
Dengan teliti Bobby membersihkan komedo yang ada di hidung Giska, menggunakan tissue yang ada di mobilnya.
Giska yang memiliki komedo itu, ia sampai jenuh karena suamimya tak kunjung selesai membersihkannya. Bahkan hidungnya sudah terasa sakit, sedikit perih karena sejak tadi terus dipencet oleh suaminya itu.
"Sudah cukup, Bli!" Giska mendorong tangan Bobby yang hendak kembali memencet hidungnya.
"Hidungku sakit ini! Merah pasti sekarang hidungku," protes Giska sambil memegangi hidungnya yang terasa sedikit perih.
"Tapi tadi masih ada komedonya, Sayang. Sedikit lagi bersih itu," ucap Bobby tanpa beban.
"Sebanyak apa sih komedoku? Sampai tidak bersih-bersih sejak tadi. Hidungku sampai sakit lho!" Giska menyebikkan bibirnya.
"Banyak tadi, Sayang. Kau sepertinya tidak pernah membersihkan hidungmu, makanya sampai menumpuk begitu," ucap Bobby.
"Ya memang tidak pernah. Perasaan biasa-biasa saja hidungku. Kau ini aneh sekarang, Bli. Tadi kau mengajakku datang ke sini katanya agar aku tidak sedih lagi. Cari suasana baru katanya. Tapi sampai sini malah mengurus komedo yang tak penting ini!" sahut Giska kesal.
"Tadi perasaan kau masih normal-normal saja lho. Kita bahkan sudah di tepi pantai. Tapi setelah kau bicara dengan temanmu tadi, kau jadi aneh seperti ini." Giska menerka.
"Ini bukannya sedihku hilang tapi malah membuatku semakin tidak mood." Giska kembali menyebikkan bibirnya karena merasa kesal dengan suaminya yang tiba-tiba bertingkah laku aneh.
"Tidak ada hubungannya dengan temanku tadi, Sayang. Ini memang aku yang ingin membersihkan komedomu. Jangan marah seperti itu, Sayang..." Bobby kembali bicara tanpa merasa bersalah.
"Kenapa baru sekarang membersihkan komedoku? Haa!?" Giska memelototkan matanya, menatap suaminya.
"Ya karena aku tadi memegang hidungmu. Hidungmu terasa kasar tadi," jawab Bobby enteng.
"Tadi di rumah kau juga memegang hidungku tapi kenapa tak kau bersihkan tadi komedoku. Kenapa saat di sini baru mau membersihkannya?"
"Entahlah?" Bobby mengendikkan bahunya.
"Baru sekarang aku ingin," ucapnya kemudian.
"Dasar aneh!" Giska mendengus kesal.
"Bukan aneh, Sayang. Ini namanya jaga kebersihan hidung. Ahh sudahlah, sudah cukup bahas hidungnya. Kalau memang sudah tidak mau aku bersihkan lagi, kita pulang saja sekarang ya," sahut Bobby.
"Pulang?" Giska bertanya.
"Iya, pulang saja."
"Kenapa langsung pulang? Tidak jadi main pasir di pantai?" tanya Giska.
"Tidak jadi. Nanti lain kali saja. Aku sudah tidak mood ke sana lagi. Kita pulang saja," jawab Bobby. Bahkan ia langsung menghidupkan mesin mobilnya, lalu segera melajukan mobilnya tanpa menunggu persetujuan Giska terlebih dulu.
"Ya ampun dia benar-benar ingin langsung pulang." Giska membatin sambil menatap suaminya. Ia kemudian menghela nafasnya cukup panjang, lalu membuangnya kasar.
"Ada apa dengannya? 30 menit yang lalu dia masih berusaha untuk membuatku tak terus-terusan sedih, dengan mengajakku ke sini. Eh tiba-tiba sekarang dia lupa akan hal itu. Dia menjadi aneh. Apa dia merasa khawatir dengan Bu Tia ya? Apakah dia sengaja bertingkah aneh demi menutupi kekhawatirannya pada Bu Tia? Apa dia merasa tak enak padaku jika terang-terangan khawatir seperti itu?" Giska bicara dalam hatinya, ia menerka-nerka sendiri apa yang terjadi pada suaminya.
__ADS_1
"Sudah pasti lah itu. Apalagi saat ini Bu Tia sudah besar perutnya. Sudah 7 bulan kan tadi dibilang," batinnya lagi. Ia pun memilih diam, tak mau berkomentar ataupun bertanya apapun pada suaminya yang saat ini tengah mengemudi mobil itu.
