Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Sebenarnya...


__ADS_3

Giska yang melihat keributan ini, ia menjadi semakin merasa tak enak hati. Karena kehadiran nya di sini, jadi membuat suasana tak terkendali, bahkan sampai memicu keributan seperti ini. Ia pun memberanikan diri menyela pembicaraan antara suami dan istri pertama suami nya.


"Ma-maafkan, saya..."


"Cukup! Jangan pada ribut!" Seru Gung De memotong ucapan Giska. "Nanti kita semua akan bicara tentang kerumitan ini, tapi itu nanti. Sekarang, lebih baik kita makan siang dulu." Perintah Gung De, ia pun langsung beranjak bangun dari sofa, lalu berjalan menuju ruang makan. Di susul dengan Astuti yang juga mengikutinya.


Sementara Bobby, Giska dan juga Tia nampak masih duduk di tempatnya. Bobby dan Tia pun saling pandang, sementara Giska, ia memandang Tia dan Bobby secara bergantian, dengan perasaan tak enak dan juga takut.


"Kalian semua cepatlah kemari!" Panggil Gung De.


"Iya, Jik." Sahut Tia.


"Iya, Jik." Sahut Bobby.


"Iya, Jik." Sahut Giska lirih.


Ketiganya pun langsung pergi menyusul Gung De dan Astuti ke ruang makan. Tia berjalan lebih dulu, sementara Bobby, ia berjalan seraya menggandeng Giska. Giska berulang kali menolaknya, namun Bobby memaksanya dengan dalih supaya membuat kegugupan nya sedikit berkurang.


Sesampainya di meja makan, semuanya pun langsung duduk di kursi masing-masing, lalu kemudian langsung menyantap makan siang nya tanpa ada yang bicara satu patah katapun. Semua nya pun nampak lancar dan damai hingga makan siang selesai.


***


"Jadi?" Tanya Gung De.


"Bicaralah, Gis." Titah Bobby.


Giska pun mengangguk ragu, lalu ia sedikit mengangkat kepalanya agar tak terlalu menunduk. "Iya, saya masih berusia 17 tahun." Jawab Giska.


"Ceritakan bagaimana bisa kau menikah dengan Bobby, Nak!" Perintah Gung De.


"Saya minta maaf sebelumnya, sebenarnya saya tidak ingin menjadi orang ketiga di dalam pernikahan Bli Bobby dan Bu Tia. Saya tidak ingin menjadi seperti ini, meskipun saya belum pernah menikah sebelumnya, tapi saya tau betul bahwa menikahi suami orang akan membuat hati istri pertama nya terluka. Saya,---" Belum selesai Giska bicara, Tia sudah menyelanya terlebih dulu.


"Kalau sudah tau begitu, kenapa kau masih melakukannya?!" Ketus Tia kesal. Ia benar-benar menunjukkan ketidaksukaan nya kepada Giska. Ia seolah melupakan janji yang ia buat kepada kedua mertuanya, bahwa ia harus bisa berbesar hari menerima Giska. Karena bagaimana pun sekarang sudah menjadi satu keluarga.


"Tia!" Bentak Bobby.


Dibentak oleh Bobby, Tia malah memalingkan wajahnya.


"Maaf Bu Tia, saat itu saya terpaksa. Saya tidak ada pi,----"

__ADS_1


"Emmm, Giska benar." Bobby memotong ucapan Giska. Ia tak ingin kepolosan Giska mengatakan segalanya tentang bagaimana ia menekan Giska dan memaksa Giska untuk mau menikah dengannya. Bahkan saat itu ia juga menggunakan Ibunya Kadek untuk menekan Giska. Kalau sampai orang tuanya tau, bisa bahaya nantinya. Bisa panjang nanti pertanyaan yang di lontarkan oleh orang tuanya.


"Terpaksa bagaimana?" Kali ini Astuti yang bertanya.


"Terpaksa menikah muda, Bu." Jawab Bobby.


Kedua orang tua Bobby mengerutkan keningnya.


"Itu dah, alasan nya apa? Kenapa bisa terpaksa? Dan ya, usianya juga masih sangat muda. Katakan dengan jelas, Bob!" Seru Astuti.


"Sebenarnya...." Giska menggantung ucapan nya.


"Gis, biar aku saja yang bicara." Pinta Bobby seraya menggenggam tangan Giska.


"Biar dia yang bicara, Bob! Bukankah tadi kau mengatakan, kami bisa bertanya apa saja kepada Giska?" Celetuk Astuti.


"Iya, Bu."


"Duhh, salah bicara aku, tadi." Bobby menelan salivanya.


"Sebenarnya, pernikahan ini hanyalah sebuah kompromi saja. Saya tidak ingin menjadi duri dalam rumah tangga orang lain, tapi saat itu saya juga tidak ada pilihan lain. Ada sesuatu yang yang mengharuskan saya menerima permintaan Bli Bobby, untuk menikah dengan nya. Saya pikir, pernikahan ini hanya untuk sementara saja, dan mungkin setelah Bli Bobby sudah tak menginginkan saya lagi, maka saya akan segera pergi dari kehidupan Bli Bobby dan Bu Tia." Jelas Giska, ia pun sejenak menghentikan ucapan nya, ia menghela napasnya panjang, lalu kemudian ia melanjutkan ucapan nya.


