Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Apa kau sangat merindukanku?


__ADS_3

Di hotel, Tia tengah kebingungan mencari keberadaan Bobby. Bahkan ia sudah mencarinya ke seluruh hotel itu, namun ia masih tak menemukan keberadaan Bobby. Setelah ia keliling mencari Bobby, namun tetap tak ada hasil, tiba-tiba ada salah satu petugas hotel memberitahu bahwa Bobby sudah keluar dari hotel sekitar 1 jam yang lalu.


Mendapat informasi itu, Tia pun mencoba menghubungi ponsel Bobby. Namun, sudah berulang kali ia mencoba menelpon Bobby, Bobby sama sekali tak merespon nya. Ia pun tak menyerah begitu saja, ia terus saja mencoba hingga akhirnya Bobby mau menjawab telpon nya.


"Dimana, Pa?" tanya nya langsung.


"Aku ada urusan."


"Urusan apa?" tanya Tia sedikit kesal.


"Kau sudah pasti tau urusan apa yang ku maksud, Tia. Sudahlah, tunggulah di hotel dulu. Aku akan segera kembali." Ucap Bobby. Ia pun langsung mengakhiri panggilan nya.


"Selalu saja seperti ini! Giska! Giska saja terus yang di cari!" Gerutu Tia kesal.


Tia menghela napas nya, "Hufftt, oke kita lihat sampai kapan kau akan terus mengejar Giska."


***


Di tempat lain. Usai mengakhiri panggilan telpon dengan Tia, Bobby kembali masuk ke dalam sebuah rumah sederhana tempat tinggal Bram dan Giska. Ya, beberapa saat yang lalu, tiba-tiba saja Bobby datang bertamu ke sana.


Giska yang mengetahui suami nya tiba-tiba datang kesana, ia sangat terkejut. Ia pun ketakutan, bagaimana nanti kalau Bobby sampai membuat keributan di rumah nya. Dan bagaimana jika Bobby sampai mengatakan hal sebenarnya kepada Bram. Apa yang akan terjadi setelah ini?


Andai saja ia bisa mencegah Bobby untuk tak bertemu dengan Bram. Namun, semua itu tidak bisa ia lakukan karena saat Bobby datang, Bapak nya lah yang bertemu lebih dulu dengan Bobby. Jadilah, Giska hanya bisa pasrah, menanti hal apa yang akan Bobby bicarakan dengan Bapak nya.


"Maaf, Pak, pembicaraan kita jadi tertunda." Ucap Bobby ramah, seraya mendaratkan pantat nya di kursi panjang, yang terbuat dari kayu. Saat ini, Bobby dan Bram duduk saling berhadapan. Sementara Giska, ia memilih berdiri tak jauh dari tempat duduk sang Bapak.


"Iya, tidak apa-apa. Sebenarnya, kau ini siapa? Datang kemari mau mencari siapa?" tanya Bram.


"Perkenalkan, saya Bobby. Saya datang kesini karena mau bertemu dengan Giska, putri Bapak." Ucap Bobby, di iringi senyuman ramah dari sudut bibir nya.


"Giska?" Suara Bram sedikit meninggi.


"Iya, Pak." Jawab Bobby.


"Pak, dia temanku." Sela Giska. Ia pun bicara sedikit gugup.


Bram menatap Giska sekilas, ia pun beralih menatap Bobby dengan tajam. "Kau darimana?" tanya nya kepada Bobby.


"Saya dari Bali, Pak."


"Ohhh, jadi kau lah pria itu!" Ucap Bram dengan nada tidak suka.


"Pak,--" Giska menyela, namun Bram tak membiarkan Giska bicara.


"Diam, Gis! Kau pergilah ke belakang!" Seru Bram memberikan tatapan tajam ke arah Giska..


"Tidak, Pak. Aku akan tetap di sini."


"Pak, saya mohon jangan marahi Giska." Timpal Bobby.


"Dengar! Kau pergilah dari sini! Jauhi Giska! Jangan dekati dia lagi!" Bram mengusir Bobby.


"Pak, bukannya Bapak sendiri yang bilang, kalau Bli Bobby berani datang dan bicara langsung dengan Bapak, Bapak akan mempertimbangkan semua nya. Bukankah kedatangan Bli Bobby kesini sudah membuktikan kalau dia adalah pria baik?" Giska memberanikan diri menyampaikan pendapatnya. Ia tak perduli akan rasa takutnya lagi.


"Pergilah!" Bram mengabaikan perkataan Giska. Ia pun kembali mengusir Bobby.

__ADS_1


Bobby pun beranjak berdiri, lalu mendekati Bram. "Maaf sebelumnya, Pak. Apa alasan Bapak tidak mengizinkan saya menjalin hubungan dengan Giska?" tanya nya.


Bram membuang napasnya dengan kasar, "Aku rasa usiamu jauh di atas Giska. Kau bisa dapatkan gadis lain yang cocok denganmu, dan itu bukan Giska!" Seru nya.


"Usia saya memang jauh di atas Giska, Pak. Tapi saya benar-benar mencintai putri Bapak. Saya yakin, Giska juga mencintai saya." Ucap Bobby, kemudian ia beralih menatap Giska. "Iya, kan, Gis?" tanya nya pada Giska.


Giska pun dengan menganggukkan kepalanya dengan ragu, "I-iya." Ucapnya.


Bobby pun tersenyum.


"Tidak! Kalian tidak cocok!" Seru Bram.


"Untuk apa menjalin hubungan kalau pada akhirnya kalian tidak bisa menikah? Aku tidak akan mengizinkan kalian menikah nantinya!" Seru Bram.


