
Dua bulan kemudian...
Usia kandungan Tia sudah memasuki trimester akhir. Kini hanya tinggal menunggu hari saja untuk melahirkan.
Mendekati hari akan melahirkan, Tia selalu meminta Bobby untuk lebih sering berada di rumah. Ia tak ingin kerepotan sendiri jika tiba-tiba perutnya mulas nanti.
Tia benar-benar memanfaatkan kehamilannya ini untuk membuat Bobby jauh dari Giska. Dan ia berhasil melakukannya. Ia merasa sangat gembira karena selama dua bulan terakhir ini, Bobby jarang pergi ke rumah Giska. Bahkan jika ke sana pun dia tak pernah menginap. Ya, karena setiap kali ke sana, ia selalu ikut bersama Bobby.
Sebenarnya bisa saja Bobby menolaknya seperti di awal-awal ia menikahi Giska dulu, tetapi kali ini Bobby tak menolak Tia. Dan ini benar-benar membuat Tia merasa menang.
Dibalik ini semua sebenarnya bukan hanya kehamilannya saja yang berperan, tetapi dari Giska sendiri juga sangat berperan dalam membuat sikap Bobby yang berubah sekarang ini.
Karena Giska tetap bersikeras ingin mengadopsi anak dari Trias, jadilah membuat Bobby merasa sedikit malas.
"Ternyata gadis ****** itu berguna juga. Mengapa tidak dari dulu saja gadis itu hamil dan anaknya di adopsi oleh Giska. Maka aku tidak akan menderita lama-lama kan?" gumam Tia, tersenyum.
"Giska, kau siap-siap saja. Setelah anakku lahir, kau akan segera dibuang oleh Bobby. Aku bisa jamin, Bobby tidak akan pernah mau denganmu lagi." Tia tersenyum licik.
Namun senyuman itu seketika memudar ketika ia baru saja mendapat pesan dari Roy.
{ Datanglah sekarang. Hasilnya akan keluar hari ini. Apa perlu aku jemput kau di rumahmu? } Roy.
Tia lalu membalas pesan itu. { Ya, aku akan datang sekarang. } Tia.
Ia kemudian segera bersiap-siap untuk pergi menemui Roy.
"Kau mau pergi?" tanya Bobby. Ia baru saja pulang dari bengkel dan bertemu Tia di depan pintu rumah.
"Iya, Pa. Hanya sebentar saja."
"Baiklah, ayo ku antar," putus Bobby.
"Tidak perlu, Pa. Aku hanya ingin jalan-jalan saja di dekat sini sebentar. Kau istirahat saja di dalam. Tadi Bi Eka sudah memasak makanan untukmu," ucap Tia, menolak Bobby. Tentu saja ia menolak, karena ia akan pergi menemui Roy.
"Tumben? Biasanya kau selalu ingin aku yang mengantarmu pergi?" Bobby mengernyitkan keningnya.
"Iya, kali ini aku sedang ingin sendiri. Lagipula juga hanya di sekitaran sini saja," sahut Tia.
"Baiklah. Tapi apa kau yakin bisa jaga diri? Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu, apalagi kandunganmu sudah sangat besar," ucap Bobby.
"Iya aku akan jaga diri. Kau jangan cemas." Tia melempar senyuman kepada Bobby.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Aku juga akan pergi ke tempat Giska," putus Bobby.
"Ke tempat Giska?" Tia menjadi tak suka.
"Iya. Apa kau mau ikut? Kalau mau ikut, kita ke tempat Giska sebentar baru aku akan mengantarmu ke tempat yang ingin kau tuju," tawar Bobby.
"Tidak. Kau saja sendiri yang ke sana, Pa," ujar Tia. Meski sebenarnya ia tak suka jika Bobby pergi ke tempat Johan, tetapi kali ini ia juga tak bisa ikut dengannya karena ia harus segera menemui Roy untuk urusan penting.
"Kau yakin?" Bobby kembali memastikan.
"Iya."
"Ya sudah. Aku pergi dulu." Bobby akhirnya kembali masuk ke dalam mobilnya, dan segera melajukannya menuju ke rumah Giska.
Sementara Tia, ia juga segera pergi setelah memastikan Bobby pergi. Ia pergi bersama taksi online yang sudah ia pesan.
***
Bobby sedang dalam perjalanan menuju rumah Dinar. Di pinggir jalan ia melihat toko buah-buahan yang sepertinya baru buka. Karena sebelumnya saat ia melewati jalanan ini, ia tak pernah melihat toko buah itu. Ia pun lalu meminggirkan mobilnya dan menghetikannya di toko buah itu.
