Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Siapa yang melakukannya, Gis?


__ADS_3

"Sejuknya..." Mata Giska berbinar, melihat pemandangan hijau nan asri di hadapannya.


"Apa kau suka?" Bobby memeluk Giska dari belakang.


"Suka, Bli. Udara di sini sangat sejuk. Pemandangannya juga indah. Kalau aku di suruh tinggal di sini, aku pasti langsung mau." Celetuk Giska.


"Heiii, kau mau tinggal di sini? Apa kau mau tidur di atas pohon itu?!" Konyol sekali istrinya ini, pikir Bobby.


Giska terkekeh, "Ya, tidak begitu juga. Aku hanya berandai-andai, saja."


"Sayang... Kau dan aku akan tinggal di rumah. Kita akan selalu bersama selamanya. Jangan pernah tinggalkan aku, Gis. Aku sangat mencintaimu." Ucap Bobby, yang saat ini masih memeluk Giska dari belakang.


"Rumah siapa?" Celetuk Giska.


"Ya, rumah kita, Sayang."


"Rumah yang di perumahan itu?"


"Hmmm, bisa jadi. Tapi, kalau kau mau, kita bisa membeli rumah baru lagi, untuk kita tinggali." Ujar Bobby.


"Jangan!" Giska langsung menolak.


"Kenapa, jangan?" Bisik Bobby.


"Ya, rumah itu sudah cukup, Bli."


"Hmmm, begitu ya. Terserah kau saja, Gis, yang penting kau selalu ada bersamaku." Ujar Bobby, seraya mengecup pipi Giska.


"Eumm, apa kita akan tinggal bertiga? Aku, Bli Bobby dan Bu Tia?" Tanya Giska tiba-tiba.


"Tidak!"


"Kok tidak? Terus bagaimana dengan Bu Tia? Bu Tia kan istri Bli Bobby juga?"


"Maaf ya, jika aku melukai hatimu, Gis. Kalian berdua adalah istriku, tapi kita tidak mungkin tinggal bertiga dalam satu rumah. Nanti aku yang akan membagi waktu untuk kalian berdua. Aku yang akan mengatur semuanya, kapan aku bersamamu dan juga kapan aku akan bersama Tia." Ucap Bobby berat.


"Aku harap, kau bisa menerima ini, Gis." Tambahnya.


Giska pun terdiam. "Tadi katanya dia ingin selalu bersamaku, tapi,----" Giska membatin. "Ahhh, mikir apa sih aku. Bukankah ini adalah konsekuensi nya kalau menjadi istri ke dua? Disini aku yang kedua, harusnya aku yang lebih bisa mengerti. Bu Tia saja selaku istri pertama, mau berbesar hati menerimaku, masa aku yang kedua malah keberatan." Pikirnya.


"Kalau aku keberatan, itu artinya aku tidak tau malu. Sudah masuk ke dalam rumah tangga orang lain, ehh, malah mau minta yang lebih." Pikirnya lagi.


"Ampuni aku, Tuhan... Aku tidak mengerti kenapa kau memberi jalan seperti ini, untukku?" Batinnya lagi.


Melihat Giska hanya diam saja, perlahan Bobby memutar tubuh Giska, hingga kini mereka saling berhadapan. Bobby pun menangkup dagu Giska.


"Apa kau keberatan?" Tanya Bobby.


Giska pun seketika tersadar, "A-aku? Eummm, tentu saja tidak, Bli." Ucapnya.


"Maafkan aku, karena aku sudah membawamu berada di situasi seperti ini, Gis." Lirih Bobby.


"Eumm, tidak apa-apa, Bli. Harusnya aku yang minta maaf, jika kehadiranku membuat semuanya rumit."


"Sttttt, kau jangan bicara seperti itu. Justru kehadiranmu sudah memberi warna baru di dalam hidupku, Gis. Hatiku yang dulunya redup, kini bisa kembali menyala terang, karena dirimu." Ucap Bobby tulus.


"Darimana Bli Bobby bisa melihat kalau hati Bli Bobby dulu redup dan sekarang menyala terang?" pertanyaan konyol lolos begitu saja dari mulut Giska.


"Apa hati Bli Bobby isi lampu? Ohh, apa Bli Bobby memiliki penyakit, dan mengharuskan hati Bli Bobby di isi lampu?" Tambahnya.

__ADS_1


"Astaga apa yang ku tanyakan ini?" Batin Giska, ia tergelak dengan pertanyaannya sendiri. Ia mengerti, tidak ada istilah hati di isi lampu, seperti yang ia tanyakan tadi. Biar begini juga ia pernah sekolah meski hanya lulusan SMP, dan di selama ia sekolah dulu, gurunya tak pernah mengajarkan bahwa hati bisa di isi lampu. πŸ˜‚


Hati di isi lampu?πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Konyol sekali.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Bobby langsung terdiam seketika itu juga. Suasana haru langsung menghilang begitu saja, ketika Giska melontarkan pertanyaan konyolnya. Ya kali, hatinya di isi lampu? Benar-benar aneh si Giska ini.


"Tidak, Gis. Sudah lupakan saja. Jangan banyak bertanya lagi, jangan banyak bicara lagi. Ayo, aku akan mengajakmu jalan-jalan lagi. Hari ini kita fokus untuk jalan-jalan." Tutur Bobby. Ia pun langsung membawa Giska pergi dari sana.


Lebih baik seharian pergi jalan-jalan, atau seharian menghabiskan waktu di ranjang bersama Giska, asalkan Giska tidak banyak bicara, maka Bobby tidak akan pusing. Kalau Giska sudah di biarkan terus bicara, maka kepolosan Giska akan membuat Bobby pusing sendiri jadinya.


