Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Bukan Waktu Yang Tepat


__ADS_3

Setelah mendapat nasehat dari ibu mertuanya, Giska pun langsung melenggang pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel agar bisa menelpon Bobby. Sesampainya di kamar, ia pun langsung menelpon Bobby dengan ponselnya. Meski perasaannya masih aneh, akan tetapi ia tetap memberanikan diri bicara pada Bobby. Seperti halnya saat ini.


"Jangan pernah mengulanginya lagi, Sayang. Aku tak suka kau seperti ini. Kau ini istriku, jika ingin melakukan apapun harus atas izinku. Seperti saat kau pulang ini, harusnya kau izin dulu padaku." Bobby bicara tegas namun dengan suara yang lembut. Ia pun menerocos tanpa henti menasehati Giska.


"Apapun keadaannya, kau harus memberitahuku dulu. Aku suamimu, kau istriku. Kemanapun kau pergi, aku yang harus mengantarmu, apalagi kalau pulang ke Surabaya seperti sekarang ini. Harus aku yang mengantarmu. Kau itu tanggung jawabku sekarang. Jadi apapun yang kau rasakan, kau harus katakan padaku. Jangan menyimpannya sendirian seperti saat ini." Bobby masih meneruskan menasehati Giska.


Giska pun terdengar menghela napasnya. Satu sisi ia senang mendengar nasehat Bobby, seakan ia adalah istri yang dicintai Bobby. Namun di sisi lain, hatinya masih kecewa dengan Bobby.


"Bapakku sakit, Bli. Jika aku harus menunggu minta izin dulu darimu, itu artinya aku harus menunda kepulanganku. Apalagi kau kan sedang bersama kebahagiaanmu. Mau sampai kapan aku menunggu izin darimu. Kalau terlalu lama, kan kasian bapakku," ucap Giska sedikit emosional, mengingat malam itu saat ia tiba - tiba ditinggal oleh Bobby sendirian di rumah setelah ia dan Bobby melakukan hubungan suami istri. Pada saat itu juga ia telpon langsung dimatikan. Rasa kecewa itu pun masih terasa sampai detik ini.


"Kau kan bisa menelponku, Sayang. Aku akan langsung menjawabnya," balas Bobby di sebrang sana.


"Tak mungkin aku membiarkanmu menunggu, Sayang. Apalagi jika aku tau bapak sedang sakit. Detik itu juga aku akan langsung mengantarmu," tambahnya.


"Halah bohong!" tampik Giska.


"Kok bohong? Sungguh, Sayang."


"Buktinya apa? Waktu itu saat aku menelponmu, kau merijectnya. Lalu ku telpon lagi, kau malah mengira kalau aku adalah Bu Tia. Kau bahkan tak melihat namaku di sana. Kau juga bahkan tak menelponku," ketus Giska.


"Maafkan aku, Sayang. Saat itu aku----"


"Sudahlah, Bli Bobby. Jangan diteruskan lagi. Aku tau diri kok," potong Giska.


"Jangan berpikiran buruk, Sayang. Aku tetaplah sama. Tetap suamimu yang mencintaimu. Ku mohon, kau cepat kembali ke sini ya. Aku sudah sangat merindukanmu," ucap Bobby.


"Bagaimana aku di suruh cepat kembali ke Bali? Bapakku masih sakit. Dan aku sendiri bahkan masih belum kepikiran untuk kembali ke sana, Bli," ucap Giska.


"Kok belum kepikiran? Harus kepikiran dong, Sayang. Kau jangan memikirkan hal buruk lagi. Kau harus segera kembali ke Bali bersama Ajik dan Ibu dan juga Bapak. Ajak Bapak ke Bali. Biarkan Bapak tinggal bersama kita di sini," tutur Bobby.


"Nanti setelah Bapak sehat dan kondisi di sini juga sudah baik, aku akan segera memenuhi janjiku pada Bapak," ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Sudahlah, Bli. Jangan bahas masalah janji lagi. Nyatanya sudah lebih dari 3 bulan janji itu masih belum bisa terpenuhi," sahut Giska.


"Sudahlah, nanti kita sambung lagi. Di sini masih ada banyak orang. Ada Ajik dan Ibu juga. Aku tidak enak jika berada di dalam kamar terlalu lama. Lagipula juga aku harus melihat keadaan Bapak."


"Baiklah, Sayang. Jaga dirimu di sana. Ingat ada suamimu yang menunggu di sini. Jika perlu apa - apa, langsung kabari aku."


"I love you," ucap manis Bobby.


"Hmmm." Giska hanya berdehem. Lalu kemudian mereka berdua sama - sama mengakhiri panggilan telponnya.


