
Bobby memilih masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam, daripada harus terus berdebat dengan Tia. Perdebatan yang seharusnya tidak terjadi.
Sementara Tia, ia terus saja berteriak-teriak di depan pintu kamar. Ia terus saja meminta Bobby agar mau membuka pintu kamar nya.
"Cukup Tia! pergila! Biarkan aku istirahat dulu. Kau jangan membuat kepalaku semakin pusing!" teriak Bobby dari dalam.
"Buka pintu nya, Pa. Aku janji tak akan mengajakmu berdebat lagi." Pinta Tia.
"Sudahlah! biarkan aku bisa istirahat." Sahut Bobby.
"Sial! Bobby sudah semakin berubah sekarang ini. Sikapnya semakin ketus padaku, semenjak dia menikahi wanita penggoda itu." Gerutu Tia.
"Aku pasti akan membuat Bobby secepatnya menceraikan wanita itu. Lihat saja nanti." Tia tersenyum penuh arti.
Di dalam kamar.
Bobby mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di dalam kamar nya. Ia duduk sembari memijit pelipisnya dengan kedua tangan nya.
"Giska... Andai saja aku mengenalmu sejak dulu. Tak akan ku biarkan kau sampai menjalani pekerjaan kotor itu." Gumam Bobby lirih.
Bobby menghembuskan napas nya dengan kasar, "Aku sangat membenci wanita yang seperti itu. Wanita yang rela menjual kehormatannya hanya demi mendapatkan uang. Meskipun sejak awal aku sudah mengetahuinya, tetapi, kenapa aku sangat ingin menikahinya. Bahkan saat ini, setelah aku menjadi suaminya, hatiku terasa sakit saat dia mengatakan semua masa lalunya. Kenapa aku merasa tak bisa menerima ini semua?"
Tokk... Tokk... Tokk...
"Pa..." Panggil Tia.
"Ada apa lagi sih, Tia!" Sahut Bobby dari dalam.
"Buka pintunya. Ada Ibu dan Ajik ( Bapak ) di depan. Mereka menanyakanmu." Jawab Tia.
Ceklek...
"Dimana mereka?" tanya Bobby setelah ia membuka pintu kamar nya.
"Ada di depan."
Bobby pun pergi menemui orang tua nya, dengan di ikuti Tia yang berjalan mengekori Bobby.
"Ibu, Ajik... Tumben kalian kemari?" tanya Bobby. Kemudian, ia mendaratkan bokongnya di kursi.
"Kok nanya nya begitu sih, Pa." Tia menarik lengan Bobby.
"Kau tidak senang ya, jika Ajik dan Ibu datang kemari?" Astuti ( Ibu Bobby ) menatap tajam ke arah Bobby.
"Bukan seperti itu, Bu. Bobby sangat senang malah." Bobby tersenyum.
"Benar, Bu, Ajik. Bobby tidak bermaksud seperti itu. Malah Bobby sangat senang jika kalian kemari." Tia ikut bersuara. Ia berbicara sangat manis, sembari tangan nya terus merangkul lengan Bobby.
__ADS_1
"Ya, kalau saja kau tidak senang kami kemari. Ibu getok kepalamu, nanti!" seru Astuti.
"Bu, masa kepala anaknya mau di getok? jangan lah, Bu. Punya anak cuma 1. Jangan ya, Bu." Gung De ( Ajik Bobby ) menimpali.
"Iya tu, masa kepala Bobby mau di getok?" ucap Bobby sembari memegangi kepalanya.
Astuti pun hanya menatap Bobby datar.
"Hmm, Bagaimana Tia, apa kau sudah ada tanda-tanda hamil?" Astuti mengubah topik pembicaraan nya.
Bobby dan Tia seketika menjadi terdiam. Bahkan terlihat jelas raut wajah Tia menjadi kesal.
"Bu, jangan terus-terusan menanyakan hal ini kepada anak dan menantu kita." Tegur Gung De. Gung De bisa melihat bahwa anak dan menantunya tak suka jika selalu di tanyai tentang hal ini.
"Kenapa sih, Jik? biarkan saja. Ibu hanya ingin segera mempunyai cucu. Apa Ibu salah?" jawab Astuti.
"Mereka berdua juga sudah cukup lama menikah. Sudah 5 tahun, bukan?" Astuti berucap kembali.
"Bu!" seru Gung De.
"Ajik, Ibu. Kenapa malah ribut sih?" Bobby bersuara.
"Tia, sudah ada tanda-tanda apa belum?" Astuti kembali bertanya.
"Belum, Bu." Jawab Tia singkat.
"Ibu heran dengan kalian berdua. Apa kalian tidak ingin memiliki anak? kenapa sampai sekarang kalian masih terlihat santai-santai saja!" kesal Astuti.
"Siapa yang tidak ingin memiliki anak, Bu. Aku sangat ingin, Bu. Hanya saja, Tuhan masih belum mempercayai kita untuk memiliki anak." Ujar Bobby.
