
"Hari ini aku sangat bahagia, Pa." Ucap Tia dengan mata berbinar.
"Kenapa?" Respon Bobby.
"Sepertinya, keinginan kita akan terkabul, Pa." Ucap Tia penuh teka-teki.
"Keinginan apa?"
"Anak."
"Anak? Maksudmu?" Bobby semakin bingung dengan Tia.
"Sepertinya aku hamil, Pa." Ungkap Tia dengan mata berbinar.
Mendengar ucapan Tia, Bobby langsung reflek membuat Tia turun dari pangkuannya.
"Apa katamu tadi? Hamil? Kau hamil anak kekasihmu itu?" Bobby menatap Tia penuh tanya.
"Apa maksudmu?!" Tia menatap kesal pada Bobby.
"Tentu ini anakmu!" Sambungnya.
"Bagaimana mungkin?" Bobby mengalihkan pandangannya.
"Tentu saja mungkin. Apa kau lupa waktu itu kita melakukannya di sofa rumah kita. Kau bermain sangat ganas, sampai-sampai benihmu keluar begitu banyak. Meski kau terlalu cepat menariknya hingga semua tercecer di pahaku, tapi setengahnya sudah kau semburkan di rahimku." Ungkap Tia.
Seketika Bobby pun terdiam. Ia mengingat kejadian di malam itu. Senyum tipis pun nampak tergambar di sudut bibirnya. "Benarkah ini semua?" Batinnya.
"Tapi, apakah bisa secepat itu?" Tanyanya dalam haati. Rasanya baru sekitar 2 mingguan terakhir ia melakukan itu dengan Tia. Apakah mungkin Tia akan hamil anaknya dalam waktu yang cepat? Sedangkan dulu dalam satu tahun mereka menikah, hampir setiap hari melakukan itu, namun Tia tak kunjung hamil. Lalu sekarang, mungkinkah dalam 2 minggu Tia hamil?
Benarkah anak itu miliknya? Atau anak itu milik Roy, pria yang sering menghabiskan waktu bersama Tia?
Keraguan pun muncul di dalam benak Bobby. Namun meski ada keraguan, tetap saja ia masih menyimpan sedikit harapan.
"Apa kau serius dengan ucapanmu itu, Tia? Maksudku apa kau sudah memeriksanya dengan benar?" Kini Bobby menatap Tia dengan tatapan penuh harap. Berbeda dengan sebelumnya saat ia memalingkan wajahnya di depan Tia, kini ia malah menatap Tia dengan penuh harap.
"Eumm, ini masih dugaanku saja, Pa. Aku belum melakukan test." Lirih Tia, "Tapi, aku yakin kalau aku memang benar-benar hamil, Pa." Sambungnya.
"Darimana kau bisa yakin? Apa kau sudah mual dan muntah?"
"Belum sih, Pa. Tapi sudah beberapa hari ini aku terlambat datang bulan, Pa." Ujar Tia.
"Lebih baik kau periksa dulu, Tia. Supaya kita tidak menduga-duga seperti ini."
"Iya, Pa."
"Pulang yuk, Pa. Sudah sore ini, eh menjelang malam." Tia tersenyum.
Bobby mengangguk.
_______________
"Apa sebaiknya kita periksa ke dokter sekarang?" Tawar Bobby. Saat ini ia sedang bersama Tia di dalam mobil, perjalanan hendak pulang ke rumah.
"Agar kita tau, kau benar hamil atau tidak." Tambahnya.
"Jangan ke dokter dulu, Pa. Kita mampir ke Apotek saja ya. Aku mau beli alat test kehamilan." Ujar Tia.
"Oke, itu di depan sana ada Apotek." Bobby pun mengikuti kemauan Tia.
Ckiittt....
Bobby menepikan mobilnya, ia berhenti tepat di depan sebuah Apotek. Tanpa di minta, Tia pun langsung turun dan membeli alat test kehamilan di Apotek itu. Setelah membelinya, Tia pun langsung kembali masuk ke dalam mobil.
"Sudah?" Tanya Bobby.
"Sudah, Pa. Ini," Tia menunjukkan alat test kehamilan itu kepada Bobby.
"Kata Mbaknya tadi lebih bagus di gunakan saat baru bangun tidur di pagi hari, Pa. Besok pagi aku akan langsung mencobanya." Ucap Tia girang.
"Oke. Mau ada yang di beli lagi atau kita langsung pulang sekarang?" Tanya Bobby.
__ADS_1
"Euumm, kita sekalian makan malam di luar ya, Pa. Itu di tempat favorit kita dulu." Ajak Tia, seraya mengelus lengan Bobby.