Bobby pun sama, ia juga tampak diam saja. Ia tak mengatakan apapun selepas keluar dari area pantai Kuta itu.
Hingga beberapa saat kemudian, tibalah mereka di rumah Giska. Bobby langsung memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Ia kemudian mengajak Giska turun dari mobil. Namun sebelum mereka memasuki rumah, Bobby teringat ada yang terlupa.
"Oh iya, Sayang. Kenapa tadi kita tidak beli makanan sekalian? Kau pasti tidak masak kan?"
"Ya mana ku tahu kalau kau ingin beli makanan, Bli? Kau bahkan tak bicara apapun sejak di Kuta tadi sampai di sini, baru kau bicara," sahut Giska malas. Ia bahkan berjalan mendahului suaminya, masuk ke rumah.
"Ya sudah beli dari Gojek saja, Sayang," usul Bobby, sambil berjalan mengekori Giska.
"Ya sana beli saja," sahut Giska tanpa menoleh pada suaminya. Rasa kesal pada suaminya masih belum menghilang dari dirinya.
"Kau saja yang beli. Pilih menu yang ingin kau mau makan, Sayang. Aku nanti makan di rumah saja."
Sontak Giska menoleh pada suaminya. "Makan di rumah? Rumah mana?" tanyanya.
"Di rumah. Tia tadi masak. Dia minta aku makan di rumah," jawab Bobby.
"Ohhhh." Giska pun langsung memalingkan wajahnya dari padangan suaminya. Ia pun langsung melenggang hendak pergi ke kamarnya.
"Sayang..." Bobby berjalan mengikuti Giska ke kamar.
"Apa kau marah?" tanyanya kemudian.
Giska kembali menoleh lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak," ucapnya kemudian.
"Kau mengusir suamimu ini, Sayang?"
"Bukan mengusir, Bli. Aku hanya ingin istirahat saja."
"Aku temani istirahatnya. Aku juga ingin istirahat," ucap Bobby.
"Tadi katanya Bli Bobby ingin makan di rumah bersama Bu Tia? Ya sudah sana pulang!" Giska mulai jengah menghadapi Bobby. Rasanya ia sudah hampir tak bisa menahan diri untuk tak menangis di hadapan suaminya. Ia ingin suaminya segera pergi dari hadapannya agar ia bisa menangis, mengeluarkan semua yang terasa mengganjal di hatinya. Namun ternyata suaminya bersikukuh tak mau pergi.
"Iya itu kan bisa nanti saja. Aku masih ingin di sini bersamamu," ujar Bobby.
"Ya terserah saja lah." Giska benar-benar mendahului suaminya, pergi ke kamar. Ia bahkan langsung menutup pintu kamar itu dengan sedikit keras.
Brakkk....
"Kau pasti ingin menangis kan, Sayang? Itu sebabnya kau memintaku pulang." Bobby membatin ketika Giska membanting pintu.
"Kau pasti marah padaku karena aku tak memenuhi janjiku untuk mengajakmu jalan-jalan hari ini. Maafkan aku, Sayang."
"Aku sengaja mengajakmu pergi dari sana karena aku tak ingin seseorang melihatmu bersamaku. Bukan karena aku malu jalan denganmu tetapi aku hanya tidak ingin seseorang itu nantinya akan menyakitimu." Bobby pun kembali memikirkan apa yang ia lihat di sekitaran pantai Kuta tadi.
__ADS_1
Beberapa saat yang lalu ketika ia bicara dengan Ricky dan pada saat Ricky menyebut nama Tia, tiba-tiba saja ia melihat sekelebat orang yang mirip dengan Roy di area pantai Kuta itu, tepatnya tak begitu jauh dari saat ia dan Giska berada. Ia pun menamatkan pandangannya? Takutnya salah lihat. Tetapi setelah ia tamatkan, ia memang meyakini kalau itu adalah Roy. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun segera mengajak Giska pergi dari sana sebelum Roy melihatnya dan juga Giska.
Mulanya ia ingin mengulur waktu dengan membersihkan komedo Giska di dalam mobil. Ia mengira barangkali Roy akan pergi dari sana namun ternyata sampai hidung Giska terasa sakit, ia tetap saja masih melihat Roy di sekitaran sana. Padahal jarak area pantai dan ia memarkirkan mobilnya sedikit jauh, tetapi tetap saja ia bisa melihat Roy. Rasanya Roy seperti hantu yang bisa ia lihat dari jarak jauh.