***


"Kita mau kemana lagi?"


"Sudah diam saja. Nanti kau juga akan tau."


"Ya sudah."


________________



Ilustrasi Giska dan Bobby.


.


.


Eh salahhπŸ™ˆ, maksudnya tempat yang di kunjungi oleh Giska dan Bobby.


__________


"Iya itu monyet, tapi ya jangan menatap ke wajahku dong, Gis, saat kau bilang monyet." Kesal Bobby.


Giska terkekeh. "Banyak sekali monyetnya di sini."


"Hmmm, sangat manis bukan, monyet-monyet di sini?" Celetuk Bobby.


"Iya, apalagi monyet dua itu. Dia sangat lucu." Mata Giska berbinar.


_______________


Setelah puas mengajak Giska jalan-jalan. Bobby pun kembali membawa Giska pulang ke villa. Sesampainya di villa, Bobby pun mengajak Giska beristirahat.


Seperti suami istri yang lainnya, yang selalu ingin bermesraan. Bobby pun sama, ia juga ingin bermesraan dengan Giska. Dengan segala upaya ia membujuk Giska, untuk tak selalu protes dengan apa yang ia lakukan, dan Giska pun dengan pasrah mengikuti kemauan Bobby.



Ilustrasi Bobby dan Giska, sedang rebahan di balkon villa.


Sembari menikmati udara di sore hari. Giska dan Bobby menghabiskan waktu berdua saja, di balkon villa.


Giska yang merasa malu, sekaligus gugup, pun dengan pasrah mengikuti kemauan Bobby. Dengan malu-malu ia pun memeluk Bobby. Bobby pun balas memeluk Giska.


"Sayang..." Panggil Bobby.


"Hmmm."


"Kenapa setiap dekat denganku, kau selalu gugup dan takut? Apa karena aku masih asing bagimu?"

__ADS_1


"Eumm, mungkin karena aku belum terbiasa, Bli." Alasan Giska. Sebenarnya bukan karena belum biasa, hanya saja traumanya itu belum menghilang. Jadilah ia selalu gugup dan takut, meskipun dengan Bobby.


Mungkin, ia perlu di latih agar tak terus-terusan seperti ini. Meski sebenarnya dalam hati ia sudah bertekad untuk untuk lagi memikirkan kejadian di masa lalu, tapi kejadian itu masih suka muncul di pikirannya. Perlu kesabaran yang lebih, untuk bisa menghilangkan rasa traumanya itu.


"Hmm, makanya mulai sekarang kau harus selalu dekat denganku. Kalau tidur juga harus seperti ini, biar kau terbiasa denganku. Jadi, nanti tidak boleh lagi gugup dan takut seperti ini, mengerti!" Tutur Bobby lembut, seraya mengecup puncak kepala Giska.


"I-iya."


________________


"Bli..." Lirih Giska.


"Iya, Sayang. Ada apa?" Sahut Bobby.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Bobby.


Giska mengangguk. "Apa Bli Bobby sungguh mencintaiku?" Lirihnya pelan, namun masih bisa di dengar oleh Bobby.


"Tentu, Sayang. Aku selalu mengatakan kalau aku mencintaimu, bahkan tak hanya di depanmu saja, tapi juga di depan orang tuaku. Kenapa kau masih saja terus bertanya? Apa kau tak percaya dengan semua ucapanku?"


"Hmmm, selama ini aku belum pernah jatuh cinta, atau bermain cinta-cinta, Bli. Aku tidak mengerti, cinta yang sesungguhnya itu seperti apa. Apakah cinta itu tentang hubungan di atas ranjang? Ataukah ada arti yang lainnya?" Tanya Giska.


"Apa kau belum pernah memiliki kekasih sebelumnya?"


"Belum. Waktu ini kan aku pernah bilang, kalau aku tidak pernah memiliki kekasih."


"Lalu siapa pria yang bersamamu, di penginapan waktu itu?" Bobby bertanya.


"Pria mana? Penginapan mana?" Giska bingung.


"Pria yang bersamamu, di penginapan Surabaya. Dulu kau pernah menabrakku di di lobby penginapan itu, Gis. Dan kau bersama pria itu. Aku pikir...." Bobby tak melanjutkan ucapanya.


Giska pun berusaha mengingat, siapa pria yang Bobby maksud. Setelah beberapa detik, ia pun kembali teringat akan hari itu. Hari dimana ia pergi bersama Ari, dan ternyata Ari malah membawanya ke penginapan. Mungkin Ari lah yang di maksud oleh Bobby, pikirnya.


"Ohhh itu, Mas Ari. Dia bukan siapa-siapa, Bli. Dulu aku kenal dia saat aku kerja sebagai pembantu, di kota sana." Jelas Giska.


"Jadi? Kau dan pria itu tidak memiliki hubungan spesial?"


"Tidak."


"Lantas kenapa kau berada di penginapan itu, Gis?" Bobby semakin penasaran dengan masa lalu Giska. Masa lalu yang selalu ingin ia ketahui.


"Itu sudah masa lalu, Bli. Tapi yang jelas, aku dan Mas Ari tidak memiliki hubungan apapun. Aku hanya menganggap dia sebagai seorang kakak, saja." Terang Giska.


"Kalau tidak ada hubungan dengan pria itu, berarti sudah jelas bukan pria itu pelakunya, kan? Lalu kalau bukan pria itu, siapa yang melakukannya, Gis?" Celetuk Bobby.


"Pelaku apa maksudnya?" Giska tak menyadari arah pembicaraan Bobby.


"Siapa yang sudah lebih dulu mengambil kesucianmu? Kalau bukan pria itu?" Bobby memperjelas ucapannya.


Degg...


Giska langsung terdiam, seketika itu juga.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2