"Iya, baiklah." Bobby pun kembali melajukan mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju restaurant yang Tia ingin datangi.
_____________
Saat ini Bobby dan Tia sedang duduk di sebuah restaurant. Nampaknya keduanya baru selesai menghabiskan makanannya. Piring dan gelas bekas makanan dan minuman mereka, masih tertata di meja itu.
"Kalau kau sudah selesai, sebaiknya kita langsung pulang, Tia." Ucap Bobby.
Tia menghela napasnya, "Baiklah, Pa. Ayo."
"Mbak," Bobby melambaikan tangan pada waitrees restaurant. Sang Waitrees pun langsung berjalan menuju meja tempat Bobby dan Tia.
"Tolong ambilkan pesanan saya ya. Sekalian saya mau bayar." Ujar Bobby pada waitrees itu.
"Baik," waitrees itu pun mengangguk, lalu segera berjalan pergi dari sana.
Selang tak lama waitrees itu pun kembali seraya membawa bungkusan makanan di tangannya serta membawa papan tagihan untuk semua makanan yang di pesan oleh Bobby. Waitrees itu pun langsung memberikannya kepada Bobby dan Bobby pun langsung menerima dan langsung membayarnya.
Setelah membayarnya, Bobby pun beranjak bangun dari kursinya, lalu ia juga membantu Tia untuk berdiri.
"Tunggu, Pak. Ini masih ada kembalian 50 ribu." Ucap waitrees itu saat Bobby dan Tia hendak pergi meninggalkan restaurant.
"Tidak perlu, Mbak. Simpan saja untukmu." Ucap Bobby tersenyum.
"Terimakasih, Pak." Waitrees itu pun balas tersenyum kepada Bobby dan Tia.
_________
"Kau masih lapar, Pa?" Tanya Tia.
"Tidak."
"Lalu bungkusan ini?"
"Ini untuk Giska. Setelah aku mengantarmu pulang, aku akan langsung pergi ke tempat Giska. Hari ini aku akan menginap di sana." Jawab Bobby seraya fokus mengemudikan mobilnya.
Ekspresi Tia berubah masam. Ia menatap Bobby kesal. "Besok pagi aku mau mencoba alat test kehamilan. Tapi kau malah mau menginap di sana sekarang." Protes Tia.
"Apalagi yang bisa ku katakan." Gumam Tia kesal.
"Ya ya, baiklah." Ucap Tia malas.
***
Setelah mengantarkan Tia pulang ke rumah, Bobby pun langsung kembali melajukan mobilnya menuju rumah Giska.
Kini, ia sudah berdiri di depan pintu rumah Giska seraya membawa bungkusan makanan di tangannya.
Tanpa menunggu lama, ia pun langsung menancapkan kunci cadangan yang ia punya ke lubang pintu itu, namun kuncinya tak bisa masuk lebih dalam. Sepertinya kunci utama juga masih terpasang di balik pintu bagian dalam. Akhirnya, Bobby langsung menekan bel rumah, serta mengetok pintu itu berulang kali.
Tookk...
Tokkk...
Tokkk...
Giska yang mendengar ada orang mengetuk pintu, ia pun langsung mengintipnya dari jendela. Ia sedikit menbuka tirai jendelanya, lalu ia melihat siapa orang yang mengetuk pintu rumahnya di malam hari seperti ini.
"Bli Bobby?" Gumamnya. Senyuman tipis pun tergambar jelas di sudut bibirnya.
Tanpa menunggu lama, Giska pun langsung membukakan pintu untuk Bobby.
Ceklekk!
"Bli Bobby..."
Bobby tersenyum tipis, lalu ia memberikan bungkusan makanan itu kepada Giska. "Ambil ini." Ucapnya, lalu ia langsung menerobos masuk ke dalam rumah.
"Cepat tutup dan kunci pintunya, lalu cepatlah masuk, Gis!" Perintah Bobby.
__ADS_1
"Iya," Giska pun langsung menutup dan mengunci pintu rumahnya. Kemudian ia langsung mengikuti Bobby masuk.
"Apa ini?" Tanya Giska, ia melihat bungkusan yang Bobby berikan tadi.
"Makanan. Kau pasti belum makan, kan?"
"Tadi sore aku sudah makan, Bli."
"Apa malamnya kau tidak akan makan lagi? Ini aku sudah bawakan makanan untukmu, Gis. Tapi kalau kau tidak mau memakannya ya sudah jangan di makan." Ucap Bobby. Ia pun langsung duduk di sofa, tanpa melihat Giska.
"Bli Bobby marah padaku?" Giska meletakkan bungkusan itu di meja, lalu ia ikut duduk di sebelah Bobby.
