Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Menyusun Rencana


__ADS_3

"Tia, kau sudah bangun?" tanya Bobby. Ia baru saja masuk kamar. Di tangannya ada susu hangat dan juga roti bakar untuk Tia.


Tia pun tersenyum. Ia kemudian bangun lalu ia duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Bagaimana keadaanmu? Apa perutmu masih sakit?" tanya Bobby sembari meletakkan roti dan juga susu di meja. Kemudian ia duduk di dekat Tia.


"Sudah tidak, Pa." Tia menjawab.


"Emmm, semalam----" Tia ingin bertanya pada Bobby namun ia merasa ragu.


"Maaf semalam aku terlambat pulang. Aku berusaha mencari pesananmu. Tapi aku tak bisa mendapatkannya," ucap Bobby.


"Ahh syukurlah. Sepertinya Roy sudah pergi sebelum Bobby pulang," batin Tia merasa lega. Karena ia mengira Bobby tak mengetahui kedatangan Roy ke sini.


"Iya tidak apa-apa, Pa. Semalam itu aku menunggumu sampai aku tertidur, Pa," ucap Tia.


"Iya, maafkan aku ya." Bobby kembali meminta maaf pada Tia.


"Sepertinya Tia mengira aku tak tau jika Roy semalam ke sini. Bahkan Roy sampai masuk ke kamarku ini," batin Bobby.


"Biarkan saja lah dia berpikir seperti itu. Aku juga tak akan membahasnya. Aku khawatir kalau aku membahas Roy di depan Tia, dia jadi tersinggung nanti. Apalagi dia sedang hamil. Hatinya menjadi sangat sensitiv," batinnya lagi.


"Aku mau memaafkanmu, Pa. Asal kau suapi aku makan," ujar Tia.


"Aku mau seharian ini kita berduaan saja. Ehhm maksud aku, bertiga dengan baby di perutku ini," pinta Tia dengan sangat manja.


"Iya aku akan menyuapimu. Tapi kalau untuk menghabiskan waktu bersama hari ini, aku rasa tidak bisa." Bobby berucap sangat hati-hati.


Tia pun langsung menyipitkan kedua matanya. "Kenapa? Apa kau ingin menghabiskan waktumu bersama Giska?" tanya Tia tak suka.


"Sebenarnya yang hamil itu siapa? Aku atau Giska?" Tia mulai kesal.


"Tia, dengar dulu---" Bobby berusaha menjelaskan pada Tia. Namun Tia malah langsung memotongnya.


"Aku yang hamil bukan Giska, Pa!" seru Tia langsung.


"Pegang ini perutku!" Tia menarik tangan Bobby dan membawanya ke perut buncitnya.


"Ada anakmu di sini," ucap Tia kemudian.


"Iya aku tau, Tia. Kau memang sedang hamil. Kau istriku dan Giska juga istriku. Saat ini, Giska sedang membutuhkanku, Tia." Bobby menjelaskan.


"Apa hanya Giska saja yang membutuhkanmu? Apa aku tidak membutuhkanmu?" Tia bertambah kesal.


"Semalam kau sudah menemaninya kan? Apa sekarang kau ingin meninggalkanku lagi lalu kau pergi menemui Giska?"


"Kalian berdua pasti sama-sama membutuhkanku. Tapi kali ini berbeda, Tia." Bobby masih berusaha membujuk Tia.


"Aku tidak mau tau! Kalau kau mau pergi ya sudah, sana pergi saja! Tapi setelah kau pergi, aku tidak akan makan apapun!" ancam Tia.

__ADS_1


"Jangan seperti ini. Ingat, ada baby di dalam perutmu. Kau harus makan agar babynu sehat," tutur Bobby sembari membelai rambut Tia.


"Biarkan saja. Ini semua karena kau sendiri," ucap Tia kesal.


"Nak, Papamu memang tidak menyayangi kita berdua. Dia lebih sayang pada istri mudanya," adu Tia pada bayu dalam perutnya. Tia mengusap perutnya sendiri sambil mengadukan kelakuan Bobby.


"Hey! Tidak seperti itu." Bobby protes.


"Jangan dengarkan Mamamu, Nak. Papa sangat menyayangimu," ucap Bobby sembari mengusap perut Tia.


"Sudah jangan marah-marah terus, Tia." Bobby beralih menasehati Tia.


"Aku akan menyuapimu makan. Ayo buka mulutmu!" pinta Bobby sembari ia mengambil roti bakar dari atas meja.


"Aku tidak mau makan!" tolak Tia. Ia memalingkan wajahnya.


"Aku tidak pergi. Sekarang ayo makanlah!"


"Sungguh? Kau akan di sini bersamaku, Pa?"


"Iya, ayo sekarang makanlah."


Tia pun menganggukkan kepalanya. Lalu ia pun langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Bobby.