"Tapi, Pak, sebenarnya kita berdua sudah me,---"


"Bli!" Giska menginjak kaki Bobby. Beruntung ia menghentikan Bobby tepat waktu, kalau tidak, Bobby pasti sudah memberitahu tentang pernikahan mereka.


"Apa? kalian berdua sudah me- apa?"


"Kita berdua sudah membicarakan ini, Pak." Giska menjawab cepat.


"Kenapa Giska tidak ingin jujur tentang pernikahan kami? Bukankah ini saat yang tepat untuk mengatakan segalanya. Mungkin saja kalau Bapak tau kalau kita sudah menikah, pasti Bapak akan memberi restu nya." Batin Bobby, seraya menatap ke arah Giska.


"Bicara soal apa?" tanya Bram kembali.


"Mmmm, itu,---" Giska bingung mau menjawab apa.


"Maaf sebelumnya, Pak. Boleh saya bertanya alasan apa yang membuat Bapak tidak menyukai saya?" tanya Bobby kepada Bram.


"Bapak tenang saja, saya tidak akan meminta Giska meninggalkan Bapak seorang diri. Ini lah yang sudah kami bicarakan, setelah kami menikah, saya akan membawa Bapak ikut tinggal bersama kami, di Bali." Ucap Bobby.


"Pergilah, Gis! Tinggalkan kami berdua. Bapak ingin bicara empat mata dengan pria ini!" Perintah Bram pada Giska.


"Tapi, Pak,"


"Sudahlah, Sayang. Turuti perintah Bapak." Tutur Bobby, seraya mengulas senyuman ke arah Giska.


"Ya, sudah. Aku akan pergi." Dengan langkah berat Giska pun pergi ke belakang, untuk membiarkan suami dan Bapak nya bicara empat mata.


Setelah memastikan Giska sudah tak berada di sana, Bram dan Bobby pun mulai saling bicara. Kedua nya nampak sangat serius. Entah apa yang mereka bicarakan, sampai-sampai Giska tak boleh berada di sana.


Beberapa saat kemudian.


"Terimakasih karena Bapak mau memberi saya kesempatan untuk membuktikan keseriusan saya kepada putri Bapak." Bobby berhambur memeluk Bram. Raut wajah Bobby nampak sangat gembira. Ia pun tak henti-henti nya mengulas senyum di bibir nya.


"Ingatlah semua yang ku katakan tadi. Hanya 3 bulan, aku memberimu waktu 3 bulan." Tutur Bram seraya melepas pelukan Bobby.


"Sebenarnya jika di izinkan, saat ini pun aku siap menikahi Giska, Pak." Ucap Bobby penuh semangat.


"Tidak sekarang!" Seru Bram.


"Baiklah, Pak. Kalau begitu izinkan Giska berangkat ke Bali bersama saya." Pinta Bobby.


"Iya, tapi ingat! Kau jangan macam-macam dengan nya! Jangan melewati batasan!" Seru Bram.

__ADS_1


"Iya, Pak."


"Andai saja Bapak tau, kami bahkan sudah pernah sangat dekat, Pak. Bahkan begitu dekat sampai rasa itu terngiang-ngiang di benakku. Aku melakukan itu karena kami sudah menikah, Pak." Batin Bobby. Ingin sekali ia mengatakan segalanya saat ini juga, tetapi ia ingat akan pesan yang Giska kirimkan beberapa menit yang lalu.


"Gis... Kemarilah!" Panggil Bram sedikit teriak.


Giska yang mendengar namanya di panggil oleh Bapak nya, ia pun langsung berlari ke depan.


"Iya, Pak."


"Apa semua baik-baik saja? Kenapa Bli Bobby tersenyum seperti itu?" tanya Giska dalam hati nya, saat ia melihat Bobby tersenyum ceria ke arah nya.


"Apa kau jadi berangkat hari ini?" tanya Bram.


"Ja-jadi, Pak."


"Berangkatlah bersama Bobby." Ucap Bram dengan berat hati.


"Haa?" Giska melongo tak percaya.


"Iya, Gis. Bapak sudah mengizinkan kita berangkat bersama." Bobby menjelaskan.


"Tapi, bagaimana bisa? bukankah..."


"Ya, kau mau berangkat atau tidak? kalau tidak ya sudah. Biarkan Bobby pulang ke Bali sendiri." Ucap Bram.


"Jangan! Iya aku akan ikut bersama Bli Bobby. Sebentar aku ambil tasku dulu."


***


"Pak, aku berangkat dulu. Bapak jangan sampai telat makan. Bapak harus jaga kesehatan. Nanti kalau uang nya tinggal 50 ribu, Bapak langsung telpon saja. Aku pasti akan langsung mengirimi Bapak uang." Ucap Giska seraya berpamitan.


"Iya, ingatlah semua pesan Bapak. Jaga dirimu di sana."


"Iya, Pak." Giska pun mencium punggung tangan Bram.


"Kami berangkat ya, Pak." Kini Bobby juga berpamitan.


"Iya, hati-hati."


***


Kini Giska dan Bobby sudah berada di dalam mobil. Giska terus menatap Bobby yang tengah fokus menyetir mobil.


"Kenapa menatapku terus? Apa kau sangat merindukanku?" canda Bobby, ia melirik Giska sekilas.


"Aku hanya ingin tanya, apa yang kalian bicarakan tadi? Kenapa Bapak bisa mengizinkan kita bersama?" tanya Giska.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya terlambat terus.....🙏🙏🙏


__ADS_2