
Sudah diputuskan oleh Bobby dan ajiknya. Bahwa ajik Gung De akan pergi ke Surabaya untuk menemui Giska. Gung De pergi ke Surabaya ditemani oleh Astuti, istrinya.
Malam ini juga, Gung De dan Astuti berangkat menggunakan pesawat agar tak memakan waktu yang lama di jalan. Agar besok pagi, mereka berdua bisa langsung pergi ke rumah Giska.
Keberangkatan Gung De dan Astuti ke Surabaya ini tampaknya membuat Tia tak senang.
"Kenapa sih ajik dan ibu harus pergi ke Surabaya? Apa sebegitu pentingnya Giska bagi kalian semua?" protes Tia sambil mengunyah roti di mulutnya.
Bobby yang berada di sampingnya pun jengah mendengar Tia sejak tadi mengoceh. Ia pun memilih cuek saja. Ia malas jika setiap saat harus meladeni Tia yang banyak bicara. Bobby pun memilih tetap fokus pada ponselnya yang saat ini ia pegang.
"Cepat habiskan makananmu, setelah ini segeralah istirahat!" tutur Bobby tanpa menoleh pada Tia.
"Jawab aku dulu, Pa! Kenapa kau terus-terusan memikirkan Giska? Padahal sudah jelas-jelas dia tak mau ada di hidupmu lagi!" Tia kembali bicara.
"Dia ingin pergi dari hidupmu. Jadi untuk apa kau masih repot-repot mencarinya? Untuk apa juga sampai mengirim ajik dan ibu untuk mencarinya? Buang waktu-waktu saja!" cerocos Tia.
"Tia, sejak tadi aku terus diam bukan berarti kau bebas bicara semaumu. Daripada kau buang-buang tenaga bertanya yang kau sendiri sudah pasti tau jawabannya seperti apa. Lebih baik kau diam dan cepatlah istirahat! Dokter bilang, kau tidak boleh begadang," sahut Bobby tegas.
"Ishhh. Iya-iya, Pa." Tia menjadi kesal.
"Ayo, kau juga istirahat! Letakkan ponselmu itu! Kita tidur!" ajak Tia kemudian. Ia menarik-narik lengan Bobby.
"Tidur saja duluan. Aku juga tak akan kemana-mana. Aku ada di kamar besamamu," sahut Bobby. Ia masih tetap fokus pada ponselnya. Tampaknya ia sedang bertukar pesan dengan seseorang di ponselnya.
"Kau ini kenapa sih, Pa! Kau sedang bertukar pesan dengan siapa? Coba sini lihat!" kesal Tia. Ia pun langsung menyaut ponsel dari tangan Bobby.
"Nanti ku kabari, Bli. Trias? Siapa ini?" Tia membaca pesan dari ponsel Bobby.
"Kau punya kekasih lagi? Apa tak cukup kau menyakitiku dengan kau menikahi Giska? Sekarang kau malah bertukar pesan dengan gadis lain di depanku!" Tia menjadi sangat kesal.
"Bagus aku bertukar pesan di depanmu," sahut Bobby sembari kembali menyaut ponselnya dari tangan Tia.
"Aku tak perlu sembunyi-sembunyi karena aku tak merasa salah. Tidak ada gadis lain lagi di hidupku," ucap Bobby kemudian.
"Lalu Trias siapa?" Tia masih tak terima.
"Temannya Giska. Aku mengirim pesan padanya karena aku ingin menanyakan Giska. Apa ada pertanyaan lagi? Jika sudah tidak ada, maka tidurlah! Aku juga ingin tidur," ucap Bobby.
Ia pun meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di samping ranjangnya. Lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dan kakinya. Tak lupa juga membersihkan giginya. Usai itu, ia pun naik ke ranjangnya dan bersiap hendak tidur.
Meski sebenarnya Bobby tak akan bisa tidur karena ia masih memikirkan Giska. Tapi ia harus tetap naik ke ranjang agar Tia berhenti bicara. Setelah Tia ikut tidur dan dia sudah tertidur pulas, barulah Bobby turun dari ranjan dan memilih duduk di sofa kamarnya, sama seperti yang ia lakukan akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Gis, aku harap, besok pagi aku sudah bisa tau kabarmu melalui ajik dan ibu," batin Bobby.
"Meski di sini aku tak akan bisa tidur dengan nyenyak tapi aku selalu mendoakanmu, semoga kau di sana tidur nyenyak, Gis."
***
"Jangankan tidur nyenyak. Aku bahkan tak bisa menidurkan diriku sendiri saat ini," batin Giska. Sesekali ia tampak mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
POV Giska.
Apa yang salah dengan diriku sebenarnya? Apa aku sudah begitu jahat pada bapak sehingga bapak selalu marah-marah padaku. Apapun yang ku lakukan selalu saja salah di mata bapak.
Aku menyayangimu, Pak. Itu sebabnya aku sekarang berada di sini, bersamamu. Aku tau waktu yang selama ini kuhabiskan di Bali tak bisa ku tebus hanya dalam waktu 4 hari ini. Setidaknya sekarang aku sudah ada di sini.
Aku rasa bapak tidak benar-benar sayang padaku. Bapak selalu ceria dan tersenyum jika ada Mita. Tapi di depanku, bapak selalu saja marah. Aku melakukan kesalahan sedikit saja, bapak sudah mengeluarkan kata-kata yang membuatku sedih.
