
"Bli, kenapa melamun? sedang memikirkan istri nya ya? lebih baik, Bli Bobby pulang ke rumah sekarang." Suara Giska membuyarkan lamunan Bobby.
"Siapa yang melamun?" Bobby mengelak.
"Kenapa kau tidak tidur?" Bobby malah bertanya.
"Ishhh, selalu saja. Aku yang bertanya, eh bukan nya menjawab, dia malah balik bertanya padaku." Gerutu Giska.
"Kenapa?" Bobby mengulang ucapan nya.
"Ini aku mau tidur, kok,"
"Bli Bobby pulang saja, ya." Pinta Giska kemudian.
"Kau mengusir suami mu sendiri? istri macam apa kau ini?" nada suara Bobby terdengar seram, namun, tangan Bobby malah melingkar di perut Giska dengan sangat erat. Ia pun menatap Giska tajam.
"Bukan begitu, a-anu, maksud ku, kasihan kan istri nya Bli Bobby, jika Bli Bobby terus menginap di sini." Jawab Giska takut-takut.
"Sudah diam! tidurlah! jangan bicara lagi, atau aku akan memakanmu!" ancam Bobby.
Giska menghela napas nya, "Iya, iya. Aku akan tidur." Giska terpaksa diam menuruti Bobby. Dengan perasaan kesal, Giska memejamkan kedua matanya dengan terpaksa.
"Tidurlah." Bobby mengusap-usap rambut Giska.
Giska yang awalnya tak ingin tidur, lama kelamaan ia menjadi tertidur karena Bobby terus mengusap-usap rambut nya. Mungkin, ia merasa nyaman saat Bobby melakukan itu, itu sebab nya ia melawan kekesalannya sendiri, yang semula tak ingin tidur, tiba-tiba jadi tertidur.
"Cepat sekali dia tidur." Bobby tersenyum menatap Giska. Ia pun mendaratkan satu kecupan di kening Giska.
Setelah berhasil menidurkan Giska, kini Bobby kembali diam.
Bobby Pov.
Mungkinkah aku di anggap egois karena mempunyai 2 istri?
Sejujurnya aku tidak pernah mempunyai cita-cita, memiliki 2 istri seperti ini. Aku sendiri tidak menyangka bisa seperti ini. Aku tau, aku sudah menyakiti hati Tia. Tetapi, ini semua juga karena perbuatan Tia sendiri.
Jujur saja, aku memang pengecut, karena tak berani mengambil sikap dan keputusan. Aku merasa nyaman dengan Giska, dan aku juga mencintai Tia. Saat ini aku juga tak mungkin memilih salah satu di antara mereka berdua.
***
"Mumpung Giska sudah tidur, lebih baik aku menelpon Tia sebentar saja. Semoga saja dia tidak marah, karena aku langsung pergi begitu saja, tadi." Gumam Bobby. Ia pun langsung meraih ponsel nya yang ada di atas meja, dekat ranjang nya. Bobby mencari nama Tia di kontak telpon nya, lalu ia pun mulai menelpon nya.
Tut... Tut.. Tut.
"Ha,---" Bobby tak melanjutkan kalimat nya, karena ia mendengar suara Tia sedang mendesah. Bahkan Bobby juga mendengar ada suara pria di sana.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Bobby pun langsung mengakhiri panggilan nya.
"Brengsek!" umpat Bobby.
"Itukah wanita yang ku cintai?" Bobby tersenyum getir.
Terkadang, kita harus pandai menyembunyikan luka di hati, hanya agar terlihat baik-baik saja, di depan semua orang. Karena setiap orang, berhak untuk tak menceritakan segala masalah yang ia hadapi, kepada orang lain.
Bukan tanpa alasan, Bobby bersikap pura-pura bodoh, menyembunyikan rasa sakit di hati nya, dan ia masih mempertahankan Tia, sebagai istrinya. Meskipun Bobby sudah mengetahui penghianatan Tia selama ini. Ia melakukan itu, karena ia merasa malu terhadap orang tua nya. Mengingat dulu, Bobby sampai membantah orang tua nya, hanya untuk menikahi Tia, wanita yang sangat amat ia cintai. Bahkan mungkin, saat ini ia juga masih mencintai Tia. Tetapi, ia tak mengerti, sisa berapa persen, rasa cintanya terhadap Tia.
Bobby yang merasa kesal akan hidup nya yang rumit ini. Ia memilih untuk pulang ke rumah nya. Sebelum pulang, Bobby kembali mendaratakan satu kecupan di kening Giska.
"Maaf, Gis. Aku meninggalkanmu saat kau tidur. Maaf aku harus pergi." Ucap nya. Kemudian, ia pun turun dari ranjang nya dengan perlahan. Ia pun berjalan perlahan, agar suara langkah nya tak sampai membangunkan Giska.
Beberapa saat kemudian.
Bobby baru saja sampai di rumah nya. Saat memarkirkan mobil di garasi, ia tak melihat mobil Tia di sana. Berarti benar, saat ini Tia sedang bersama pria lain.
"Kau masih bersenang-senang ya, Tia." Gumam nya lirih. Ia pun langsung masuk ke dalam rumah, dan langsung pergi menuju kamar nya.
Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang nya. Karena pikirannya tengah kacau, Bobby pun memilih menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia berharap kedua mata nya bisa segera terpejam. Agar ia bisa sejenak melupakan kepedihan di hati nya.
Sementara di tempat lain.
"Sayang, terimakasih untuk setiap kenikmatan yang telah kau berikan untukku." Ucap Tia dengan suara yang tak begitu jelas. Karena ia masih berusaha mengatur napas nya.
Pria itu pun tersenyum, ia menatap Tia, "Iya, Sayang." Ucap nya.
"Apa kau merasa puas?" tanya pria itu.
"Tentu saja puas. Kalau tidak, mana mungkin aku selalu meminta padamu." Jawab Tia dengan santai nya.
"Hmm, apa suamimu itu, masih tak bisa memuaskanmu?" tanya pria itu sekali lagi.
"Hmm." Tia hanya berdehem.
"Kalau begitu, tinggalkan dia dan menikahlah denganku, Sayang." pria itu menggenggam tangan Tia.
Tia menarik tangan nya, "Tidak bisa, Roy." Ucap nya.
Roy mengerutkan keningnya, "Kenapa? bukankah dia tak bisa memberimu kepuasan, sama seperti yang baru saja ku berikan, ini?"
"Karena aku masih mencintainya." Jawab Tia singkat.
"Cinta? ckc." Roy berdecak kesal.
__ADS_1
"Kalau kau memang benar mencintainya, kau tidak akan melakukan hal gila bersama pria lain, Tia." Roy menatap Tia kesal.
"Ya, karena dia tak bisa memberiku kenikmatan. Itu sebabnya aku di sini bersamamu saat ini." Ucap Tia dengan santai nya. Tak ada penyesalan sama sekali di mata nya.
"Kita bahkan sudah berhubungan selama 2 tahun, Tia. Apa tak ada rasa cinta sedikitpun, untukku?" Roy berharap, ada sedikit cinta untuk nya.
"Aku hanya menganggapmu sebagai partner s#x ku, Roy. Tidak lebih dari itu. Bukankah dulu kita sudah pernah membicarakannya di awal? kenapa sekarang kau menuntut lebih dariku?" Tia merasa kesal, menanggapi permintaan Roy, yang menurutnya sudah berlebihan.
"Dasar wanita gila!" umpat Roy, kemudian ia beranjak bangun dari kasur dan segera berjalan masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, akibat permainan nya tadi.
Sementara Tia, ia tak mengambil pusing ucapan Roy, yang mengatai nya wanita gila.
"Biar gila juga, aku bisa membuatmu melayang, Roy." Teriaknya, di iringi tawa di bibir nya. Ia seolah merasa puas dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Selang tak berapa lama, Roy nampak keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sudah terlihat segar, bahkan masih ada sisa-sisa air yang menempel di tubuh nya, yang membuatnya terlihat semakin segar. Ia pun langsung mengenakan seluruh pakaian nya. Usai ia mengenakan seluruh pakaian nya, ia akan segera pergi dari sini, meninggalkan Tia sendirian di sini. Namun, saat ia akan melangkah pergi, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu yang belum ia sampaikan kepada Tia. Ia pun berbalik, menatap Tia kembali.
"Suamimu tadi menelpon, saat kita sedang bercinta dan aku tak sengaja menjawabnya." Ucapnya, kemudian ia berlalu pergi dari sana.
Sementara Tia, ia langsung terbangun, dan duduk di tepi kasur.
"Roy... Apa maksud ucapanmu?" teriaknya. Namun sayangnya, Roy sudah pergi meninggalkan tempat itu.
"Shittt!" Tia mengumpat.
Tia pun segera memunguti pakaian nya, dan segera ia kenakan kembali, tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah pakaian nya terpasang di tubuh nya, ia segera pergi dari Villa ini, menuju mobil nya yang terparkir tepat di depan Villa.
Ya, Tia dan Roy memang lebih sering mengahabiskan waktu berdua di Villa milik Bobby ini. Mereka hanya melakukan di Hotel, sesekali saja.
Tia yang sudah berada di dalam mobil, ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Beruntung, karena ini sudah tengah malam menjelang pagi. Jadi, jalanan tak terlalu ramai kendaraan yang melintas.
"Dasar, Roy brengsek! bisa-bisa nya dia menjawab telpon saat sedang bercinta denganku. Mana ini Bobby yang menelpon. Huffttt, jangan sampai Bobby mengetahui tentang kelakuanku di belakangnya selama ini. Jika dia tau, bisa-bisa, aku langsung di ceraikan." Gerutu Tia dengan kesalnya, sembari ia terus menancap gas mobilnya.
Ya, selama ini Tia menganggap jika Bobby tidak mengetahui apapun, tentang yang ia lakukan di belakang Bobby, dari awal pernikahan mereka. Namun, nyata Tia salah, justru Bobby sudah mengetahui segalanya. Hanya saja, Bobby tak pernah mengatakan nya kepada Tia.
.
.
.
Bersambung...
Terimakasih buat kalian yang sudah memberikan dukungan dan juga vote nya kepada cerita ini❤❤❤
Love you❤❤❤
__ADS_1