
Giska memilih tetap berada di kamarnya. Ia merenungkan hidupnya yang tak pernah bisa tenang dan damai seperti orang-orang lainnya. Ia berpikir, kenapa Tuhan memberinya jalan seperti ini? Kenapa ia tak bisa seperti teman-teman lainnya. Hidup damai dan bahagia seolah tak ada beban yang mereka pikul.
Hati Giska terus saja dilanda kegalauan dan kebingungan. Bapaknya seolah memberi pilihan, Giska harus memilih salah satu di antara bapak dan Bobby. Bagaimana mungkin?
Di satu sisi Giska merasa kecewa pada Bobby. Ia juga merasa lelah menjalani pernikahan ini. Dalam keadaan hatinya yang seperti ini, ditambah lagi ia melihat bapaknya yang semakin tua dan sering sakit-sakitan, ia jadi ingin memutuskan ikatannya dengan Bobby dan kemudian ia tinggal di sini bersama bapaknya.
Tapi di sisi lain, ia juga belum bisa menyembuhkan rasa traumanya dari kejadian di masa lalu. Meski ia sudah berusaha untuk melupakan segalanya tetapi ia terkadang masih suka berpikiran buruk tentang bapaknya. Saat ia berpikiran buruk, di situ juga ia merasa nelangsa jika sudah melihat bapaknya. Nelangsa dan pikiran buruk seakan menyatu dalam dirinya. Ia tak pernah bisa membuang salah satu dari rasa itu. Hingga membuat ia selalu dilema sampai saat ini.
Itulah yang membuat Giska sulit mengambil keputusan dalam hidupnya. Jika di minta meninggalkan Bobby dan kembali tinggal bersama bapaknya, rasanya sangtlah berat. Tetapi jika ia memilih tetap tinggal bersama Bobby, itu juga terasa berat.
Ibaratnya, jika Giska tinggal bersama bapaknya, ia pasti akan terus memikirkan Bobby. Dan begitupun sebaliknya, jika ia tinggal bersama Bobby, ia pasti akan selalu memikirkan bapaknya. Apalagi ketika bapaknya sakit, ia pasti akan langsung bingung dan cemas.
"Kenapa hidupku harus seperti ini sih? Kapan aku bisa seperti yang lainnya?" batin Giska sendu.
"Gis, ini lho Mita sudah datang." Terdengar suara Bram memanggil Giska.
"Iya, Pak." Giska menyahut. Ia pun langsung keluar dari kamarnya.
"Hai, Mit. Hallo Mas, apa kabar?" sapa Giska pada Mita dan suaminya yang baru saja masuk ke rumah.
"Hallo, Nizam." Giska beralih menyapa anak yang sedang di gendong oleh Mita. Ia bahkan mencubit gemas pipi Nizam.
"Hallo Mbah Tante, kabarnya baik," jawab Mita menirukan suara anak kecil.
Hahaha... Giska pun langsung tertawa.
"Masa aku dipanggil Mbah Tante sih?" protes Giska di selingi kekehan kecil.
"Kan memang begitu," sahut Mita sambil tersenyum.
Usia Mita memang lebih tua 5 tahun dari Giska. Namun karena Mita adalah cucunya bapaknya Giska, ia jadi harus memanggil Giska dengan sebutan tante. Dan anaknya Mita harus memanggil Giska dengan sebutan mbah atau nenek.
Di usia Giska ini, ia sudah menjadi nenek? Ohh noo...ππ
"Duduk, Mit. Kau sudah ditunggu oleh bapak sejak tadi," ucap Giska.
Mita, suaminya, Nizam, Giska dan juga Bram pun duduk dan mulai mengobrol.
***
Di rumah Giska, Giska menutupi kegalauan hatinya dengan bermain bersama Nizam. Sementara di tempat lain, Bobby tak bisa mengobati kegalauannya karena ia tak mendengar kabar Giska selama 3 hari.
Bobby sudah menelpon Giska puluhan hingga ratusan kali namun ia sama sekali tak mendapat jawaban. Puluhan pesan yang ia kirimkan pada Giska juga tak mendapat balasan sama sekali.
Ditambah lagi ia tak bisa pergi menyusul Giska ke Surabaya karena ia harus memikirkan Tia yang sedang hamil. Jadilah Bobby semakin galau.
"Kau kenapa sih, Gis? Kenapa kau susah dihubungi?" gumam Bobby frustasi.
"Kau seperti ini karena kau sedang sibuk mengurus bapak atau kau seperti ini karena marah padaku?"
__ADS_1
"Apa karena aku meninggalkanmu sendiri di malam itu, kau jadi semarah ini?"
"Giskaa..." Bobby menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.
"Kau kenapa sih, Pa?" tanya Tia. Ia ikut duduk di sofa, tepat di samping Bobby.
"Kau ingin apa?" Bobby balas bertanya.
"Kenapa kau malah bertanya begitu padaku? Aku ke sini karena aku peduli denganmu, Pa. Sudah 3 hari ini kau terlihat gelisah. Kau jadi banyak berubah. Kau sebenarnya kenapa?" Tia kembali bertanya.
