
Giska seketika menatap Bobby setelah mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Bobby.
"Apa? Apa yang kau katakan tadi, Bli?" tanyanya pelan.
"Iya, Sayang. Saat ini kau sedang hamil. Itu sebabnya aku memintamu untuk tak memikirkan orang lain lagi. Temanmu itu sudah melahirkan. Dokter pasti sedang mengurus dia dan anaknya. Sekarang kau tak perlu lagi cemas memikirkan temanmu itu. Kau harus memikirkan dirimu dan anakku yang masih ada di dalam perutmu itu," tutur Bobby lembut. Ia mengungkapkan kehamilan Giska.
"Aku hamil?" Setelah mendengar segalanya, bahkan Giska masih saja bertanya.
"Iya. Ternyata kau memang tidak mengetahui kehamilanmu sendiri, Sayang," celetuk Bobby.
"Bagaiamana aku bisa hamil?" Celetukan konyol lolos begitu saja dari mulut Giska.
"Iya tentu saja bisa, Sayang. Aku kan rajin menanam benihku di dalam rahimmu, sebelum kau pulang ke Surabaya saat itu," sahut Bobby.
Giska lalu terdiam seraya menunduk menatap perutnya yang masih rata itu. "Bagaimana bisa ada bayi di dalam perutku yang rata ini?" gumamnya kemudian.
"Sayang, jika ku perhatikan memang kau sudah tak sekurus dulu. Sekarang kau sudah agak berisi. Mungkin karena kau hamil ini," ujar Bobby.
"Aku merasa aneh dengan semua. Aku masih tak mengerti," sahut Giska.
"Aneh kenapa? Apa kau tak menyukai kabar kehamilanmu ini? Kau tak senang jika kau hamil?"
"Kau tak senang jika nanti melahirkan anakku?" Bobby mulai menanyakan pertanyaan yang menyudutkan Giska.
Mendengar pertanyaan itu, Giska seketika kembali teringat akan Trias yang baru saja melahirkan. Alih-alih ia menjawab Bobby, ia malah langsung pergi meninggalkan Bobby di ruangan itu.
"Giska!" Bobby memanggilnya namun tak ditanggapi oleh Giska.
"Kau ini kenapa?!" Bobby menjadi kesal dan kecewa terhadap Giska karena istrinya itu tak mau mendengarkannya.
Saat itu juga Bobby ingin langsung menyusul Giska, tetapi panggilan masuk di ponselnya terpaksa harus menghentikan niatnya untuk menyusul Giska.
"Iya, ada apa?" Bobby menyapa Tia dengan ketus karena terbawa akan rasa kecewanya terhadap Giska.
"Pa, aku sudah melahirkan."
Mendengar kabar itu dari Tia, seketika membuat Bobby terkejut.
"Apa? Dimana melahirkan?" tanya Bobby cemas.
"Di rumah sakit Harapan."
"Rumah sakit yang sama," gumam Bobby.
__ADS_1
"Kau di ruangan mana sekarang?" tanya Bobby.
"Di ruang A nomor 2."
"Aku akan ke sana sekarang."
Bobby langsung mengakhiri panggilan setelahnya. Tanpa memikirkan Giska lagi, Bobby langsung berlari menuju ke ruangan tempat Tia berada sekarang.
Tak sulit untuk Bobby menemukan ruangan itu. Ia pun langsung masuk dan menemui Tia.
"Tia..." Bobby langsung menghampiri Tia di ranjang pembaringannya. Senyum Bobby merekah mengetahui Tia sudah melahirkan. Berbeda saat ia mendengar Giska terus membicarakan Trias yang melahirkan.
"Bagaimana kondisimu?"
Sebenarnya Bobby sangat ingin menanyakan dimana anaknya, tetapi ia juga tak bisa egois, tak menanyakan kondisi Tia, apalagi dia baru saja melahirkan, tanpa ia temani.
"Aku masih baik-baik saja, Pa. Tapi entah nanti akan seperti apa saat obat bius di perutku sudah menghilang," jawab Tia.
"Perutmu? Kau melahirkan secara sesar?" tanya Bobby.
"Iya." Tia mengangguk.
"Tapi mengapa bisa tiba-tiba melahirkan hari ini, Tia? Kau bahkan tak mengatakan apapun padaku sebelumnya. Kau juga tadi malah pergi sendiri. Apa telah terjadi sesuatu denganmu tadi, sampai kau harus melahirkan?" Bobby langsung memberondong Tia dengan banyak pertanyaan.