"Saya minta maaf yang sebesar-besar nya kepada Bu Tia, kepada Ajik dan Ibu, kalau saya sudah membuat keluarga kalian terkena masalah. Sebenarnya saat sebelum saya pulang ke Surabaya, saya sudah meminta Bli Bobby untuk menceraikan saya, tapi Bli Bobby menolaknya. Saya tidak tau lagi harus bagaimana?" Giska menundukkan kepalanya. Ia kembali meremas tangan nya sendiri. Saat ini yang ada di dalam pikirannya adalah, kedua orang tua Bobby tidak menyukainya. Ia pikir kedua orang tua Bobby sudah menganggapnya sebagai pelakor. Itulah sebabnya ia mengatakan segalanya yang menurutnya benar, meski semua sudah terjadi, namun setidaknya ia sudah ada itikad baik untuk segera pergi dari kehidupan Bobby dan Tia.


"Ohhh, jadi kau sudah ingin pergi?" Tia ikut menimpali.


Giska mengangguk pelan.


Tia tersenyum, "Ajik, Ibu, dia ingin pergi. Dia sudah sadar akan kesalahan nya itu. Jadi biarkan dia pergi, untuk apa lagi kita menghentikan nya? Dan kau, Pa, biarkan dia pergi." Ucap Tia merasa menang.


"Diam kau!" Bentak Bobby.


Kembali di bentak oleh Bobby, Tia hanya memutar bola matanya jengah.


"Apa kau tidak mencintai Bobby?" tanya Gung De pada Giska.


Giska menggelengkan kepalanya, kemudian ia menjawab, "Tidak."


Deggg....

__ADS_1


Bobby seketika menoleh ke arah Giska. Ia tak suka mendengar ucapan Giska yang mengatakan tidak mencintainya. Meski itu memang benar adanya, tapi ia tak ingin mendengar ini. Apalagi Giska mengatakannya di depan Ajik dan Ibu nya.


Berbeda dengan Bobby yang merasa kesal akan ucapan Giska, Tia malah merasa senang mendengar ucapan Giska.


"Iya, semua yang Giska katakan memang benar. Akulah yang memaksa Giska agar mau menikah denganku." Ucap Bobby tiba-tiba.


"Kenapa kau memaksanya? Kau tau dia tidak mencintaimu, kan?" tanya Astuti.


"Karena aku mencintainya, Bu. Mungkin saat ini Giska masih belum mencintaiku, tapi aku yakin, suatu saat dia akan jatuh cinta padaku." Ucap Bobby yakin.


"A-aku,---" Giska ingin bicara, namun Bobby memberi isyarat agar tak bicara lagi.


"Ajik dan Ibu sudah menerima Giska, bukan? Jadi apa lagi masalahnya sekarang. Giska sudah menjadi istriku. Dia sudah masuk ke dalam keluarga kita." Ucap Bagus.


"Saat itu, Ibu da Ajik pikir, kalian berdua saling cinta, itu sebabnya kami ingin memberi kesempatan pada hubungan kalian. Meskipun Tia harus berbesar hati membagimu dengan Giska. Tapi setelah kami tau Giska tidak mencintaimu, kenapa kau harus memaksa Giska untuk bertahan denganmu?" Ucap Gung De.


"Iya, yang Ajikmu katakan benar, Bob." Astuti menimpali.


"Iya, aku setuju." Tia pun ikut menimpali.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan Giska pergi dariku. Apa yang kalian pikirkan? Kami sudah terikat pernikahan yang sah. Kami juga sudah bersatu. Kami berdua sudah menghabiskan malam bersama, bukan hanya sekali, tapi sudah berulang kali." Ucapan Bobby terhenti karena Tia menyelanya.


"Kau!" Tia memotong ucapan Bobby, geram.


"Kau diam! Aku belum selesai bicara!" Seru Bobby pada Tia.


"Setelah semua yang sudah kita berdua lakukan, apa Ajik dan Ibu tetap ingin aku melepas Giska? Kalian menganggap Giska ini apa? Dia gadis yang masih sangat muda. Apa iya aku harus membiarkan Giska menyandang status janda di usia nya ini? Bagaimana jika nanti anakku tumbuh di rahim Giska? Bagiamana dengan orang tua Giska nanti? Bapaknya pasti akan merasa sedih dan kecewa karena aku telah mempermainkan anak gadisnya." Terang Bobby.


Gung De dan Astuti pun terdiam.


"Tapi ini Giska sendiri yang menginginkannya, Pa! Dia tidak mencintaimu. Jika masalah anak, kau jangan khawatir, aku yang akan memberikannya padamu. Lagipula aku yakin, dia tidak akan hamil secepat itu. Kalian saja belum ada satu bulan menikah." Celetuk Tia.


"Kenapa? Apa kau meragukanku, Tia? Apa kau pikir aku tak seperkasa cintamu, itu?! Sampai-sampai kau ragu kalau aku bisa membuat Giska hamil dalam waktu dekat?" Bobby menatap Tia jengah.


"Cukup, Pa! Kau tidak perlu membahas yang tidak perlu di bahas! Disini kita sedang mencari solusi yang terbaik untuk kita semua, tapi kau malah berusaha menyudutkanku. Aku tau aku pernah salah, tapi kau juga salah! Jangan semua kesalahan kau lempar padaku!" Geram Tia.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2