"Tidak." Jawab Bobby singkat.
"Lalu kenapa bicara seperti itu? Bli Bobby sudah membawakanku makanan, tentu aku akan memakannya." Ucap Giska sendu. Entah kenapa ia tak ingin Bobby bersikap seperti ini. Padahal biasanya ia selalu takut saat Bobby bersikap mesra padanya, ia selalu ingin menjauh saat Bobby sudah mulai mesra padanya. Tapi hari ini, melihat sikap Bobby seperti ini ia justru semakin sedih.
"Katanya Bli Bobby mencintaiku. Bli Bobby bilang mau berjuang untukku, tapi kenapa Bli Bobby sekarang marah padaku?" Tambahnya.
"Beritau aku kalau aku sudah melakukan kesalahan. Maka aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku sudah berniat untuk menerima hubungan ini, kan. Maka bantu aku untuk mengerti." Sambungnya.
"Aku tidak marah padamu, Gis. Bagaimana bisa aku marah padamu. Aku sangat mencintaimu. Aku yang ingin rumah tangga kita berhasil. Jujur saja, aku sangat merindukanmu. 3 hari kita tidak bertemu, dan hari ini kita kembali bertemu, aku menahan diri agar tak memelukmu. Aku sengaja bersikap seperti ini agar kau sadar dan mau berkata jujur padaku." Batin Bobby menyesal. Ia menyesali sikapnya sendiri.
"Aku hanya ingin tau siapa yang mengambil hakku, Gis? Hanya itu saja! Tapi kau sama sekali tidak mau mengatakannya!" Desah Bobby.
Giska menghela napasnya, "Itu semua sudah menjadi masa laluku. Masa lalu yang berusaha aku lupakan. Kau memang suamiku, Bli. Tapi tidak semua tentangku harus kau ketahui. Ada beberapa kejadian di dalam hidupku, yang akan ku simpan sendiri. Kalau kau benar mencintaiku, ya sudah ayo kita bangun masa depan kita, tanpa harus menoleh ke belakang lagi. Jangan lagi mengingat dan membahas masa lalu." Harapnya.
Setelah ia bicara panjang lebar, ia langsung terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat. Bahkan telapak tangannya pun ikut menutupi mulutnya.
"Baiklah, terserah padamu. Jika kau tidak mau mengatakannya ya sudah." Pasrah Bobby.
"Mungkin saat ini kau belum mau cerita Gis, tapi aku janji, suatu hari nanti kau sendiri yang akan mengatakannya dengan suka rela." Batin Bobby.
Percuma selama beberap hari ini ia menahan diri dan bersikap cuek pada Giska, nyatanya semua itu tak membuahkan hasil apa-apa.
"Ya sudah, kau makanlah, Gis. Biar ku temani."
Giska menggeleng pelan.
"Kenapa? Tadi kau bilang kau mau makan." Heran Bobby.
"Apa kau marah padaku, sekarang?" Tanya Bobby.
Lagi-lagi Giska hanya menggelengkan kepalanya. Lalu detik selanjutnya, Giska langsung berdiri dan langsung berlari menuju wastafel dapur. Melihat Giska berlari, Bobby pun langsung ikut berlari menyusul Giska.
Hooeekkk... Hooekkkk...
Giska berdiri menunduk di depan wastafel. Ia memuntahkan isi di dalam perutnya. Namun, yang terlihat hanyalah air yang keluar dari mulutnya.
Bobby pun langsung memijat tengkuk Giska.
"Kau kenapa, Gis? Kenapa bisa muntah-muntah seperti ini?" Cemas Bobby.
Hooekkkk.... Hooekkkk...
Lagi-lagi air keluar dari mulut Giska. Ia pun berusaha mengeluarkan semuanya. Setelah di rasa mualnya sudah hilang, ia pun langsung membasuh mulutnya dengan air bersih dari kran wastafel itu.
"Apa sudah lebih baik?" Tanya Bobby yang masih memijat tengkuk Giska.
Giska mengangguk pelan. "Iya sudah." Jawabnya sedikit lemas.
"Kenapa kau sampai muntah seperti ini? Apa kau salah makan?" Tanya Bobby seraya membantu Giska duduk di kursi yang ada di dekat sana.
"Sepertinya tidak. Mungkin aku masuk angin." Jawab Giska.
"Ehh, sebentar... " Bobby menatap Giska dengan mata berbinar. "Giska... Apa kau juga hamil?" Tanya Bobby.
Giska seketika memelototkan kedua matanya. "Juga hamil? Maksudnya?" Bingung Giska.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...