"Aku akan membelikan Dinar buah," gumamnya. Ia pun segera turun dari mobil, lalu segera masuk ke dalam toko buah itu.
"Bungkuskan jeruk, kiwi dan juga melon. Jeruk dan apel masing-masing dua kilo, lalu melonnya berikan dua buah," pinta Bobby pada pemilik toko itu.
Sembari menunggu buah pesanannya selesai dibungkus, tiba-tiba saja ia menelan ludahnya berkali-kali saat melihat buah mangga di hadapannya.
"Boleh pinjam pisaunya?" tanya Bobby.
"Ini, Pak." Penjual buah itu memberikan pisau kepada Bobby. Dan Bobby langsung mengambil mangga itu, lalu mengupasnya dan langsung memakannya.
Tak hanya satu mangga saja, ia bahkan sudah menghabiskan empat buah mangga dalam waktu sekejab. Setelah memakan mangga kemudian ia beralih memakan nangka yang sudah dibungkus rapi itu. Dua bungkus nangka juga ia habiskan dalam waktu yang tak lama.
Penjual buah itu hanya menatap Bobby saja sejak tadi. Sesekali dia juga menelan ludahnya saat melihat Bobby dengan lahap memakan buah yang ia jual ini.
"Apa buahku sangat enak sehingga Bli ini memakannya dengan sangat lahap? Atau mungkin dia sedang kelaparan ya?" gumam penjual buah itu seraya menatap Bobby heran.
"Mengapa menatap saya seperti itu?" tanya Bobby.
"Tidak, Bli. Emm saya jadi ingin ikut makan buah saat melihat anda makan tadi," celetuk penjual buah itu.
"Oh, maaf-maaf. Aku tidak bisa mengontrol diri saat melihat mangga dan nangka itu. Jadi aku langsung memakannya," ucap Bobby.
__ADS_1
"Tidak masalah, Bli." Penjual buah itu tersenyum.
"Entah mengapa aku jadi rakus seperti ini," gumam Bobby, seraya ia menyerahkan uang lima ratus ribu kepada penjual buah itu.
"Apakah kurang?" tanya Bobby kemudian.
"Tidak, Pak. Justru ini masih ada kembaliannya."
"Ohh ambil saja. Saya permisi." Bobby langsung pergi dari sana seraya menenteng dua kresek berisi buah di tangannya.
Beberapa menit kemudian...
Sampailah Bobby di rumah Giska. Ia segera masuk ke dalam rumah itu. Saat tiba di dalam, ia malah melihat Trias. Ia menghela napasnya lalu menghembuskannya sedikit kasar. Hal seperti sudah biasa terjadi selama dua bulan terakhir ini. Ia selalu melihat Trias di sini.
"Dimana istriku?" tanyanya langsung pada Trias.
"Giska sedang berada di kamar mandi, Bli. Tiba-tiba saja perutnya mules katanya," jawab Trias.
"Di kamar mandi mana?" tanya Bobby lagi.
"Kamar mandi luar, Bli."
Bobby seketika langsung meletakkan dua kresek buah itu ke atas meja. "Makanlah jika kau mau," tawarnya pada Trias. Lalu ia melenggang pergi dari sana setelahnya.
Ia langsung mencari Giska di kamar mandi yang ada di dekat dapur. Namun pada saat ia akan mengetuk pintu, Giska sudah lebih dulu keluar dari kamar mandi.
"Bli Bobby," lirih Giska.
"Kau kenapa bisa sakit perut?" tanya Bobby langsung. Ia kemudian memegangi bahu Giska, lalu ia memapah Giska untuk duduk di kursi yang ada di dekat sana.
"Wajahmu sampai pucat seperti ini. Apa yang kau makan tadi?" Bobby kembali bertanya.
"Aku makan seperti biasa, makan masakanku sendiri, Bli. Entahlah mengapa perutku tiba-tiba mulas. Aku pikir ingin buang air besar tetapi saat aku sudah di dalam kamar mandi, aku sama sekali tak buang air besar," jawab Giska.
"Ayo kita ke dokter saja," ajak Bobby.
"Tidak, Bli."
"Kau sangat pucat, Gis. Mungkin kau keracunan makanan!" seru Bobby.
"Aku...." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Giska jatuh pingsan di dalam dekapan Bobby.
__ADS_1
Bersambung...