Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Sampai bertemu besok


__ADS_3

"Haa? Apakah ini sungguhan? tapi kalau memang iya, tolong jangan pernah ke rumah ku, Bli. Please! Jangan muncul dulu!" Giska memohon. Rasanya ia benar-benar terkejut sekaligus takut. Ia takut akan kemungkinan yang akan terjadi bila seandainya Bobby nekat datang ke rumah. Bisa gempar nanti seluruh kampung.


Memulai suatu hubungan dengan ketidakjujuran kepada orang sekitar, terutama keluarga, membuat segalanya menjadi rumit. Mau berbuat ini takut salah, mau berbuag itu juga takut salah. Seperti yang tengah Giska rasakan saat ini. Karena ketidak siapan nya mendapat rentetan pertanyaan dari Bapak nya, ia sampai menyembunyikan status pernikahan nya dengan Bobby. Ada beberapa faktor alasan kenapa ia sampai melakukan semua ini. Pada intinya, sebelum ia mengambil keputusan ini, ia sudah memikirkan nya terlebih dulu.


"Baiklah, Gis. Aku tidak akan datang hari ini." Jawab Bobby.


"Terima kasih, Bli Bobby sudah mau mengerti." Ujar Giska, ada kelegaan di hati nya. Setidaknya ia tak cemas lagi memikirkan Bobby. Namun, untuk hubungan mereka kedepan nya, biar nanti saja ia pikirkan kembali.


"Hmm, kau besok jadi pulang ke Bali?" tanya Bobby.


"Iya, jadi. Aku juga sudah bicara dengan Bapak. Aku mengatakan kalau aku tidak bisa cuti kerja terlalu lama." Jelas Giska.


"Apa Bapak sudah benar-benar sehat? Kalau memang belum, aku tidak keberatan kok, jika kau menemani Bapak lagi 2 hari." Ucap Bobby.


"Tidak. Aku sudah putuskan, besok aku akan berangkat."


"Ya baiklah kalau itu maumu. Pukul berapa kau berangkat dari rumah?" tanya Bobby.


"Mungkin aku akan mengambil perjalanan pagi, Bli. Ya, sekitar pukul 09.00 aku mungkin sudah ada di terminal."


"Kita akan berangkat bersama besok! Sudah tau suami mu ada di sini, dan kau masih punya pikiran untuk pulang naik Bus!" Seru Bobby.


"Mmmm, tapi kan, nanti kalau ada yang melihat aku bersama Bli Bobby, semua orang akan membicarakan kita." Protes Giska.


"Astaga... Apa kau begitu terkenal sehingga semua orang di jalanan tau dirimu?" ejek Bobby.


"Iya juga ya," batin Giska, ia nampak berpikir.


"Sudahlah kau jangan cemas. Aku akan menunggumu di ujung jalan sana. Sekarang kau istirahatlah. Sampai bertemu besok ya, Sayang. I love you💖." Ucap Bobby, lalu ia pun langsung mengakhiri panggilan telpon nya. Ia sengaja tak menunggu Giska menjawab terlebih dulu, karena bisa saja Giska akan kembali mengajaknya berdebat hanya gara-gara masalah ingin pulang bersama.


"Apa itu tadi yang ku dengar? Bli Bobby memanggilku sayang lagi, dia juga bilang i love you kepadaku. Ahhhh, kenapa hatiku sesenang ini ya?" Gumam Giska dengan ekpresi malu-malu nya. Entah kenapa seperti ada yang aneh di dalam hati nya.


Giska pun menjadi senyum-senyum sendiri, seraya tangan nya memegangi ponsel nya yang masih ia letakkan di depan daun telinga nya. Seperti ia masih belum menyadari kalau Bobby sudah mengakhiri panggilan nya.


"Gis, kenapa kau senyum-senyum seperti itu?" tanya Bram yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Giska.


Giska sontak terkejut mendengar ada suara Bapak nya. Ia pun segera menoleh ke samping. Kedua matanya membulat melihat Bapak nya sudah berdiri di samping nya.


"Emmm, ini aku senyum karena Rissa, Pak." Jawab Giska sedikit gugup.


"Ohhh... Kenapa kau malah telponan di sini?"


"Emm, i-tu, itu aku mencari sinyal, Pak. Iya aku mencari sinyal."


"Ya sudah, kalau sudah selesai cepatlah masuk! Hari sudah gelap." Perintah Bram.


"Iya, Pak."

__ADS_1


***


Di tempat lain.


Di sebuah hotel yang tak terlalu mewah tapi juga tak terlalu biasa saja, melainkan hotel yang sedang-sedang saja, yang terletak di kawasan kota Suarabaya. Nampak Tia tengah berjalan kesan kemari untuk mencari keberadaan Bobby. Bahkan ia pun sampai bertanya kepada petugas hotel yang sedang bertugas di sana. Sang petugas itu pun langsung memberitahu keberadaan Bobby kepada Tia, karena beberapa saat yang lalu ia sempat melihat Bobby di tempat itu.


Tia pun langsung berjalan ke tempat yang petugas itu katakan. Ia melangkah lurus langsung menuju mobil Bobby yang terparkir tak jauh dari kamar tempat mereka menginap.


Thukk.. Thukk..


Tia mengetuk kaca mobil itu, dan tak lama kemudian kaca mobil itu terbuka, dan nampaklah Bobby tengah duduk di balik kemudi mobil yang tengah terparkir itu.


"Sedang apa di sini, Pa? Kenapa tidak masuk ke kamar?" tanya Tia, setelah ia melihat Bobby di dalam mobil itu.


