Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Test kehamilan


__ADS_3

"Kenapa kau sampai muntah seperti ini? Apa kau salah makan?" Tanya Bobby seraya membantu Giska duduk di kursi yang ada di dekat sana.


"Mungkin aku masuk angin, Bli." Jawab Giska.


"Ehh, sebentar... " Bobby menatap Giska dengan mata berbinar. "Giska... Apa kau juga hamil?" Tanya Bobby.


Giska seketika memelototkan kedua matanya. "Juga hamil? Maksudnya?" Bingung Giska.


"Perutmu mual apa tidak?" Tanya Bobby.


"Iya, tapi itu tadi. Sekarang sudah tidak terlalu mual lagi."


"Tanggal berapa kau biasa datang bulan, Gis?" Tanya Bobby lagi.


Giska seketika mengerutkan keningnya, Kenapa Bobby menanyakan tanggal datang bulannya? Pikirnya.


"Heii, kok diam? Kapan kau datang bulan biasanya?" Bobby mengulang pertanyaannya.


"Biasanya sih pertengahan bulan." Jawab Giska ragu.


"Pertengahan bulan? Berarti saat kau masih berada di Surabaya kemarin ya, Gis? Saat itu kau datang bulan apa tidak?" Bobby bertanya lagi.


Giska nampak berpikir, Benar juga ya, saat ia berada di Surabaya beberapa waktu yang lalu, itu tepat pertengahan bulan. Tapi saat itu ia tidak datang bulan, bahkan sampai hari ini ia juga belum datang bulan. Kalau di ingat-ingat, ia sudah telat selama semingguan ini.


"Heii, malah diam lagi? Datang bulan apa tidak saat kau di rumah?" Bobby mengulang pertanyaannya.


"Tidak. Aku belum datang bulan sampai sekarang. Kayaknya sudah lewat semingguan deh, Bli." Ujar Giska, "Kenapa memangnya, Bli?" Tanyanya kemudian.


"Nah, kan. Kau mual dan muntah. Kau juga sudah seminggu telat datang bulan. Itu semua tanda-tanda hamil, Gis." Ucap Bobby dengan penuh keyakinan. Tangannya pun langsung mengusap perut datar Giska. "Ada kehidupan baru di dalam sini." Imbuhnya.


"Aahh, masa sih, Bli? Apa iya aku hamil?" Giska nampak tak percaya. "Kita nikah belum ada satu bulan, kan? Masa iya aku langsung hamil?" Imbuhnya.


"Bisa lah. Kenapa memangnya kalau belum ada sebulan kita menikah? Kita kan sudah melakukan itu berkali-kali. Bahkan setiap melakukan itu aku selalu menyemburkan benihku ke rahimu dengan sangat dalam. Mungkin saja saat malam pertama kita, saat itu kau sedang dalam masa subur. Jadi ya ada banyak kemungkinan kalau kau hamil." Ucap Bobby sangat yakin.


"Haa?" Giska nampak masih bingung.

__ADS_1


"Jangan bingung, Gis. Aku harap sih kau memang benar hamil. Biarkan saja kalian berdua hamil bersama-sama." Celetuk Bobby.


"Hamil bersama? Kalian? Aku semakin bingung, Bli." Giska masih tak menangkap maksud ucapan Bobby.


"Tia tadi juga bilang kalau dia juga terlambat datang bulan. Dia bilang mungkin saat ini dia lagi hamil. Itu artinya kalian berdua sama-sama hamil." Jelas Bobby.


Degggg!!!!


Jantung Giska seolah berhenti berdetak sejenak.


"Bu Tia hamil?" Batinnya.


Entah kenapa hati Giska terasa sakit saat Bobby mengatakan Tia juga hamil. Pikiran negativ pun muncul. Detik itu juga Giska langsung membayangkan saat Bobby memasukkan Joni ke dalam lubang milik Tia. 'Kapan itu semua terjadi? Apakah saat ia pulang ke Surabaya? Seperti apa saat mereka melakukan itu?' Berbagai pertanyaan konyol muncul dalam benaknya.


"Astaga, kenapa aku memikirkan itu semua?" Batin Giska saat ia tersadar, ia tidak seharusnya merasa sakit hati dan ia juga tidak seharusnya memikirkan itu semua. Lagipula Tia dan Bobby kan memang suami istri, dan suami istri wajar kalau melakukan hubungan itu.


Mungkin memang seperti inilah rasanya berbagi suami. Apa yang Giska rasakan, mungkin juga di rasakan oleh Tia. Hati Tia pasti sakit saat membayangkan Bobby memasukkan Joni ke lubang milik Giska, begitupun sebaliknya, hati Giska sakit saat membayangkan Bobby memasukkan Joni ke lubang milik Tia.


Giska yang masih belum mencintai Bobby saja sudah merasa sakit, apalagi Tia, wanita yang sudah 5 tahun menjadi istri Bobby. Lalu apa kabar perasaan para wanita di luaran sana yang di poligami oleh suaminya? Bahkan ada suami yang memiliki 3 sampai 4 istri. Aakhhhh, poligami memang menyakitkan.


_________


"Euummm, bukan tidak senang, Bli. Aku hanya tidak yakin saja kalau aku hamil." Lirih Giska. Giska merasa yakin kalau dirinya tidak hamil. Mual dan muntah yang ia alami barusan, mungkin di sebabkan karena penyakit maagnya kambuh. Karena 3 harian ini pola makannya tidak teratur. Mungkin itu salah satu penyebabnya.


"Ohh iya, selamat atas kehamilan Bu Tia, Bli." Ucap Giska dengan sangat jelas.


"Iya, Gis." Bobby mengiyakan dengan ragu. Kini ia menyadari bahwa dengan ia bicara mengenai Tia, itu membuat Giska merasa tak nyaman.


"Astaga, kenapa aku bisa keceplosan begini sih? Kenapa aku langsung membahas tentang Tia di depan Giska." Sesal Bobby. Entah kenapa saat membahas kehamilan ia jadi semangat. Bahkan sebenarnya ia belum tau apakah Tia benar hamil atau tidak. Apakah Giska juga benar hamil atau tidak. Dan kalaupun Giska benar hamil, ini tentu akan menjadi kabar bahagia. Namun, kalau Tia benar hamil, ini akan menjadi berbeda. Mungkin segalanya akan menjadi rumit nantinya.


Bukan maksud Bobby untuk tak menerima Tia kalau ia benar hamil. Kalaupun Tia hamil dan itu benar anak dari Bobby, Bobby pasti akan sangat bahagia. Tapi, bagaimana dengan Roy nanti? Bagaimana dengan janji yang Bobby ucapkan sendiri untuk membuat Tia mendapatkan kebahagiaan bersama orang yang tepat? Itulah yang menjadi rumit, jika itu benar terjadi.


_________


Back to Bobby dan Giska.

__ADS_1


"Biar semuanya jelas, besok pagi kau harus melakukan test, Gis." Tutur Bobby.


"Test? Test kehamilan maksudnya?"


"Iya, test kehamilan."


"Tapi aku tidak memiliki alatnya." Jawab Giska polos.


"Iya, setelah ini aku akan membelikannya. Kebetulan apoteknya juga tidak jauh dari sini."


"Iya, iya, Bli." Kepala Giska manggut-manggut.


"Aku rasa percuma saja, Bli. Ini mungkin penyakit maag ku kambuh." Batin Giska dalam hati. Ia hanya bisa membantin saja. Ia tak enak jika harus mengatakannya kepada Bobby, apalagi saat melihat ekspresi Bobby yang sepertinya sangat berharap kalau Giska benar hamil.


***


Setelah drama antara benar hamil atau tidak itu selesai. Bobby langsung menyuapi Giska makan. Setelah selesai, ia pun membawa Giska ke kamar, lalu ia meminta Giska untuk istirahat. Sementara ia sendiri langsung pergi keluar untuk membeli alat test yang akan di gunakan Giska besok pagi.


Jarak apotek yang tak jauh dari perumahan itu, membuat ia tak harus berlama-lama berada di luar. Setelah mendapatkan alat itu ia pun langsung kembali pulang ke rumah Giska.


_________


"Gis, besok pagi kita akan tau hasilnya." Ucap Bobby. Ia meletakkan kantong plastik berisi alat test itu ke atas meja. Kemudian ia langsung merangkak naik ke kasur dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Giska.


"Iya, Bli."


"Mendekatlah, Gis!" Perintah Bobby. Giska pun langsung menggeser tubuhnya lebih dekat lagi dengan Bobby. Dan Bobby pun langsung memeluk Giska.


"Aku sangat merindukanmu, Gis. Rasanya 3 hari ini hidupku ada yang kurang karena tidak bisa memelukmu seperti ini. Sebenarnya malam ini begitu aku bertemu denganmu, aku ingin langsung memakanmu, tapi aku rasa aku harus menahannya dulu." Batin Bobby seraya memeluk Giska. Lalu kecupan singkat pun mendarat di kening Giska.


"Semoga saja kau benar hamil."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2