
"Emm, Gis, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Ya, tentang apa?"
Drttt.... Drtttt... Drttt...
Ponsel Bobby, kembali berdering.
"Jawab saja dulu. Sepertinya itu panggilan penting."
"Lupakan tentang panggilan ini." Bobby pun masih tetap mengabaikan panggilan itu.
"Jawablah pertanyaanku dengan jujur. Kenapa di usiamu yang masih sangat muda ini, kau sudah bekerja seperti itu?" Bobby terlihat sangat serius. Ia menatap Giska, seolah ia ingin segera mengetahui segalanya.
"Kenapa dia menanyakan hal yang dia sendiri sudah tau jawaban nya?" pikir Giska.
"Ya, karena ingin mendapatkan uang lah. Siapapun juga kalau bekerja, pasti ingin mendapatkan uang." Jawab Giska.
"Ohh, jadi semua ini karena uang? Hanya demi uang, kau sampai melakukan pekerjaan kotor itu?" Bobby menaikkan sebelah alisnya. Ia menatap Giska semakin tajam. Entah kenapa, ia seolah tak terima, hanya karena uang, istrinya sampai rela menjual tubuhnya, dan membiarkan tubuhnya di sentuh oleh banyak pria.
"Iya."
"Aku hanyalah berasal dari keluarga yang kurang mampu. Itu sebabnya, aku bekerja agar bisa mendapatkan uang. Lagipula, setauku, bukankah semua orang, entah itu kaya atau miskin, mereka bekerja juga sama-sama ingin mendapatkan uang?"
"Aku hanyalah lulusan SMP, jadi sangat susah untuk mendapatkan pekerjaan di sini. Lagipula, apa salahnya bekerja seperti itu?" Jawab Giska sedikit kesal. Ia kesal karena Bobby menganggap rendah pekerjaan nya. Bekerja di warung bakso saja, Bobby sudah merendahkannya. Apalagi jika Bobby tau, Giska juga pernah menjadi pembantu, bisa-bisa ia hanya di anggap sampah oleh Bobby.
Giska mengira, jika Bobby meremehkan pekerjaan nya yang hanya sebagai pegawai di warung bakso yang masih baru merintis. Ia tidak menangkap maksud Bobby yang sebenarnya.
"Astaga... Masih banyak pekerjaan yang baik, Gis. Kenapa kau harus mengambil langkah yang salah seperti itu? Apa kau tak memikirkan masa depanmu? Karena pekerjaanmu itu, kau jadi merusak masa depan mu sendiri!" geram Bobby.
"Tidak ada yang salah dengan pekerjaanku! Masa depanku juga sudah hancur, di tambah lagi aku terpaksa harus menikah dengan mu!" suara Giska terdengar tinggi. Bahkan, urat di wajah dan lehernya sampai terlihat.
"Ckc, jadi kau menuduhku yang sudah menghancurkan masa depanmu?" Tersungging senyum sinis di sudut bibir Bobby.
"Aku tidak pernah memaksamu. Aku hanya menawarkannya saja. Lagipula jika kau tidak mau menikah denganku, aku tak akan rugi. Bukankah kau sendiri lah yang setuju menikah denganku, dan kau meminta uang sebagai gantinya. Itu artinya, kau sendirilah yang menukar diri dengan uang itu!" Ucap Bobby dengan sangat emosi.
__ADS_1
Duarrrrrr....
Bagaikan tersambar petir, Giska benar-benar terkejut mendengar ucapan Bobby yang sudah sangat menghina dan merendahkannya. Hatinya sakit sekali. Mungkin ini adalah sakit yang ke 2 kali nya yang Giska rasakan. Pertama, Bram lah yang sudah sangat menyakiti hatinya, tubuhnya, bahkan bukan hanya itu saja, Bram juga telah membuat mental Giska hancur. Dan sekarang, Bobby malah menambahkan luka di hatinya, dengan menghina Giska serendah ini.
"Ya. Kau benar. Aku memang wanita miskin, rendahan. Aku melakukan semuanya hanya demi uang. Aku mau menikah denganmu juga hanya demi mendapatkan uang yang banyak!" Teriak Giska dengan lantangnya. Kemudian, ia pun berlari masuk ke dalam kamar, dan langsung mengunci pintu kamar itu dari dalam.
"Hiikssss, hikssss... Kenapa semua selalu menyakitiku. Apa kesalahanku? kenapa aku selalu saja di rendahkan seperti ini. Pertama Bapakku sendiri yang menyakitiku, dan sekarang, suamiku sendiri juga menyakitiku." Giska menangis, terduduk di lantai, bersandarkan pintu kamar nya.
