
Bobby, Tia dan kedua orang tua Bobby baru saja sampai di rumah sakit Kasih Ibu. Bobby merasa sangat panik mendengar Tia terus merintih sejak tadi. Ia pun langsung berteriak memanggil dokter yang berjaga di sana.
"Dokter! Tolong istri saya!" teriak Bobby.
"Jangan teriak-teriak, Bob! Ini rumah sakit bukan hutan!" tegur Gung De.
"Jik, ini Tia kesakitan," jawab Bobby masih dengan suara paniknya.
"Dokter!" Lagi-lagi ia berteriak memanggil dokter.
Selang tak lama ada seorang perawat yang menghampiri Bobby dan keluarganya. Perawat itu pun meminta Bobby agar membawa Tia masuk ke ruang UGD.
"Silahkan ke UGD, Pak. Sebentar lagi dokternya akan datang," tutur perawat itu dengan ramah.
"Baik. Tolong segera ya, Sus!" pinta Bobby. Kemudian ia pun langsung membawa Tia ke ruang UGD.
Selang tak lama, dokter pun datang. Dokter hendak memeriksa keadaan Tia. Namun sebelum itu, dokter meminta Bobby untuk menunggu di luar.
"Silahkan tunggu di luar, Pak."
"Baik, Dok. Tolong segera periksa istri saya." Bobby meminta.
"Pasti, Pak. Silahkan anda keluar."
Bobby pun langsung keluar dari ruangan UGD itu.
"Bagaimana, Bob? Apa kata dokter?" tanya Astuti pada Bobby yang baru saja keluar dari ruanh UGD.
"Kandungannya baik-baik saja kan?" tanyanya lagi.
"Aku belum tau, Bu. Dokter masih memeriksanya," jawab Bobby.
Bobby terlihat sangat cemas memikirkan Tia dan bayi yang ada di dalam perutnya. Bayi itu sudah ia nantikan sejak lama. Ia takut jika terjadi apa-apa dengan bayi itu nantinya.
"Jangan cemas, Bob. Kita berdoa saja, semoga Tia dan janinya baik-baik saja," tutur Gung De sembari menepuk bahu Bobby.
"Iya, Jik."
Jeglek...
Dokter yang memeriksa Tia, baru saja keluar.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?" tanya Bobby langsung.
"Istri anda baik-baik saja. Janinnya juga baik-baik saja," jawab dokter itu ramah.
"Tapi tadi kenapa istri saya kesakitan ya, Dok?" tanya Bobby lagi.
"Tadi istri anda mengalami kontraksi, Pak. Itu wajar terjadi pada ibu-ibu hamil. Tetapi jika kontraksi terjadi sangat sering atau bahkan terasa sangat sakit, itu harus segera di tangani oleh dokter, Pak." Dokter itu memberi penjelasan.
"Apa itu tidak bahaya, Dok?" tanya Bobby.
"Seperti yang saya jelaskan tadi. Jika terjadi terlalu sering dan rasa sakitnya berlebihan, itu bisa bahaya. Makanya harus segera di tangani oleh dokter," jelas dokter itu.
"Lalu bagaimana cara mencegahnya, Dok?" tanya Bobby.
__ADS_1
"Istri anda harus banyak istirahat, jangan terlalu stres," tutur dokter.
"Baik, Dok."
°°°
Bobby dan kedua orang tuanya tengah fokus mengurus Tia di rumah sakit. Sebenarnya dokter sudah memberikan izin kalau Tia sudah boleh pulang karena kondisinya tak ada yang perlu di khawatirkan. Namun entah kenapa, Tia tiba-tiba mengeluh bahwa perutnya terasa sakit lagi. Dan akhirnya, dokter pun memutuskan untuk Tia menjalani rawat inap di rumah sakit ini.
Sejak pagi tadi hingga hari sudah mulai siang. Bobby di sibukkan dengan mengurus Tia. Ia bahkan tak sempat menelpon Giska sama sekali. Padahal pagi ini ia berencana ingin menyusul Giska tetapi karena keadaan ini, ia jadi belum bisa menyusul Giska ke Surabaya.
Jangankan menyusul, menelpon saja ia tak bisa. Pasalnya sejak tadi ada saja yang Tia inginkan dari Bobby. Tia sama sekali tak membiarkan Bobby bisa menelpon Giska.
Dan Bobby pun tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan Tia. Karena ia teringat akan kata-kata dokter yang mengatakan bahwa Tia tak boleh terlalu stres. Karena kondisi ibu yang buruk bisa saja berpengaruh pada kondisi sang janin.
"Tia, apa kau tak ingin tidur?" tanya Bobby pada Tia.
Tia langsung menggelengkan kepalanya. Lalu ia menjawab, "Tidak, Pa."
"Kenapa sejak tadi kau bertanya seperti itu? Apa kau ingin aku tidur lalu kau mau pergi meninggalkanku?" selidik Tia.
"Siapa yang ingin meninggalkanmu? Aku hanya lapar saja. Sejak tadi aku belum makan apapun," ucap Bobby.
"Kenapa sampai tak makan, Pa? Bagaimana kalau kau sakit juga nanti?" cemas Tia.
"Ya bagaimana aku mau makan? Sejak tadi kau tak membiarkanku keluar dari kamarmu ini. Padahal kan dan ibu dan ajik. Mereka bisa menjagamu sebentar saat aku makan di luar. Tapi kau tak mau," ungkap Bobby.
"Ya justru itu, ada ajik dan ibu. Kau kan bisa minta tolong mereka untuk membelikanmu makan. Lalu kau bisa makan di sini, Pa," ujar Tia.