"Kau selalu mengataka i love you padaku, Bli. Tapi entah kenapa aku masih merasa jika aku bukan pilihan terbaikmu," batin Giska sendu.


Tak bisa dipungkiri, bimbang dihatinya masih tak mau hilang. Namun sejujurnya ia juga merasa bahagia karena bisa bicara dengan Bobby dengan waktu yang lumayan lama.


______


"Bagaiamana, Nak? Sudah bicara dengan Bobby?" tanya Ajik Gung De.


"Apa katanya?" timpal Bu Astuti.


"Bli Bobby ingin aku segera kembali, Bu. Tapi kan aku masih belum bisa ke sana. Aku masih mau di sini dulu," jawab Giska.


"Iya, Nak. Ibu mengerti. Kami akan berada di sini, menemanimu. Kamu juga mau menjaga Pak Bram. Nanti setelah 2 atau 3 hari, biar kami yang bicara pada Pak Bram. Ibu dan Ajik akan mengajak Pak Bram ke Bali," tutur Bu Astuti.


"Tapi untuk saat ini jangan bahas apa - apa dulu di depan Bapak, Bu. Aku takut Bapak akan kaget nanti," pinta Giska.


"Iya, Nak. Ibu juga sudah memikirkannya. Nanti kita akan bicara setelah keadaan Pak Bram membaik."


"Sudah jangan banyak pikiran lagi. Kau harus tenang ya. Kita jaga Pak Bram bersama - sama," tutur Bu Astuti.


"Iya, Bu."

__ADS_1


***


5 hari telah berlalu. Keadaan Pak Bram bisa dibilang membaik tetapi juga bisa dibilang sedikit memburuk. Sejak kejadian 5 hari yang lalu sampai hari ini, Pak Bram sudah terlihat lebih sehat dan segar, dari segi wajahnya. Namun dari segi tubuhnya, tidak.


Wajahnya sudah tak terlihat pucat. Dia bahkan juga sudah mau makan dan bicara seperti biasa. Namun badannya, terutama kakinya, terasa lemas. Bahkan untuk berjalan saat ini harus selalu dibantu.


Giska sendiri masih berada di rumah sampai saat ini. Ia memilih tetap di rumah karena ia mau mengurus bapaknya. Lagipula tak mungkin ia meninggalkan bapaknya sendirian di rumah, apalagi dalam kondisi kurang sehat seperti ini. Giska sendiri memilih melupakan apa yang sudah terjadi 5 hari yang lalu. Meski masih terasa berat namun ia berusaha untuk tak terus - terusan mengingatnya.


Dengan telaten Giska menjaga dan merawat Bapaknya. Ia seringkali menangis saat melihat keadaan bapaknya yang seperti ini. Ia pun sering memanjatkan doa pada Tuhan agar bapaknta segera disembuhkan dan disehatkan seperti sedia kala.


°°°°


Tak hanya Giska saja yang masih berada di sini bersama Pak Bram. Ajik Gung De dan Bu Astuti pun masih berada di rumah Pak Bram. Mereka berdua memilih menemani Giska di sini.


Pak Bram sendiri tidak merasa keberatan dengan keberadaan Ajik Gung De dan Bu Astuti. Meskipun ia sempat bertanya tentang kedua orang tua Bobby ini. Tetapi setelah Giska mengatakan kalau kedua orang tua Bobby ini adalah orang tua temannya yang sedang berlibur di Surabaya, jadi Pak Bram pun menerima dan tak mempermasalahkannya.


Namun sayangnya hari ini Ajik Gung De harus kembali pulang ke Bali karena pekerjaannya sudah menunggu. Dan rencananya, hari ini Ajik Gung De juga ingin sekalian membawa Pak Bram ke Bali. Sekalian bersama Bu Astuti dan Giska. Namun ia maupun istrinya masih belum mencoba bicara pada Pak Bram.


"Nak, keadaan Pak Bram sudah membaik. Ajik rasa ini waktu yang tepat untuk mengajak Pak Bram tinggal bersama kita di Bali," saran Ajik Gung De.


"Ajik mengatakan ini bukan karena Ajik dan Ibu keberatan berada di sini. Tapi ini juga demi kebaikanmu dan juga Pak Bram. Di sana kan nanti akan ada Bobby juga yang akan menjaga bapak mertuanya," ucapnya lagi.


"Coba saja Ajik bicara pada Bapak. Tapi jangan katakan tentang statusku bersama Bli Bobby ya, Jik. Aku rasa ini bukan saat yang tepat. Mungkin setelah Bapak benar - benar sehat nanti, baru aku akan memberitahunya," pinta Giska.


"Baiklah, Nak. Untuk saat ini biarkan Ajik bicara untuk mengajaknya tinggal di Bali."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2