
Giska nampak berdiri di sudut kamar mandi sembari pandangannya fokus menatap alat pipih yang berada di tangannya. Jantungnya pun berdebar-debar. Berulang kali ia mencoba mengambil napas lalu perlahan membuangnya, sembari mulutnya berkomat kamit berdoa untuk hasil yang ia inginkan dari alat pipih itu.
Sementara di depan kamar mandi, Bobby berulang kali mengetuk pintu dan ia pun terdengar memanggil-manggil Giska.
"Sayang... Kok lama?" suara Bobby terdengar tak sabar.
"Iya sebentar lagi, Bli," sahut Giska dari dalam.
"Kita tunggu di luar saja, Gis. Ayo keluar!" pinta Bobby.
"Iyaaa..." Giska pun langsung membuka pintu kamar mandinya. Lalu ia berjalan keluar sembari menggenggam alat pipih itu di tangannya. Wajahnya yang tanpa mengeluarkan ekspresi apapun sontak membuat Bobby merasa penasaran.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Bobby langsung.
Giska pun menggelengkan kepalanya pelan, lalu ia menyerahkan alat pipih itu kepada Bobby.
Bobby pun langsung menerimanya dan langsung melihatnya. Setelah melihat alat pipih itu, Bobby terdengar menghembuskan napasnya pelan, "Iya tidak apa-apa. Jika belum saat ini, maka nanti pasti akan ada bayi yang tumbuh di sini," ujar Bobby seraya mengelus perut datar Giska.
Giska pun langsung menunduk, "Maaf ya, Bli. Aku belum bisa memberikan anak kepada Bli Bobby," ujarnya pelan.
"Heiii, lihat aku, Sayang..." Bobby memegang dagu Giska.
"Tidak masalah, Sayang. Kita kan masih baru menikah, jadi masih ada waktu untuk kita membuatnya lagi, oke!" Bobby mencoba menghibur Giska. Ia pun tal segan-segan langsung menarik Giska ke dalam pelukannya. Ia usap-usap puncak kepala Giska untuk mengurangi kesedihan di hati Giska.
Ya, meskipun sebenarnya ia sendiri merasa sedih karena ternyata hasil test itu tidak sesuai dengan keinginannya, namun mencoba menutupi itu semua agar tak membuat Giska semakin merasa sedih.
Setelah cukup lama ia memeluk Giska, ia pun sedikit melonggarkan pelukannya. Kemudian ia tatap wajah Giska dengan penuh cinta. "Apa kau sudah siap jadi Ibu?" tanya Bobby.
"Eummm, aku tidak tau," jawab Giska.
"Kok tidak tau?"
"Ya tidak tau," jawab Giska lagi.
"Hmmm, tadi saat kau melihat hasil test itu, kau merasa sedih atau merasa biasa saja?" tanya Bobby lagi.
"Sedih lah," jawab Giska.
__ADS_1
"Kenapa sedih?" tanya Bobby.
"Ya sedih karena aku sudah mematahkan keinginanmu, Bli," jawab Giska.
"Hmmm, aku rasa bukan hanya karena itu saja, Sayang... Kau sedih karena sebenarnya kau juga berharap sama seperti yang aku harapkan." Bobby tersenyum, kemudian ia kembali memeluk Giska dengan sangat erat.
"Terimakasih, Sayang... Kau sudah menerima pernikahan kita. Dan sekarang, perlahan kau mulai siap menjadi seorang Ibu. Percayalah nanti perlahan kau juga akan bisa menerima aku sebagai suamimu dengan sepenuh hatimu." Tutur Bobby dengan ucapan penuh kasih sayang.
"Hmmm, iya," hanya kata itu yang terucap dari bibir Giska saat ini.
"Sayang..." Bobby kembali melonggarkan pelukannya.
"Kau masih saja gugup kalau aku peluk," Bobby terkekeh.
"Hmmm," Giska hanya berdehem menanggapi ucapan Bobby. Ya mau bagaimana lagi? Tidak segampang itu untuk menghilangkan rasa gugup da takut yang sudah melekat di dalam dirinya. Semua itu perlu proses, dan tidak semua orang bisa lepas dari semua itu. Beruntung Giska masih mau berusaha untuk lepas dari kegugupan dan juga ketakutannya. Kalau dia tidak mau berusaha, maka mungkin selamanya ia akan selalu merasa gugup dan juga takut.
"Sayang..." panggil Bobby lagi.
"Apa?"
"Masih pagi, kita olahraga, Yuk!" ajak Bobby seraya mengedipkan sebelah matanya.
Senyum Bobby pun mengembang lebar, "Tumben langsung mau," pikir Bobby dalam hatinya.
"Bener mau?" tanya Bobby untuk membuat semakin yakin.
"Iya, ayo!"
"Aahhh, terimaksih, Sayangku..." Bobby pun langsung menggendong tubuh Giska dengan penuh semangat. Lalu ia pun langsung menurunkan Giska di atas kasur.
"Lho!" Giska menatap Bobby bingung.
"Apa, Sayang?" Bobby balas menatap Giska.
"Katanya mau olahraga? Kok malah ke kasur lagi?" tanya Giska.
"Iya, olahraga di atas kasur, Sayang."
__ADS_1
"Haa?" Giska melongo.
"Apa? Tadi kan sudah setuju." Ucap Bobby.
"Iya, aku kira tadi di ajak olahraga sungguhan. Semacam jalan-jalan pagi atau sejenis itu lah, Bli," ucap Giska.
"Olahraga ini lebih menyehatkan daripada lari pagi, Sayang."
"Yuk lah! Aku sudah menahannya berhari-hari lho!" keluh Bobby kemudian.
"Semalam aku bersusah payah menahannya, jadi pagi ini kau harus memberikan pelayanan terbaik untuk suamimu ini, oke!" Bobby mengedipkan satu matanya.
"Ishhh, siapa suruh di tahan-tahan? Kan ada Bu Tia juga di rumah." Ucap Giska.
"Eumm, bicara soal Bu Tia, ngomong-ngomong bagaimana hasilnya, Bli? Bukankah Bu Tia juga melakukan test pagi ini?" tanya Giska sedikit tak bersemangat.
"Aku rasa dia belum masih bangun." Ujar Bobby.
"Hmm sudahlah, jangan bicara lain-lain dulu, Sayang. Ayo lakukan tugasmu!" Seru Bobby kemudian.
_____________
Drrtttt.....
Drrrtttt....
Drrrtttt....
Ponsel Bobby yang terus berdering tanpa henti benar-benar mengganggu kegiatan yang sedang di lakukan oleh Bobby dan Giska saat ini.
Sebenarnya kalau dari Giska sih, ia sama sekali tidak terganggu dengan suara dering telpon milik suaminya itu. Justru ia malah merasa senang karena ponsel Bobby tak berhenti berdering sejak tadi. Karena menurutnya, suara dering ponsel Bobby itu bisa menyelamatkan dirinya dari terkaman Bobby, yang saat ini sedang meraba-raba seluruh tubuhnya. Seperti biasa, kegugupan itu masih ada di dalam diri Giska. Meski pikirannya ingin menolak, dan hatinya juga merasa takut dan gugup, namun tidak dengan tubuhnya. Tubuh Giska seolah menginginkan lebih dari sentuhan tangan Bobby saat ini. Aahhh entahlah, pokoknya seperti ada sesuatu yang mempengaruhi tubuh Giska yang ia sendiri masih belum paham, sesuatu apa itu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...