Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Apa aku akan di pecat?


__ADS_3

"Mbak... Mbak Giska..." Teriak Vellyn.


Huaaaaaa....


Giska yang tengah berlari menyusul Vellyn ke dalam, langkah nya terhenti, ia melihat Vellyn tengah menangis, terduduk sembari memegangi lutut nya.


"Vellyn..." Seketika Giska langsung membopong Vellyn, lalu membawa nya ke kamar.


"Sakit, Mbak, sakit..." Hikks, hikss.


"Maafkan Mbak, Vell. Maaf karena Mbak tidak becus menjagamu, kau jadi terluka seperti ini." Giska tak tega melihat Vellyn kesakitan seperti ini, dan ia juga merasa takut akan kena marah oleh majikan nya, karena kelalaian nya.


Putihnya kulit Vellyn, membuat luka di lututnya terlihat sangat jelas, lutut nya memerah, bahkan darah segar mengalir di sana. Tanpa menunggu lama, Giska langsung menduduk kan Vellyn di tepi ranjang, lalu ia mengambil kotak P3K di dalam laci.


Huaaaaa, hikss, hikss.


Tangisan Vellyn semakin kencang, saat Giska membersihkan luka di lututnya.


"Perih." Ucap nya di sela-sela isakan nya.


"Ada apa? kenapa Vellyn menangis?" tanya Nelly yang baru masuk ke kamar cucu nya itu.


"Lho! kenapa kaki mu sampai terluka, Nak?" Nelly terkejut melihat lutut cucu nya terluka.


"Ini semua gara-gara Aan, