
"Maksudmu kita berdua? kau takut, dia memecatmu?" tanya Giska.
"Bukan hanya itu saja, Gis. Ini menyangkut nyawa Ibuku." Kadek berucap pelan.
"Haa?" mulut Giska menganga, "Jangan bilang, dia mengancam ibumu?"
"Dasar pria itu! pria tidak tau malu!" Giska menggerutu kesal.
"Bukan, Gis. Kau jangan selalu berpikiran buruk kepada Pak Bobby."
"Bagaimana tidak berpikiran buruk. Lihat saja tingkahnya itu!"
"Tapi, Gis, aku rasa kau mulai menyukainya." Kadek menyela.
"Heh, kau yang benar saja. Mana mungkin aku menyukai suami orang lain. Apalagi pria menyebalkan itu!" Giska tak terima dengan ucapan Kadek.
"Benarkah?" Kadek menatap Giska penuh selidik.
"Ehh, kenapa kau malah mengalihkan pembicaraan, Dek. Ayo katakan! kenapa Ibumu bisa terkena imbasnya juga?" Giska kembali bertanya.
"Jadi begini, Gis. Ibuku sedang sakit, dia sedang di rawat di rumah sakit di dekat kampung ku sana. Selama ini, Pak Bobby lah yang membiayai pengobatan Ibuku." Tatapan Kadek berubah sendu.
"Ibumu sakit apa, Dek?"
"Ginjal. Saat ini Ibuku sedang memerlukan pendonor ginjal, Gis. Apa kau tau? Pak Bobby juga membantuku mencari donor untuk Ibuku. Tadi Pak Bobby memberitahuku, jia ia sudah menemukan ginjal yang tepat, dan cocok untuk Ibu ku. Tetapi, sebelum itu, dia memintaku membujukmu, agar kau mau menikah dengan nya. Kalau tidak, dia tidak akan membiayai Ibuku lagi, dan dia akan membatalkan pendonor itu."
"Aku mohon, Gis, pertimbangkan ini kembali. Maaf jika aku terkesan egois dan memaksamu. Jika saja aku bisa mengatasi masalah Ibuku sendiri. Aku tidak akan meminta hal ini padamu. Mungkin aku akan membantumu mencari uang 50 juta itu, untuk di kembalikan kepada Pak Bobby." Kadek berucap sampai menitihkan air mata.
Giska langsung memeluk Kadek, ia juga ikut sedih melihat Kadek sampai menangis seperti ini. Ia mengerti bagaimana rasanya berjuang untuk orang tua yang amat di sayangi.
"Dek, aku sudah memutuskan, akan menikah dengan nya." Ucap Giska.
"Maafkan aku, Gis. Maafkan aku, karena permintaan konyolku ini, kau jadi mengorbankan hidupmu." Kadek memeluk Giska dengan sangat erat.
"Tidak, Dek. Aku mengambil keputusan ini, bukan semata-mata karena permintaanmu. Selain karena uang 50 juta itu, aku melakukan ini, supaya aku bisa mendapat uang, untuk ku kirimkan kepada Bapak ku di kampung." Ujar Giska. Kadek pun langsung melepas pelukan nya. Kini ia menatap Giska.
__ADS_1
"Uang untuk apa, Gis?"
"Untuk memperbaiki rumah. Atap rumahku rusak, Dek. Kasihan Bapak, tidak bisa memiliki rumah yang layak."
"Apa aku terlihat seperti perempuan murahan, Dek? yang mau menikah dengan suami orang, hanya demi uang." Giska bertanya.
"Kau perempuan baik, Gis. Aku tau, kau tidak akan mau melakukan ini, jika saja tak terdesak keadaan seperti ini. Meskipun aku baru mengenalmu, tapi aku tau, kau bukanlah perempuan yang jahat." Kadek kembali memeluk Giska.
"Terimakasih, Dek. Kau sudah mau berteman denganku." Ucap Giska tersenyum, lalu ia melepas pelukan Kadek.
"Gis, apa kau yakin dengan keputusanmu ini? kau mengorbankan masa depanmu, karena ingin membantuku dan juga demi mendapat uang untuk memperbaiki rumahmu. Apa kau tau, jika sudah menikah, pria dan wanita akan melalukan itu? Apa kau rela, menukar hidupmu hanya demi ibuku dan juga uang?" Kadek merasa kasihan dengan Giska, sebagai seorang teman, pastinya ia tidak ingin menjerumuskan temannya sendiri. Tetapi, mau bagaimana lagi, ia sendiri tak mampu berbuat apa-apa.
"Apa yang perlu ku pertahankan, Dek. Keperawananku pun sudah lama hilang, bahkan sejak aku umur 11 tahun. Dan jika saja kau tau, siapa yang merenggutnya, mungkin kau menatapku jijik kepadaku." Batin Giska, ia tersenyum miris, mengingat masa depan nya yang hancur.
"Aku yakin, Dek. Kau tidak usah mencemaskanku. Apa kau tau? saat di warung milik Mbok Wayan, aku sudah menyetujui permintaan Bobby. Tapi, aku kembali menarik persetujuanku. Untuk sekarang ini, akan ku pastikan, aku tak akan mundur lagi." Ucap Giska.
"Hmm, aku tau jika Pak Bobby menemuimu di sana. Aku juga tau, kalau Pak Bobby juga nekat menciummu di sana."
"Eh, kau tau dari mana?"
"Dia tidak menyukaiku, Dek. Dia hanya ingin meniduriku saja." Batin Giska.
"Jadi, Mbok Wayan melihat semuanya?"
"Iya lah."
"Aku jadi tidak enak. Pasti dia mikir yang tidak-tidak tentangku."
"Tidak akan, dia bukan orang yang seperti itu." Kadek menenangkan Giska.
"Hmm, eh, Dek. Aku mau tanya. Apa sih maksud nya kenyang Bali atau kenyang Jawa?" Giska kembali mengingat perkataan Bobby tadi.
Kadek tersenyum, "Kenyang Jawa itu, ya kenyang setelah makan. Kalau kenyang Bali itu, sesuatu milik kita berkedut, atau bisa di bilang lagi, pengen itu." Kadek menjelaskan tanpa malu.
"Astaga," Giska menutup wajahnya, "Aku salah menjawab tadi. Pantas saja dia langsung memeluk dan menciumku. Aaaa aku malu." Teriak Giska dalam hati.
__ADS_1
***
Setelah Giska berbicara dengan Kadek. Besok nya, Giska langsung mengatakan kepada Bobby, bahwa ia setuju menikah. Tetapi, syaratnya masih berlaku. Yaitu, meminta persetujuan dari istri pertama. Lalu memberi uang 9 juta, dan terakhir, Giska mau menikah setelah usia nya genap 17 tahun. Karena, kebetulan hanya kurang 1 bulan lagi, usia Giska tepat 17 tahun.
Bobby pun menyetujuinya. Bobby memutuskan, mereka akan menikah setelah 2 bulan, yang artinya, usia Giska saat itu sudah 17 tahun, lebih 1 bulan.
2 bulan kemudian.
Giska tak menyangka, jika istri Bobby menyetujui pernikahan ini. Giska merasa bingung, kenapa wanita itu mau membagi suaminya dengan wanita lain? namun, ia tak begitu memperdulikannya. Yang terpenting adalah ia sudah bisa membantu Ibu nya Kadek, ia juga sudah bisa memperbaiki rumah nya yang rusak. Ya, setelah Giska mengatakan keputusannya waktu itu, Bobby langsung mengurus oprasi donor ginjal kepada Ibu nya Kadek. Tak hanya itu saja, Bobby juga sudah memberi uang kepada Giska, dan Giska pun langsung mengirim uang itu ke kampung.
Hari ini, Bobby dan Giska sudah resmi menjadi suami istri. Biasanya pasangan yang baru menikah, mereka merasa sangat bahagia, bukan? namun, berbeda dengan pasangan Bobby dan Giska, di pernikahan ini, Bobby lah yang terlihat bahagia, namun, tidak dengan Giska. Wajah Giska selalu terlihat murung, ia bahkan tak tersenyum sama sekali. Di satu sisi, ia merasa terpaksa melakukan pernikahan ini, di sisi lain, ia sedih, karena saat ia menikah, ia malah menutupi pernikahan nya dari Bram, Bapak nya sendiri. Bukan Giska tak menghormati atau menyayangi Bram, Giska berpikir jika Bram tau, ia pasti tak di izinkan menikah dengan Bobby. Lagipula, Giska berpikir, mungkin saja pernikahan ini hanya untuk sementara, ia pikir, jika suatu saat Bobby sudah tak menginginkan nya, bisa saja ia langsung di ceraikan oleh Bobby. Giska benar-benar menganggap pernikahan ini hanya sebagai kesepakatan saja.
˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚
"Gis, kemarilah!"
Giska pun menurut, ia berjalan menghampiri pria yang kini sudah menjadi suami nya itu.
"Lepas semua pakaianmu!" titah Bobby.
"Kenapa?" kening Giska berkerut.
"Masih tanya kenapa? aku meninginginkanmu saat ini juga. Ayo lepaskan!" perintah Bobby sekali lagi.
"Inikah yang dinamakan pernikahan?" Giska tersenyum miris. Hidupnya benar-benar miris.
"Aku tidak mau melakukannya!" Giska menolak.
"Harus mau!" Bobby langsung menarik tubuh Giska ke kasur. Kini Bobby sudah menindih tubuh Giska.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...