"Aku tau sampai sekarang Tia masih sering bertemu dengan Roy. Entah pertemuan itu hanya sebatas teman saja atau mungkin mereka kembali seperti dulu lagi. Aku tau betul Roy sangat patuh pada Tia. Apapun yang Tia inginkan pasti Roy akan memberikannya. Tapi bukan ini tentang Tia dan Roy yang ku permasalahkan di sini, tetapi tentang ego Tia yang tinggi. Aku hanya takut jika Tia sewaktu-waktu meminta Roy untuk mengerjaimu, Gis. Aku tidak ingin kau sampai direpotkan oleh mereka berdua." Bobby bicara sendiri sembari ia memperhatikan Giska dari ambang pintu kamar, yang baru saja pintunya ia buka perlahan.
Bobby memilih berdiam diri di dekat pintu itu sambil memperhatikan Giska yang tampak sedih itu. Entah dia sedih, kesal, marah atau mungkin semua itu tengah Giska rasakan saat ini. Dia terlihat begitu jelas tak bersemangat.
"Kenapa melihatku? Kenapa masih di sini? Kenapa belum pulang ke rumah?" tanya Giska tiba-tiba, ketika ia melihat Bobby di dekat pintu sambil memperhatikannya.
"Aku ingin menemanimu di sini, Sayang. Aku sengaja tidak ke bengkel hari ini karena aku ingin seharian menghabiskan waktu denganmu di sini," tutur Bobby hangat, sembari ia berjalan masuk ke kamar, mendekati istrinya.
"Ya kalau seharian di sini, bagaimana bisa makan dengan Bu Tia? Katanya kan mau makan di sana. Sudah sana pulang!" ketus Giska.
"Ahh sial, kenapa juga tadi aku mengatakan ingin makan di rumah bersama Tia? Dasar bodoh! Bisa-bisanya aku tak bisa menjaga perasaan Giska." Bobby merutuki dirinya sendiri, dalam hatinya.
"Bodoh! Bodoh! Kenapa juga harus terceletuk ucapan seperti itu tadi! Arrgghhh!"
"Entah kenapa tiba-tiba saja aku benar ingin makan apa yang Tia masak di rumah. Apa ini hanya terbawa ucapan tadi atau ini memang keinginan dari hatiku?" pikirnya bingung.
"Kenapa malah diam, Bli Bobby? Sudah sana pulang saja! Aku tidak di temani juga tidak apa-apa. Tenang saja, aku pasti nanti akan beli makanan sendiri, lalu aku akan memakannya. Dan ya kau tidak perlu khawatir kalau aku akan terus sedih dan mengurung diri di dalam kamar. Itu tidak akan terjadi karena aku ingin pergi ke rumah Trias. Aku lebih baik bersama Trias saja," ucap Giska datar.
"Kau ingin menemui Trias?"
"Iya. Boleh kan? Kalaupun tidak boleh juga aku akan tetap menemuinya," sahut Giska sambil memalingkan wajahnya agar ia tak melihat Bobby.
"Kenapa begitu? Kau mau jadi istri pembangkang?" Bobby memegang dagu Giska, lalu ia mengarahkan wajah Giska ke arahnya. Ia pun kemudian menaikkan satu alisnya.
"Mau jadi istri pembangkang yang tidak mau mendengar ucapan suaminya?" Bobby mengulang perkataannya.
"Tidak juga," jawab Giska sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Ya tapi masa iya aku mau bertemu Trias saja tidak diperbolehkan?" tanyanya kemudian.
Bobby pun langsung tersenyum. Lalu ia mengecup bibir Giska yang sedikit terbuka itu. Ia berikan ******* kecil di dalam sana sebelum akhirnya ia menyudahi kecupan itu.
Sementara Giska, ia terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh suaminya itu. Pasalnya kecupan ini kembali ia rasakan setelah dua bulan lebih tak ia rasakan. Ia merasa aneh dan sedikit canggung lagi. Namun ia tak ingin memperlihatkannya di depan Bobby.
"Kenapa langsung diam, Sayang? Mau ku lanjutkan lagi? Atau kau mau, kita-----"
"Aku mau pergi menemui Trias." Giska langsung berlari keluar kamar tanpa menghiraukan suaminya. Ia bahkan tak membiarkan suaminya menyelesaikan kalimat yang hendak di ucapkan tadi.
"Baiklah, Sayang. Jangan lama-lama di sana ya... aku menunggumu di sini..." Bobby tersenyum.
..
..
__ADS_1
..
Bersambung...