Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Saat ini, aku memiliki 2 istri


__ADS_3

Dengan sedikit perdebatan, akhirnya Bobby pun mengizinkan dan membiarkan Giska pulang naik, Bus. Meskipun berat, tetapi ia juga tak mau memaksa Giska. Ia takut akan semakin membuang waktu Giska. Apalagi, mengingat diri nya juga masih harus meluruskan kesalah pahaman kepada kedua orang tua nya. Anggap saja, saat ini Tuhan masih belum mengizinkan Bobby untuk mengenal orang tua, Giska.


"Ponselmu jangan sampai mati, Gis. Biar aku tidak gampang, saat akan menghubungimu." Tutur Bobby.


"Iya." Jawab singkat Giska.


"Ambilah ini, Gis." Bobby memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan, ke tangan Giska.


"Ini untuk apa?"


"Untuk membawa Bapak ke dokter, Gis. Nanti, setelah kau sampai di rumah, kau urus Bapak dulu. Setelah itu, besok pagi nya, kau pergilah ke Bank, dan buatlah rekening di sana." Tutur Bobby.


"Tidak perlu, Bli. Aku masih mempunyai uang. Lagipula juga, untuk apa aku membuat rekening?"


"Agar aku bisa mengirimimu uang, untuk bekalmu di sana. Karena saat ini, aku hanya membawa uang cash sedikit, Gis. Kau tidak boleh menolak suamimu, Gis! hitung-hitung, aku memberimu nafkah." Terang Bobby.


"Ya, ya, Bli. Terimakasih." Giska pun menerima uang itu. Ia tak bisa terus berdebat dengan Bobby, karena semakin lama mereka berdebat, maka waktunya akan semakin terbuang sia-sia. Yang terpenting saat ini, ia harus segera pulang ke Surabaya.


"Nah, begitu kan, enak. Baiklah, ayo! aku akan mengantarmu masuk ke dalam Bus."


"Tidak perlu, Bli. Biar aku masuk sendiri. Lebih baik Bli Bobby langsung pulang saja, supaya bisa cepat istirahat."


"Iya, aku akan pulang, tapi setelah aku mengantarmu masuk ke dalam, Bus." Bobby pun membukakan pintu mobil nya untuk Giska, "Ayo, Gis!" Bobby mengulurkan tangan nya.


"Hmm, baiklah, ayo." Giska pun menerima uluran tangan Bobby, dan ia pun segera turun dari mobil.


***


"Hati-hati ya, Gis. Jaga dirimu baik-baik. Sampaikan salamku kepada Bapak mertua, ya. Semoga Bapak, lekas kembali sehat." Tutur Bobby, saat Giska sudah berada di dalam Bus.


"Iya, Bli."


"Baiklah, Bus nya akan berangkat sebentar lagi. Aku turun, ya." Pamit Bobby, yang langsung di balas anggukan oleh Giska. Tak lupa, sebelum ia turun, ia memberikan kecupan singkat di kening Giska.


Mendapat kecupan dari Bobby, Giska menjadi canggung. Apalagi saat ia melihat sekelilingnya, banyak penumpang yang tengah melihat ke arah nya, sontak rasa malu pun semakin kuat menyelimuti nya.


Usai Bobby turun dari Bus, tak lama kemudian, Bus nya pun mulai melaju.


"Itu, Bli, nya kenapa wajahnya lebam-lebam seperti itu?" tanya salah seorang penumpang yang duduk di sebrang Giska.


"Aku juga tidak tau, Kak. Tadi saat bertemu, wajahnya sudah seperti itu." Jawab Giska tanpa ragu.


"Kalau menurutku sih, sepertinya dia baru saja di pukuli." Celetuk penumpang yang duduk di samping penumpang yang baru saja bertanya kepada Giska.


"Hmm, kasian sekali, ya. Tapi, meskipun lebam-lebam, wajahnya masih tetap tampan, kok." Celetuk penumpang itu.


Giska hanya diam, ia bingung mau merespon apa, perkataan 2 orang penumpang yang duduk di sebrang nya itu.

__ADS_1


"Aku Dayu, dan ini temanku, Rany." Kedua penumpang itu, mengulurkan tangan nya ke arah Giska.