°°°


Usai menyuapi Tia makan, Bobby pun keluar dari kamarnya. Ia lalu menemui ibu dan ajiknya yang baru saja datang ke rumah.


"Tapi Tia tidak mengizinkanku pergi. Aku bingung harus bagaimana," sahut Bobby sembari menjatuhkan bokongnya di sofa.


"Kenapa dia tidak mengizinkanmu?" tanya Astuti.


"Tia ingin aku menemaninya di sini, Bu," jawab Bobby.


"Aku ingin menyusul Giska ke Surabaya. Aku harusnya bisa menemaninya saat ini. Tapi bagaimana? Tia tidak membiarkanku pergi, Bu, Ajik," ucap Bobby.


"Biar Ibu coba bicara pada Tia, Bob." Astuti hendak bangun dari duduknya.


"Tidak perlu, Bu. Aku rasa, aku memang harus pergi menyusul Giska meski tanpa izin dari Tia. Aku tau ini akan membuat Tia kesal. Tapi mau bagaimana lagi, Bu. Giska saat lebih membutuhkanku daripada Tia," putus Bobby.


"Aku mau minta tolong sama Ibu dan Ajik untuk menjaga Tia di sini, selama aku pergi ke Surabaya," pinta Bobby pada kedua orangtuanya.


"Iyaa, subuh tadi juga kau sudah mengatakan ini pada Ibu," sahut Astuti.


"Iya, Ajik dan Ibu akan menjaga Tia. Kau tenang saja, Bob. Segeralah pergi menyusul Giska, Bob. Mumpung masih pagi," tutur Gung De.


"Iya, Ajik benar. Aku akan bersiap dulu." Arslan bangun dari duduknya lalu ia melenggang pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke Surabaya.


°°°

__ADS_1


"Papa mau pergi? Kau bilang mau menemaniku seharian di rumah. Tapi ini apa buktinya?" tanya Tia saat Bobby bersiap-siap di kamarnya.


"Iya, aku hanya pergi sebentar. Aku harus ke bengkel. Ada pekerjaan sedikit di sana," kilah Bobby. Ia terpaksa berbohong pada Tia.


"Suruh saja pegawaimu yang urus. Kau tidak usah pergi!" pinta Tia dengan suara merengek.


"Tidak bisa, Tia. Hanya sebentar saja kok. Nanti setelah urusan selesai, aku akan menemanimu. Lagipula di depan ada ibu dan ajik. Sementara aku pergi, ajik dan ibu akan menemanimu di sini," tutur Bobby.


"Ya sudah pergilah. Tapi janji ya, hanya sebentar saja. Setelah itu kau harus langsung pulang!"


"Iya. Baiklah, aku pergi dulu. Jaga dirimu dan bayimu kita baik-baik ya!" pesan Bobby.


Tia pun langsung mengangguk.


Bobby pun melenggang pergi keluar dari kamar.


"Untung saja Tia percaya," batin Bobby lega.


Namun kelegaannya itu hanya terjadi sementara saja. Pasalnya saat ia baru beberapa langkah melangkah dari luar pintu kamarnya, tiba-tiba saja terdengar teriakan Tia dari dalam kamarnya.


Akkkkhhhhhh!!!


"Tia!" Sontak Bobby langsung kembali masuk ke dalam kamarnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Tia sudah duduk dilantai sambil memegangi perutnya.


Terlihat jelas Tia sedang kesakitan.


"Tia!" Bobby pun berlari menghampiri Tia. Ia lalu membopong Tia lalu segera merebahkan tubuh Tia di kasur.


"Kau kenapa, Tia?"


"Perutku sakit!" rintih Tia sembari memegangi perutnya.


"Kita ke dokter sekarang!" Bobby pun kembali membopong Tia. Lalu ia segera membawa Tia keluar dari kamar.


"Lho, Bob! Kenapa ini?" Astuti dan Gung De pun ikutan panik ketika melihat Tia di gendong oleh Bobby.


"Perutnya sakit, Bu. Aku akan membawanya ke rumah sakit," jawab Bobby sambil berjalan cepat menuju keluar rumah.


"Oke, Ajik sama Ibu ikut." Gung De dan Astuti pun ikut menyusul Bobby.


"Maafkan Mama, Nak. Mama terpaksa menggunakanmu sebagai alasan agar Papamu tak menyusul Giska ke Surabaya," batin Tia sedikit menyesal. Karena ia telah menggunakan anaknya yang masih di dalam perutnya hanya untuk menghalangi Bobby pergi.


Ya, ia sudah mendengar semua pembicaraan antara Bobby dan orang tuanya. Ia pun menyusun rencana untuk mengahalangi Bobby pergi namun sebisa mungkin, ia jangan sampai terlihat buruk di mata Bobby dan kedua orangtuanya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2