"Iya, Bu. Bobby benar. Kami juga ingin segera memiliki anak. Tapi ya mau bagaimana lagi jika Tuhan belum memberikannya." Tia ikut bersuara.
"Bagaimana bisa memiliki anak? jika anak kalian saja tak bisa menyelesaikannya." Batin Tia.
"Kalian jangan terlalu memikirkan ucapan Ibu. Fokus saja sama kehidupan kalian saat ini." Tutur Gung De.
Ini bukan pertama kalinya Astuti membahas tentang hal ini. Sudah kesekian kalinya, dari awal Bobby dan Tia menikah, sampai saat ini. Astuti selalu saja membahasnya.
***
"Bob, mumpung kita lagi berdua saja. Ada yang Ibu ingin katakan padamu." Ucap Astuti.
"Tentang apa, Bu?"
"Bob, kemarin Ibu melihat istrimu masuk ke hotel Aston bersama seorang pria. Apa kau sudah tau tentang ini?"
Deg...
__ADS_1
"Emm, Ibu salah lihat kali. Mana mungkin Tia ke hotel bersama pria lain."
"Meskipun Ibu sudah tua, tapi mata Ibu masih tajam, Bob. Ibu tidak mungkin salah lihat." Ucap Astuti dengan penuh keyakinan.
"Seharian kemarin, Tia bersamaku, Bu. Wanita yang Ibu lihat itu pasti orang lain." Bobby berusaha meyakinkan Ibu nya.
"Benarkah?"
Bobby mengangguk, "Iya."
"Syukurlah kalau memang benar Tia tidak ke hotel bersama pria lain. Ibu harap, pernikahanmu baik-baik saja. Ibu berharap, semua pemikiran Ibu terhadap Tia selama ini, salah." Tutur astuti.
"Maafkan aku, Bu. Mungkin memang benar, jika Tia pergi ke hotel itu. Tapi, aku tidak mau, Ibu sampai melihat nya. Maafkan anakmu ini, Bu." Batin Bobby. Ia merasa bersalah karena sudah tak jujur kepada Ibunya.
Ya, Bobby tau, Ibunya tidak mungkin salah lihat. Ia sengaja mengatakan kebohongan, jika seharian Tia bersamanya, karena Bobby tak ingin Ibu nya mengetahui rahasia yang ia tutupi selama ini. Bobby memang sudah mengetahui semua yang Tia lakukan di belakang nya.
Sejak awal memang Ibu nya sudah tidak menyukai Tia, bahkan Astuti sempat menentang pernikahan Tia dan Bobby. Ibu nya mempunyai feeling, jika Tia bukanlah wanita baik. Namun, Bobby tak mendengarkan nya. Ia melakukan segala hal, untuk membuat Ibu nya percaya, jika Tia adalah wanita yang tepat untuk nya. Sampai akhir nya, menikahlah mereka.
Bobby dan Tia menikah 5 tahun yang lalu, selama 1 tahun pernikahan mereka, Bobby benar-benar menggilai Tia. Bahkan Tia sudah menjadi candu untuk nya. Setiap hari ia dan Tia tak pernah absen bermain di atas ranjang, mungkin berhenti hanya sesekali, di saat Tia sedang datang bulan.
Namun, saat malam perayaan 1 tahun pernikahan mereka, Bobby malah memergoki Tia sedang tidur dengan pria lain. Sejak saat itu lah, hubungan ranjang mereka mulai berubah, hingga sampai saat ini. Itulah yang
membuat Bobby tiba-tiba kehilangan nafsu nya terhadap Tia. Setiap mereka tengah bercinta, bayangan Tia tengah bercinta dengan pria lain selalu muncul di pikiran Bobby. Bayangan itu seolah menari-nari di kepala Bobby. Dan itu membuat milik Bobby melemas seketika. Anehnya, meskipun Tia berusaha memancingnya dengan segala cara yang ter hot sekalipun, milik Bobby tak mau bangun lagi.
"Sedang membahas apa sih? serius sekali sepertinya?" Tia tiba-tiba datang.
"Emm, Tia, kau temanilah Ibu mengobrol. Aku ingin istirahat sebentar di kamar." Bobby mengabaikan pertanyaan Tia.
Tia mengangguk, menginyakan nya.
"Bu, bersama Tia dulu ya. Bobby sedikit lelah, Bobby ingin istirahat sebentar."
"Ya, Bob."
***
Di tempat lain.
Giska duduk berdua dengan Trias, di dalam rumah. Ya, beberapa menit yang lalu, Trias kembali datang ke rumah.
Saat datang tadi, mata Trias terlihat sembab seperti habis menangis. Giska pun menanyakan, kenapa Trias sampai menangis. Trias pun langsung menceritakan semua nya tanpa ragu.
Mendengar cerita Trias, Giska seolah melupakan kesedihan nya sendiri, akan kejadian pahit yang dulu menimpanya, serta ucapan Bobby yang tadi siang. Giska merasa apa yang Trias alami, jauh lebih buruk di banding diri nya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...