Giska pun langsung menjabat tangan kedua wanita itu secara bergantian. "Aku Giska, Kak." Jawab nya, ramah.


"Salam kenal ya, Gis."


"Iya, Kak, salam kenal, juga."


"Eh iya, Gis. Siapa nama Bli tampan, tadi?" tanya Dayu.


"Ohh, itu Bli Bobby. Kenapa Kak?" Giska balik bertanya.


"Emm, di kenalin ke kita, boleh lah, Gis." Ucap Dayu dan Rany bersamaan.


"Haa? emm, kan Bli Bobby nya sudah turun. Mana bisa di kenalin."


"Yaa, tidak harus sekarang juga. Bagi nomor ponselnya, dong. Nanti biar aku kenalan sendiri." Kekeh Dayu.


"Nomor ponsel?!"


"Iya, itu tadi Kakak mu, kan?" tanya Dayu dan Rany, memastikan.


"Emm, aku tidak bisa memberikan nomor ponsel nya, Bli Bobby, Kak. Maaf ya."


"Apa-apa an mereka ini, baru lihat sekali saja, sudah minta nomor ponsel. Bagaimana kalau Bli Bobby ada di sini, ya? Bisa-bisa kedua kakak ini langsung memeluk Bli Bobby." Batin Giska. Entah kenapa ja menjadi tidak suka dengan sikap kedua wanita yang baru saja ia kenal, itu.


"Karena, Bli Bobby sudah memiliki istri, Kak. Jadi ya, aku tidak bisa memberikan nomor ponsel nya. Nanti, istrinya bisa marah, kalau tau, aku sudah memberikan nomor suami nya, kepada wanita lain."


"Hmm, sudah punya istri tenyata." Dayu dan Rany nampak kecewa. "Tapi, tidak apa-apa, Gis. Kita kan hanya mau kenalan saja. Tidak masalah, mau dia sudah punya istri atau belum. Kasih ya, nomor nya." Dayu kekeh meminta nomor ponsel, Bobby.


"Maaf, Kak. Aku tidak bisa." Giska memasang senyum terpaksa nya.


"Ahh, pelit, nih Giska."


"Biarkan saja, hmm." batin Giska dalam hatinya.


***


Sementara di tempat lain.


Bobby langsung pulang, saat melihat Bus yang Giska naiki, mulai melaju. Dan kini, ia sudah tiba di rumah nya.


Setiba nya di rumah, ia meminta kedua orang tua nya, untuk menunggu nya di ruang keluarga. Ia akan menepati janjinya, untuk memberitahu seluruh cerita tentang permasalah yang sempat Tia katakan, tadi. Sementara kedua orang tua nya sudah berada di ruang keluarga, Bobby meminta waktu sebentar, untuk kembali bicara berdua dengan Tia, di kamar nya.


"Tolong jangan lakukan ini, Pa!"


"Diamlah, Tia! Aku akan mengatakan segalanya kepada orang tuaku. Dan aku harap, kau mau bekerja sama, kau harus mengakui semua perbuatan mu selama ini, kepada mereka."

__ADS_1


"Aku tidak mau!" Tia menolak.


"Baiklah, jika kau tidak mau mengakui semua nya, aku akan menunjukkan semua foto dan video saat kau berada di ranjang bersama kekasihmu itu. Jadi, semua terserah padamu, pilihan ada di tanganmu." Tegas Bobby, kemudian ia pun keluar dari kamar.


"Apa-apa an ini! Kenapa semua jadi seperti ini?! Semua tidak sesuai dengan apa yang sudah ku rencakan. Siall!" Umpat Tia, kesal. Dengan segala keraguan, ia pun terpaksa harus ikut menemui kedua orang tua Bobby.


"Apa yang ingin kau jelaskan!" sarkas Gung De. Saat Bobby baru duduk di hadapan nya, tak lama kemudian, Tia pun ikut duduk di samping Bobby.


"Begini, Jik. Aku minta maaf, karena sudah melakukan kesalahan. Aku akui, apa yang Tia katakan tadi, memang benar ada nya."


"Kau!" geram Gung De.


"Apa yang kau katakan, Bob?" Astuti menolak untuk percaya.


"Biar ku selesaikan dulu, Bu, Ajik. Semua yang Tia katakan, memang benar ada nya. Saat ini, aku memiliki 2 istri."