"Kau sedang apa di sini?" Bukan nya menjawab, Bobby malah balik bertanya kepada Tia.


"Aku sejak tadi mencarimu kemana-mana. Ternyata Papa di sini."


"Papa kenapa duduk di sini?" tanya Tia kembali.


"Aku habis menelpon Giska." Jawab jujur Bobby..


"Ohhh, ngomong-ngomong, kapan kita akan pergi ke rumah Giska?" tanya Tia.


"Kita tidak akan pergi kesana." Jawab Bobby datar.


"Bagus?" Bobby mengerutkan keningnya seraya menatap Tia. "Kau senang jika kita tidak pergi ke sana?" tanya nya kemudian.


"Tentu saja aku senang, Pa. Lagipula untuk apa kita kesana. Sebenarnya kita juga tidak perlu pergi ke sini. Biarkan saja Giska tinggal di sini, tidak perlu pulang ke Bali lagi." Ucap Tia senang.


"Kau sendiri yang ingin ikut pergi kesini! Kenapa kau menggerutu sekarang?" Bobby menautkan kedua alis nya.


"Ingat ya Tia! Kau harus belajar menerima Giska. Jika aku sampai melihatmu bersikap buruk kepada Giska, kau akan menanggung akibatnya!" Seru Bobby. Nada bicara nya terdengar seperti mengancam.


"Ya ya, aku ingat. Aku juga perlu waktu, Pa. Aku tidak bisa langsung menerima nya dalam waktu yang singkat seperti ini. Beri aku waktu!" Ucap Tia sedikit kesal. Tak bisa di pungkiri bahwa ia selalu merasa kesal jika membicarakan tentang Giska, yang tak lain adalah istri kedua dari suami nya.


"Ya, kalau aku tidak ikut kesini, gadis kampung itu pasti akan mencuri-curi kesempatan untuk selalu berdekatan denganmu, Pa!" Batin Tia dalam hati nya.


Bobby menatap Tia datar. Mungkin ia sudah di cap jahat karena sudah bicara seperti itu kepada Tia. Tapi ya mau bagaimana lagi, saat ini Tia dan Giska memiliki status yang sama. Mungkin, ini sudah menjadi jalan hidup mereka bertiga, yakni kehidupan nya saling terhubung satu sama lain.


"Daripada diam di sini, lebih baik kita masuk ke kamar, Pa. Kita istirahat." Ajak Tia, ia memilih menyudahi pembahasan mengenai Giska.


"Kau duluan saja."


"Ohh ayolah, Pa. Aku hanya mengajakmu istirahat. Sekali saja jangan menolakku." Tia memelas.


"Ya baiklah, ayo." Bobby pun mau menuruti Tia.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Tia dan Bobby pun langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tia pun langsung memiringkan tubuh nya agar ia bisa memeluk Bobby dengan leluasa. Di posisi nya seperti ini ia juga bisa menatap wajah Bobby dengan sangat dekat.


Baru sebentar ia melingkarkan lengan nya di perut Bobby, Bobby sudah menyingkarkan lengan itu dari perut nya. Tia pun tak menyerah, ka terus saja mengulangnya sampai Bobby memilih diam dan membiarkan Tia memeluk nya.


"Kapan kita akan pulang ke Bali, Pa?" tanya Tia.


"Besok." Jawab Bobby singkat.


"Besok? benarkah?"


"Hmm. Sudahlah Tia, jangan banyak bertanya lagi. Cepat tidurlah, besok kira akan pulang."


"Hmmm." Tia berdehem. Ia pun tak lagi bertanya kepada Bobby.


Kedua nya pun saling diam, tak ada pembicaraan lagi. Suasana hening ini pun membuat Tia lebih cepat jatuh ke alam mimpi nya. Sementara Bobby, ia nampak sulit untuk tidur. Berulang kali ia memejamkan kedua matanya, namun tetap saja ia tak bisa tidur.


***


Waktu terus berlalu, tak terasa malam sudah berganti pagi. Matahari nampak sudah berada di peraduan nya. Cahaya nya nampak ingin menyusup masuk ke dalam kamar yang di tempati Tia dan Bobby, namun, karena tebalnya tirai di kamar itu, membuat cahaya matahari tak bisa leluasa menyinari ruangan itu.


Meskipun tak ada sinar yang masuk di kamar nya, Tia tetap saja terpaksa untuk bangun dari tidur nya, karena ada seseorang yang berulang kali mengetuk pintu kamar nya.


"Siapas sih?! Pagi-pagi sudah mengganggu tidurku!" Geram Tia. Ia pun beranjak bangun dari ranjang, lalu segera melangkah ke arah pintu.


Ceklek...


Tia membuka pintu itu.


"Selamat pagi, Bu. Maaf mengganggu, saya ingin mengantarkan sarapan untuk Ibu dan Bapak yang menginap di sini." Ucap petugas hotel ramah. Kedua tangan nya nampak membawa nampan berisi makanan dan juga minuman.


"Ya ya, letakkan saja di sana dan cepat keluarlah!" Seru Tia.


"Baik, Bu, permisi." Sang petugas itu pun masuk dan langsung meletakkan makanan dan minuman itu di meja, lalu ia pun langsung pamit keluar.


Tia pun langsung menutup dan mengunci pintu itu kembali.


"Eh, Papa dimana? Kenapa aku tak melihatnya di ranjang?" Gumam Tia, seraya melihat di ranjang tidur nya.


.


.


.


Bersambung...


Maaf telat🙏

__ADS_1


__ADS_2