Kenapa sakit sekali rasanya dibedakan seperti ini? Aku tau aku bukan anak kandungmu. Tapi selama ini akulah yang memberikan semua yang bapak inginkan. Meski belum semuanya tapi setidaknya aku selalu peduli pada bapak.
Aku melarang bapak untuk bekerja dan aku selalu mengirimkan uang untuk bapak. Bapak ingin punya motor, sekarang motor itu pun sudah ada. Ya meski aku hanya bisa beli yang bekas. Tapi setidaknya sekarang bapak sudah ada kendaraan.
Apapun yang bapak minta, aku berusaha memberikannya. Hanya saja masalah rumah, aku memang belum bisa mewujudkan keinginan bapak.
Aku tak bermaksud mengungkit masalah uang yang selama ini ku berikan. Hanya saja, hatiku sakit jika dibedakan seperti ini.
Anak pertama bapak, dia hanya mengirim uang sesekali saja. Paling banyak juga 500 ribu. Sedangkan anak kedua bapak, justru tak pernah membeikan bapak uang. Kesinipun juga tak pernah. Padahal dia kaya. Rumahnya juga tak begitu jauh dari sini. Hanya perlu 45 menit saja untuk sampai sini. Tapi mana? Dia tak pernah ada.
Tapi aku? Ahh sudahlah.
Haha, aku sama sekali tak berarti untuk bapak. Tapi meski begitu. Aku yang harus bisa merawat dan menemani bapak di sini? Apakah ini adil untukku?
Aku tak bermaksud membanggakan diriku sendiri dan menjelekkan kakak. Tapi memang seperti itulah yang ada dipikiranku saat ini.
Maafkan aku jika aku memiliki pikiran buruk seperti ini. Aku tau ini memang sudah tanggung jawab seorang anak untuk selalu bisa membahagiakan orang tua. Maka aku akan terus berusaha melakukannya. Aku tidak keberatan tentang kewajiban ini. Hanya saja aku sedih jika selalu di salahkan.
Adakah di sini yang sama seperti Giska? 😔 (POV Author)
POV Giska End.
Sejenak Giska kembali mengingat apa yang terjadi selama beberapa hari ini dan juga tadi sore saat ada Mita.
Saat Giska lupa mencabut colokan magicom, ia sudah di marahi oleh Bram. Saat Giska lama memasak, Bram juga marah-marah. Saat masakan jadi, Bram pun selalu komplain tak ada rasa. Padahal Giska sudah mencicipi dan rasanya baik-baik saja. Apapun yang Giska lakukan, apalagi kesalahan yang Giskan buat meski hanya sedikit, Bram sudah mengeluarkan kata-kata yang membuat hati Giska sakit.
__ADS_1
Dan sore tadi, Giska juga dipojokkan oleh Mita.
'Bapak sudah tua, Tante. Kau jangan ke Bali lagi. Cari kerja di sini saja. Rezeki juga bisa di cari di sini. Tinggal saja di rumah bersama bapak agar kau bisa menjaga bapak. Kasian bapak sendirian. Dan ya, kau lebih baik tinggalkan kekasihmu yang dari Bali itu. Carilah orang sini saja dan segeralah menikah. Tinggalah bersama bapak di sini.'
Itulah yang dikatakan Mita. Dia bicara sangat mudah tanpa dia tau apa yang sebenarnya Giska rasakan.
Tak hanya itu, setelah Mita pulang tadi. Giska kembali harus menerima ucapan tak enak dari bapaknya.
'Kerja terus tapi tak punya uang. Mau beli makanan buat cucu saja tidak bisa.' Itulah ucapan Bram yang dilontarkan menyindir Giska.
Flashback On beberapa saat yang lalu.
"Tadi kan Nizam sudah ku belikan roti, Pak. Dan ya, kalau Bapak ingin beli sesuatu sesuai keinginan Bapak, Bapak kan bisa ke warung sendiri. Kemarin kan sudah kuberi uang," ucap Giska.
"Uang apa. Uang hanya 300 ribu itu. Uangnya sudah kuberikan semua pada Nizam," jawab Bram.
"Ya sudah kalau begitu. Kenapa harus jadi masalah? Nizam tak dapat makanan banyak tapi dia sudah Bapak beri uang 300 ribu kan?" sahut Giska.
"Bapak sudah memberikan semua uang yang Bapak pegang pada Nizam. Dan sekarang Bapak mengeluh tak punya uang," tambahnya.
"Pusing aku!" kesal Bram
Bram pun masuk ke kamarnya.
Flashback Off.
Sabar, hanya itu yang bisa Giska katakan pada dirinya sendiri. Ia memang hanya memberikan uang 300 ribu pada bapaknya. Pasalnya ia pulang ke sini tak membawa banyak uang. Lagipula juga ia belum tau mau sampai kapan ia di rumah. Entah ia kembali lagi ke Bali atau tidak. Tapi yang pasti sisa uang yang ia bawa itu juga akan ia gunakan untuk keperluan sehari-hari di sini.
"Saat seperti ini, ingin rasanya aku curhat tapi aku tak tau curhat pada siapa. Mau curhat pada Bli Bobby juga tak mungkin," batin Giska sendu.
.
.
.
.
Bersambung...
Beberapa bab ni sedih-sedih dulu ya. Hehe..
__ADS_1