
"Jangan protes! Jangan tutupi lagi, singkirkan tanganmu itu!" Seru Bobby mendahului Giska yang hendak membuka mulutnya untuk bicara.
Bobby pun langsung melepas celananya. Tanpa ragu lagi, ia segera membuka paha Giska, hingga terpampanglah area kesukaan nya itu. Lalu detik selanjutnya, ia langsung memposisikan Joni nya di depan lubang milik Giska. Bobby menempelkan Joni nya di sana, lalu ia mengusap-usapkan Joni nya ke bongkahan lubang itu.
"Ihhhhh..." Suara Giska terdengar. Geli, itulah yang saat ini Giska rasakan. Bukan geli karena di gelitikin, tapi ini rasanya lebih ke geli-geli enak begitu.๐๐
Sebenarnya ia ingin menolak Bobby, ia ingin menyuarakan protes nya, namun, entah kenapa tubuhnya serasa menginginkan ini. Banyak yang bilang, mungkin saat melakukan itu pertama kali, kita akan merasa takut dan tak ingin melakukannya kembali, tapi setelah kita sudah berulang kali melakukannya, rasanya tubuh kita akan terbiasa. Bahkan tubuh kita bisa mengerti jika sedang berada di situasi seperti ini. Rasanya tubuh kita seolah ingin mendapatkan sentuhan yang lebih dalam lagi. Mungkin itu yang Giska rasakan saat ini, namun sepertinya ia masih tak menyadari akan hal ini. Di satu sisi ketakutannya masih selalu ada, namun di sisi lain, tubuhnya juga menginginkannya.
"Sayang, maaf jika aku langsung memasukkan nya tanpa melakukan pemanasan. Habisnya aku sudah tak tahan ingin memasukimu." Racau Bobby seraya masih berusaha memasukkan Joni nya ke dalam lubang favoritnya.
"Iya." Giska pun menjawab pelan. Entah sadar atau tidak dia menjawab iya.
Lalu detik selanjutnya, bllleeesshhhhh....
Setelah berhasil masuk, Bobby pun langsung memompa tubuh Giska.
"Ahhhhhhh..."
"Uhhhhhhh..."
"Emmmpphhh, Gis..." Racau Bobby. Sungguh keras sekali suaranya. Entah kenapa dia bisa mendesah sekeras itu.
"Iya, Bli." Jawab Giska dengan suara tertahan.
"Enak, Gis. Kau sungguh nikmat." Racau Bobby kembali. Sesekali ia mendaratkan kecupan di kening Giska, seraya terus menggenjot tubuh Giska.
Di saat Bobby dan Giska sedang beradu keringat di dalam kamar, sementara di luar kamar terdengar seseorang berulang kali mengetuk pintu kamar Bobby. Bahkan juga terdengar suara yang memanggil-manggil Bobby.
"Pa..."
Tokkkk.... Tokkk... Tokkk...
Keras sekali bunyi gedoran pintu itu, seperti seorang penagih hutang yang tengah menggedor pintu orang yang akan di tagih hutang nya.
__ADS_1
"Pa... Cepat keluar! Sedang apa sih di dalam? Kenapa lama sekali keluarnya?" Teriak Tia.
"Pa!"
Tokk....
Tokkkk...
Tokkkk....
Berulang kali pintunya di gedor, namun kedua insan yang sedang beradu keringat itu pun tak terdengar menyahut. Entah sebenarnya mereka tak mendengar nya atau mereka sengaja tak mau dengar karena nikmatnya rasa yang sedang mereka rasakan.
"Sayang, aku ingin keluar..." Bobby semakin mempercepat tempo nya gerakan nya, dan cr###ttttttt, ia sudah menyemburkan benihnya ke dalam rahim Giska.
"Uhhhhhhhh... Luar biasa, Sayang." Ucap Bobby yang masih bertahan di atas tubuh Giska. Ia masih merasakan Joni nya yang baru saja di sembur oleh Giska. Memang ya, keluar bersamaa itu rasanya luar biasa. Saling menyembur satu sama lain.๐๐
Kedua nya pun berlomba mengatur napasnya masing-masing. Meskipun kali ini permainan Bobby tak lama, namun tetap saja mereka merasa lelah.
Tokkkk....
Tokkkkk..
"Pa!!!!" Panggil Tia kembali.
"Ehhh, Bli, itu ada yang memanggil. Aku harus bagaimana?" Giska berubah cemas.
Cupp, Bobby mengecup kening Giska, lalu ia melepas penyatuan nya. "Pakailah bajumu, Gis. Itu tasmu ada di sofa." Tutur Bobby.
"Iya." Giska pun beranjak bangun, lalu segera mengambil pakaian yang ada di tas nya. Lalu ia pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya, sekalian berganti baju.
Bobby pun sama, ia juga segera memakai celana nya kembali. Barulah ia membuka pintu kamar nya.
Ceklekk...
__ADS_1
"Tia!" Bobby terkejut melihat Tia di depan pintu kamar nya.
"Kau disini?" tanya Bobby.
Tia pun menatap Bobby kesal, ia pun melipat tangan nya di depan dada. "Iya, aku di sini. Kenapa lama sekali membuka pintunya? Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Tia selidik. Ia pun melongok ke dalam kamar, di lihatnya sprei nya berantakan, dan ada handuk tergeletak di lantai, tapi ia tak melihat ada Giska di sana.
"Dimana dia?" tanya Tia kembali.
"Kamar mandi." Jawab Bobby.
Tia menghembuskan napasnya kasar, tergambar rasa ketidaksukaan di wajahnya. "Ajik dan Ibu sudah menunggu di depan." Ucap nya, kemudian ia berlalu pergi dari kamar Bobby.
Setelah Tia pergi, Giska pun nampak keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian lengkap. Ia juga sudah merapikan rambutnya. Ia pun berjalan menghampiri Bobby yang masih berdiri di ambang pintu.
"Apa itu, Ibu?" tanya Giska.
"Bukan."
"Lalu siapa?"
"Hmmm, ayo kita keluar sekarang." Bobby pun menggandeng tangan Giska. Ia pun membawa Giska menemui orang tua nya.
.
.
.
Bersambung...
Maaf ya kalau selalu telat..
Maaf juga belum feedback๐
__ADS_1
Beberapa hari ini lagi banyak kegiatan๐