Mendengar ucapan Bobby, lagi-lagi Gung De hendak menerkam Bobby. Namun, ia berusaha menahan nya, ia pun diam dan menunggu Bobby menyelesaikan penjelasan nya. Meskipun ia diam, tetapi, tatapan nya sangat tajam ke arah Bobby.


"Aku melakukan ini, juga atas persetujuan Tia sendiri, Jik, Ibu. Dan, aku sudah memutuskan, untuk mengakhiri pernikahanku dengan Tia."


"Apa maksud mu?! Katakan dengan jelas! Bagaimana bisa Tia mengizinkan mu menikah lagi?!" Bagaimana bisa, kau mau menceraikan Tia!" Gung De terlihat semakin geram.


Sementara Astuti, ia menjadi terdiam seribu bahasa, mengetahui putra nya sudah menduakan istri nya. Sebagai sesama wanita, ia tentu bisa merasakan bagaimana sakit nya, berada di posisi Tia. Bahkan mungkin, jika ini terjadi di dalam rumah tangga nya, belum tentu ia bisa bertahan dan bisa tegar. Ia merasa prihatin dengan Tia, meskipun dulu ia sempat tak merestui cinta Bobby kepada Tia, namun, biar bagaimana pun juga, saat ini Tia adalah menantu nya. Ia juga sudah menganggap Tia, seperti putri nya sendiri. Ibu mana yang tega melihat hati anak perempuan nya di sakiti seperti ini? saat ini, ia sungguh merasa malu kepada Tia.


"Emm, Tia yang akan menjelaskan semua nya, Bu, Ajik." Ucap Bobby. Kemudian ia beralih menatap Tia, yang duduk di samping nya. Bobby bisa melihat, saat ini Tia nampak sangat gugup dan juga ketakutan. Keringat dingin mengucur deras di kening Tia, bahkan, badan nya pun nampak bergetar.


"Ayo, katakan!" pinta Bobby sekali lagi.


"I-iya, semua nya benar." Ucap Tia terbata-bata. Ia benar-benar di buat dilema oleh situasi ini. Satu sisi ia tak ingin nama nya menjadi buruk di mata kedua mertua nya, sedangkan di sisi lain, ia juga tak ingin kedua mertua nya melihat semua adegan ranjang nya dengan para kekasih nya itu. Jika ia memilih jujur, maka pasti nama nya menjadi buruk, jika ia tak jujur, pasti nama nya juga akan bertambah buruk lagi.


Dengan berat hati, Tia pun memilih jujur. Ia mengatakan semua kesalahan nya kepada Kedua mertua nya. Setelah mengatakan semua nya, ia pun langsung meminta maaf kepada mertua nya. Ia mengaku menyesali semua perbuatan nya. Ia juga mengatakan, ia sangat ingin memperbaiki semua kesalan nya. Ia meminta di beri satu kesempatan lagi, untuk kembali membangun rumah tangga nya bersama Bobby. Air mata Tia tak berhenti mengalir, saat ia mengakui kesalahan nya, dan mengatakan penyesalan nya.


Gung De dan Astuti pun sangat terkejut, mendengar pengakuan dari Tia dan juga Bobby. Astuti bahkan sampai menangis, melihat rumah tangga anak nya di penuhi dengan pengkhinatan, dan perselingkuhan. Sedangkan Gung De, ia nampak sangat kecewa dengan anak dan menantu nya ini. Bahkan tangan nya pun ingin sekali, kembali memukuli Bobby. Jika saja Tia adalah seorang lelaki, pasti saat ini Tia juga sudah terkena bogeman dari Gung De.


"Kalian berdua memang keterlaluan! Apa arti pernikahan di mata kalian! haa!? Apa kalian pikir, ikatan pernikahan hanyalah sebuah mainan?! bentak Gung De. Matanya nampak sangat merah, dan itu artinya, amarahnya sangatlah besar.


"Apa Ajik pernah mengajarkanmu bebuat seperti ini?! Ada apa dengan kalian ini? Apa yang kalian cari di luaran sana?!"


"Kau mengkhianati putraku! dan kau, Bob, kau juga balas mengkhianati istrimu. Kalian berdua sama-sama tidak mempunyai pikiran!" Gung De tak berhenti memarahi kedua nya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2