"Kenapa dia mau menikahi wanita miskin dan rendahan sepertiku? Apa dia menikahiku hanya untuk memuaskan nafsu nya saja?" Giska tersenyum miris, "Bukankah dia juga memiliki istri yang cantik, tapi kenapa dia selalu meniduriku? bahkan dia sampai melakukannya berulang kali. Berarti memang benar, jika dia hanya ingin aku memuaskan nafsu nya saja." Giska duduk sembari memeluk lututnya sendiri, ia terus menangis, meratapi kepedihan hatinya. Bayangan-bayangan kepahitan yang pernah ia alami, seolah muncul kembali, sehingga ia menjadi semakin terpuruk.
Sementara di luar, Bobby yang tengah kesal, ia memutuskan untuk pergi dari rumah. Ia masuk ke dalam mobil nya, dan langsung melenggang pergi dari perumahan itu dengan mobil nya.
"Shittt!" Bobby mengumpat.
"Dasar wanita tidak tau diri! sudah untung aku mau menikahinya, meskipun aku tau masa lalu nya. Tapi apa balasan nya, dia malah menuduhku telah menghancurkan masa depan nya. Dimana pikirannya itu?" kesal Bobby.
"Ckc, sudah berapa pria yang sudah menidurinya? semua wanita memang sama saja. Tak bisa membiarkan hanya 1 pria saja yang boleh menyentuh nya." Bobby berdecak kesal.
Drttt... Drttt... Drrtttt...
Ponsel Bobby kembali berdering.
Baru saja Bobby menempelkan ponsel di depan telinganya. Bobby malah di suguhkan dengan ocehan Tia.
"Diamlah! aku akan pulang sekarang."
Tutt... Bobby mengakhiri panggilan nya.
***
"Dari mana saja, sampai semalam tidak pulang ke rumah?" tanya Tia, sesaat Bobby baru akan memasuki rumah.
"Dari rumah Giska." Jawab Bobby jujur.
"Gadis itu lagi? Kenapa selalu menginap di sana sih?" kesal Tia.
__ADS_1
"Aku tidak suka kau terus-terusan berada di sana. Harusnya kau pulang kerumah ini, Pa!" seru Tia.
"Aku kira semalam kau tak akan pulang ke rumah, jadi ya aku pergi ke rumah Giska. Lagipula tumben, kau sampai marah seperti ini saat aku tak pulang ke rumah? padahal biasanya, kau tak pernah seperti ini?" Ucap Bobby.
"Aku ini istrimu, Pa. Wajar jika aku seperti ini." Tia membela diri.
"Sudahlah, Tia. Kau jangan mengajakku berdebat. Aku lelah!" Bobby pun menerobos masuk ke dalam rumah.
"Kau lelah? Kau melakukan apa sampai kau kelelahan?" Tia berjalan mengekori Bobby.
Bobby pun seketika berhenti dan berbalik menghadap Tia. "Apa kau serius dengan pertanyaanmu? Aku rasa kau juga sudah mengetahui jawaban nya." Jawab nya, kemudian ia pun kembali berjalan menuju kamar nya.
"Tunggu dulu!" Tia menarik lengan Bobby.
"Itu artinya, kau sudah bisa kembali seperti dulu?" tanya Tia.
"Belum." Bohong Bobby.
"Aku minta, segera akhiri pernikahan itu! kalau bisa kau ceraikan dia sekarang juga!" Ucap Tia.
"Apa kau gila! kami baru 2 hari menikah, dan kau menyuruhku menceraikan nya?"
"Kau yang gila, Pa. Kau sudah menyakitiku dengan menikahi wanita lain. Istri mana yang mau berbagi suami? Apalagi kau sampai tidur dengan wanita itu. Hatiku sakit, Pa." kesal Tia.
"Ada apa denganmu, Tia? dari awal kau sendiri yang meragukanku, dan kau sendiri yang menyuruhku mencari wanita lain. Kenapa kau jadi seperti ini?"
"Aku tidak serius dengan ucapanku waktu itu Pa. Saat itu aku hanya sedang kesal saja. Harusnya kau bisa tau, jika semua ucapanku itu tidak serius! tetapi kau malah menganggap nya serius, dan sekarang kau menyakitiku!"
"Meskipun kau menikahinya hanya karena ingin membuktikan kesehatanmu, tapi, setelah ku pikir-pikir, aku tidak rela jika kau tidur dengan wanita itu!"
"Ceraikan dia sekarang juga! Dia juga tak berguna untukmu, jadi kau tidak perlu meneruskan kesepakatan kita saat di awal kau ingin menikahinya!" cerocos Tia.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...