"Saat aku jalan-jalan tadi, perutku tiba-tiba sakit. Aku langsung memutuskan pergi ke rumah sakit karena aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan bayi kita. Saat tiba di rumah sakit, ternyata bayi kita harus segera dilahirkan," jelasnya kemudian.
"Syukurlah kau baik-baik saja sekarang, Tia. Maafkan aku karena tak bisa menemanimu melahirkan tadi. Harusnya tadi aku memaksa untuk mengantarmu, tetapi aku malah pergi sendiri ke rumah Giska," ucap Bobby menyesal.
"Iya tidak apa-apa, Pa." Tia memberikan senyum hangat pada Bobby.
"Dimana bayi kita sekarang, Tia? Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Bobby kemudian. Dia sudah sangat penasaran dengan bayinya. Bayi yang sudah cukup lama ia tunggu.
"Sebentar lagi akan diantarakan oleh perawat ke sini, Pa," jawab Tia.
Dan benar saja, selang tak lama terdengar suara ketukan pintu dari perawat rumah sakit. Perawat itu kemudian masuk dengan menggendong bayi kecil di tangannya.
"Sus, itu bayi kami?" Bobby langsung menyambut bayinya dengan senyuman merekah di bibirnya. Ia begitu bahagia akhirnya bisa memiliki seorang anak.
"Iya, Pak."
"Saya ingin sekali menggendongnya. Tapi saya takut. Ehmm, segera letakkan bayi saya di ranjang istri saya, Sus. Saya sudah tidak sabar ingin memegang serta melihatnya," ucap Bobby tak sabar.
"Tapi maaf, Pak, Bu. Bayi kalian tidak bisa tertolong," ungkap perawat itu.
__ADS_1
Senyum yang semula mengembang di bibir Bobby, seketika langsung menghilang setelah mendengar kabar dari perawat itu yang mengatakan bayinya tidak selamat.
"Ini bayinya, Pak, Bu. Silahkan jika ingin menggendong untuk yang terakhir kalinya." Perawat itu menyerahkan bayi itu ke dalam gendongan Bobby.
"Bayinya perempuan, Pak."
Bobby yang awalnya mengatakan tidak berani menggendong bayinya, tiba-tiba saja tangannya mau menerima bayi itu dan ia langsung mendekapnya.
Bobby terdiam menatap bayi mungil perempuan yang wajahnya sudah memucat itu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Bahkan air mata juga tak ada menetes.
Bobby merasa benar-benar syock menerima kenyataan pahit ini. Baru saja ia merasa begitu senang anaknya telah lahir, kini kesenangannya itu langsung berubah menjadi duka yang teramat dalam.
Duka yang sebelumnya, saat ia kehilangan kedua orang tuanya serta kehilangan mertuanya saja belum menghilang, kini ia harus merasakan duka baru lagi karena harus kehilangan anak pertamanya.
Suasana di ruangan itu menjadi hening seketika itu juga. Bobby dan Tia sama-sama terdiam.
"Saya permisi." Suara perawat itu memecah keheningan.
Bobby akhirnya mulai tersadar dan ia mulai kembali mengeluarkan suaranya.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Hal apa yang terjadi sampai membuat perutmu sakit dan kita harus kehilangan bayi kita?" tanya Bobby pelan.
"Aku sendiri juga tidak mengerti, Pa. Tiba-tiba perutku sakit," jawab Tia dengan wajah melasnya.
"Aku sudah berusaha menjaganya, Pa," ucap Tia kemudian.
"Sudah ku katakan jika ingin pergi, aku akan mengantarmu. Tapi kau menolakku." Bobby menghela napasnya dengan kasar.
"Hal penting apa yang membuatmu pergi dan menolak ku antarkan, Tia!" Suara Bobby langsung meninggi, membentak Tia. Seketika amarahnya langsung meledak.
"Kau membentakku, Pa?"
"Iya aku membentakmu!" teriak Bobby.
"Jika saja kau tak pergi maka anak kita tidak akan tiada!" Karena merasa marah, ia langsung menyalahkan Tia.
"Jangan menyalahkanku. Mana aku tau jika perutku akan sakit. Aku sudah berusaha menjaga bayi selama di dalam kandunganku. Jika kau menyalahkan orang, salahkan saja dokter yang membantuku melahirkan. Salahkan saja dia, mengapa dia tak menyelamatkan anak kita!" Tia yang merasa tak terima pun langsung balas memarahi Bobby.
"Apa salahku dalam hal ini. Aku sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan bayi itu. Jika bayi itu memilih tiada maka itu bukanlah kesalahanku!" seru Tia.
Bobby langsung menatap Tia tak percaya. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu?
Bersambung....
__ADS_1