"Aku rasa kau sudah tau," sahut Bobby.
"Karena Giska? Iya?" ucap Tia malas.
"Kenapa sih selalu memikirkan dia? Saat ini aku yang sedang membutuhkanmu, Pa. Aku sedang hamil anakmu. Tapi kau sama sekali tak peka terhadapku!" protes Tia kesal.
"Giska juga istriku, Tia! Kalian berdua sama-sama istriku," sahut Bobby.
"Aku tak lupa kok kalau kau sedang hamil. Aku juga tak pergi kan? Meski aku ingin pergi menyusul Giska ke Surabaya, tapi aku tak pergi. Aku menuruti semua keinginanmu. Aku berada di sini bersamamu. Tapi kau masih saja bilang aku tak peduli denganmu. Kau masij saja bilang aku tak peka," ungkap Bobby sedikit kesal.
"Aku di sini selalu memastikan keadaanmu dan bayi kita agar selalu baik-baik saja. Tapi aku tak tau sekarang keadaan Giska seperti apa? Entah dia sehat atau tidak. Aku tidak tau itu, Tia!" ungkap Bobby getir.
"Kau kan sudah menelponnya. Kau juga sudah mengirim pesan padanya," sahut Tia tak kalah kesal.
"Iya! Tapi Giska tak merespon semuanya!" seru Bobby.
"Ya jangan salahkan aku dong, Pa! Dia sendiri yang tak meresponmu. Itu artinya dia tak mau lagi berurusan denganmu. Mungkin saja dia ingin pergi darimu," ucap Tia.
Hembusan napas kasar pun terhembus dari mulut Bobby. Ia bahkan langsung bangun dari duduknya dan ia berdiri tegap di depan Tia.
"Istirahatlah ke kamarmu. Aku akan pergi cari angin sebentar. Jangan lakukan hal yang membahayakan janinmu," tutur Bobby sembari menahan kekesalannya. Ia pun melenggang pergi sana.
Karena kalau ia tak segera pergi keluar, ia bisa tambah emosi menghadapi Tia. Jika sudah emosi, pasti nanti akan berdampak buruk pada kandungan Tia. Ia tak mau itu sampai terjadi.
"Mau kemana, Bob?" tanya Gung De. Ia tak sengaja berpapasan di depan rumah dengan Bobby.
"Iya kau mau ke mana?" timpal Astuti.
"Aku mau keluar sebentar, Jik, Bu. Aku titip Tia sebentar ya, tolong jagain dia," ucap Bobby.
"Ajik ikut, Bob. Biar Ibu di rumah bersama Tia," pinta Gung De.
"Iya Bu?" Gung De beralih menatap Astuti.
"Iya kalian keluar dah," sahut Astuti.
"Ya sudah. Ayo Jik, pakai mobilku saja," ajak Bobby. Ia pun masuk ke dalam mobilnya, mendahului ajiknya. Kemudian di susul oleh Gung De yang juga langsung masuk ke dalam mobil Bobby dan duduk di samping kemudi.
Bobby pun mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Jik, aku bingung dengan keadaan ini. Sampai saat ini aku masih belum bisa bicara dengan Giska. Aku khawatir dengan keadaannya, Jik. Aku juga khawatir dengan keadaan bapaknya," curhat Bobby pada ajiknya.
"Aku mau menyusul ke sana tapi tak bisa," sambungnya.
"Coba biar Ajik saja yang menelpon Giska," ucap Gung De.
"Ah iya, Jik. Kenapa tak dari kemarin-kemarin sih, Jik?" Bobby langsung setuju.
"Ya sudah sekarang saja Ajik telpon dia. Barangkali dia mau merespon," ucap Bobby sangat semangat.
"Iya."
Gung De pun langsung mengeluarkan ponselnya. Dan tanpa menunggu lama lagi, ia pun langsung menelpon Giska.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktiv. Cobalah beberapa saat lagi.
"Nomornya tidak aktiv."
"Lagi-lagi dia matikan ponselnya," sahut Bobby kecewa.
"Biar Ajik yang menyusul Giska ke Surabaya, Bob. Sekalian Ajik mau kenalan dengan bapaknya Giska. Siapa tau dengan kedatangan Ajik ke sana, besanku alias bapak mertuamu jadi benar-benar memberimu restu," ucap Gung De.
"Tapi kan, Jik. Ajik tau sendiri kan bagaimana ceritanya," sahut Bobby.
"Serahkan saja pada Ajik. Nanti pelan-pelan Ajik coba bicara sama pak Bram," ujar Gung De.
"Baiklah, Jik. Nanti ajak saja ibu sekalian, Jik."
"Iya. Ya sudah, ayo kita kembali ke rumah. Biar Ajik bisa langsung bicara sama ibumu."
"Iya, Jik."
Bobby pun memutar arah mobilnya kembali ke rumah.
.
.
.
Bersambung...
Yang menunggu Giska bahagia, sabar ya..
Masih ada problem sebelum Giska bahagia nantinya.
Jujur, cerita Giska ini real terjadi pada seseorang di real live.
Tunggu bab selanjutnya ya...
__ADS_1
Maaf kalau sering terlambatπππ