyerahkan resep vitamin pada Bobby dan Tia.
"Baiklah, kami permisi dulu." Bobby dan Tia pun pamit keluar dari ruangan dokter kandungan itu.
Flashback Off.
"6 minggu," lirih Bobby.
"Oke, mungkin itu memang benar anakku. Bukankah usia kehamilan itu dihitung dari tanggal terakhir datang bulan? Mungkin memang benar itu adalah anakku." Batin Bobby.
"Tapi, seingatku belum ada sebulan, aku meniduri Tia waktu itu. Dan waktu itu juga aku membuang benihku di luar. Tapi bisa saja kan separuh benihku waktu itu jatuh di rahim Tia? Mana yang benar ini? Itu anakku apa bukan?" Lagi-lagi Bobby bingung.
Di satu sisi ia senang mengetahui Tia hamil tetapi di sisi lain, sekarang di pikirannya malah muncuk keraguan tentang siapa Papa dari bayi yang di kandung Tia saat ini. Ia sangat berharap kalau bayi itu adalah anaknya. Bisa saja kan waktu itu sedikit benihnya berhasil masuk ke rahim Tia? Bukankah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini? Tetapi semua itu kembali pada kehendak Tuhan. Hanya Tuhan yang tau, siapa Papa dari bayi itu sebenarnya.
Mungkin, Tia juga tidak tau siapa yang berhak memiliki anak yang saat ini ia kandung. Mungkin saat ini belum ada yang tau, tetapi nanti pasti akan ketahuan siapa Papa biologis dari bayi itu.
Bukan maksud Bobby untuk meragukan bayi yang Tia kandung saat ini. Ia tak sama seperti penyanyi pria muda genre dangdut yang rambutnya kruwil-kruwil itu, yang sempat viral di sosial media karena meragukan kehamilan istrinya yang belum lama ini ia nikahi. Kalau Bobby, ia meragukan Tia karena sebelumnya Tia juga berhubungan dengan pria lain, jadilah ia ragu.
_______________
Ddrrrtttt!
Ponsel Bobby berdering. Nampak ada nama Mama di layar ponselnya.
"Kenapa Tia menelpon?" pikirnya. Ia pun langsung menjawab telpon dari Tia.
"Ada apa?"
"Papa langsung kerja?" tanya Tia di sebrang telpon.
"Belum tau nanti. Sepertinya sih tidak. Kenapa memangnya?" Bobby balas bertanya.
"Ohh, aku kira Papa langsung kerja. Soalnya sejak tadi tidak kembali ke kamar setelah meletakkan makanan di meja makan," sahut Tia.
__ADS_1
"Iya ini sebentar lagi aku ke kamar," ujar Bobby.
Tuttt!
Bobby langsung memutus panggilannya. Ia pun langsung pergi ke kamarnya, menyusul Tia.
Ceklekk!
"Ada apa? Apa kau perlu sesuatu?" tanya Bobby pada Tia.
Tia menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin bersamamu, Pa. Kemarilah!" Tia meminta Bobby untuk naik ke kasur.
Bobby pun menurutinya. Ia langsung merangkak naik ke kasur.
"Peluk aku, Pa!" pinta Tia manja. Bobby pun langsung menarik Tia ke dalam pelukannya.
"Tia..."
"Hmmmm."
"Bagaimana kabar Roy?" tanya Bobby tiba-tiba.
"Kenapa menanyakan dia? Jangan membuat suasana hangat ini menjadi buruk, Pa!" protes Tia.
"Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan dia. Aku kan sudah berjanji padamu untuk setia. Aku sudah tidak mau mengingat tentang masa lalu lagi. Sekarang aku sedang hamil, kan. Aku mau fokus pada masa depan kita, Pa." Imbuhnya kemudian.
"Lagian dia sudah pergi jauh dari hidupku. Dia sendiri yang memutuskan untuk tak berteman denganku lagi," batin Tia.
.
.
.
BERSAMBUNG...
__ADS_1