Ceklekk!
Pintu terbuka. Masuklah Astuti dan Gung De ke kamar Tia.
"Sudah, Bob. Pergilah makan!" perintah Gung De.
"Tapi aku maunya sama Bobby, Bu, Ajik. Aku mau dia tetap di sini." Tia merengek.
"Ya tak apa, Bu. Ibu dan Ajik pulang saja. Biar aku saja yang menemani Tia di sini," ujar Bobby.
"Tia... Ibu tau kau saat ini sedang hamil. Tapi jangan suka mengatasnamakan anakmu yang belum lahir hanya untuk menahan Bobby di sini," tutur Astuti pada Tia.
"Maksud Ibu?" tanya Tia.
Bobby pun ikut bertanya. "Kenapa bicara seperti itu, Bu?" tanyanya.
"Ibu tadi sudah bicara pada dokter. Sebenarnya Tia ini tidak apa-apa. Kondisinya juga bagus. Jadi tak perlu ada yang di khawatirkan lagi," ungkap Astuti.
Wajah Tia seketika langsung berubah. Ia bak maling yang baru saja tertangkap basah.
Sementara Bobby, ia pun menjadi paham sekarang. Dan tanpa berkata apapun, Bobby lansung pergi keluar dari kamar Tia.
"Paa! Mau kemana?" Tia masih berani bertanya.
"Biarkan saja Bobby keluar sebentar. Berikan dia waktu untuk makan, Tia. Biarkan dia juga bisa menghubungi Giska," tutur Astuti.
"Kalian berdua sama-sama istri Bobby." Astuti pun mulai menasehati Tia.
__ADS_1
°°°
Di luar kamar, Bobby langsung berusaha menghubungi Giska.
Tutt..
Tutt...
Nomor yang anda tuju tidak menjawab panggilan ini. Silahkan mencoba beberapa saat lagi.
Sudah berulang kali Bobby menghubungi Giska namun jawabannya pun tetap sama. Yaitu jawaban dari operator yang mengatakan panggilan tidak dijawab.
"Giska, kenapa kau tak menjawab telpon dariku? Aku sangat mencemaskanmu, Gis. Kenapa kau tak mau mengerti." Bobby bergumam.
"Kenapa istriku tak ada yang mau mengerti aku!" gerutu Bobby sembari menjambak rambutnya sendiri. Pikirannya saat ini benar-benar kacau. Di satu sisi ada Tia yang berusaha mengahalanginya dengan mengkambing hitamkan bayi yang bahkan belum terlahir dan di sisi lain, Giska sama sekali tak merespon panggilannya.
***
Di tempat lain...
"Maafkan aku, Bli Bobby. Untuk saat ini aku belum siap bicara denganmu," gumam Giska lirih. Ia pun langsung membuat ponselnya dalam nada diam lalu ia simpan ponsel itu di kamarnya.
"Untuk saat ini, aku akan fokus dulu pada bapakku di sini," gumamnya lagi.
Usai menyimpan ponsel itu di dalam kamarnya, ia pun kembali ke kamar bapaknya karena ia akan memijat lengan dan kaki bapaknya.
Ya, Giska memang sudah tiba di rumahnya sejak 1 jam yang lalu. Kini ia memilih fokus mengurus bapaknya yang saat ini tengah sakit.
"Pak, kok tambah kurus? Bapak jarang makan ya?" tanya Giska pilu.
"Aku ini sudah sakit-sakitan, Gis. Aku di rumah sendirian. Kalau aku sakit dan sampai tak bisa bangun, seharian ya aku bisa tidak makan," jawab Bram lemas.
"Kenapa sampai tidak makan, Pak? Kan tambah sakit jadinya," sahut Dinar.
"Ya orang tidak kuat bangun. Mau masak nasi saja tidak kuat. Makanya, kau itu jangan ke Bali lagi. Kerja saja di rumah. Kalau kau ke Bali terus, nanti kalau aku meninggal tidak akan ada yang tau bagaimana?" ucap Bram lemas.
"Husstt! Jangan bicara seperti itu, Pak!" tegur Giska.
Jujur, ia merasa sedih melihat bapaknya seperti ini. Badannya kurus sekali. Rambutnya pun sudah putih semua dan juga sudah panjang. Alisnya, kumisnya, jenggotnya pun semua putih dan panjang. Ia melihat bapaknya seperti orang yang tak terurus.
Pedih hati ini melihat orang tua yang kita sayangi seperti ini. Rasa sesal pun tumbuh di hati Giska.
"Apa aku sudah salah mengambil keputusan? Aku memilih tinggal jauh dari bapak hanya demi suami yang bahkan tak bisa menepati janjinya sendiri."
"Melihat bapak seperti ini, aku rasanya tak sanggup menahan air mataku," Giska membatin sembari menahan air mata yang hendak keluar dari kedua sudut matanya.
"Maafkan anakmu ini, Pak. Maaf karena aku belum bisa melupakan kesalahan bapak sepenuhnya sampai-sampai aku meninggalkan bapak sendirian seperti ini," batinnya.
Dan, air matanya sudah tak bisa terbendung lagi. Perlahan cairan bening itu mengalir dari kedua sudut matanya. Namun ia langsung menghapusnya sebelum terlihat oleh bapaknya.
"Maafkan anakmu ini yang belum bisa membahagiakan bapak." Giska mengatakan maaf namun hanya di dalam hatinya. Ia tak bisa mengatakannya langsung pada bapaknya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...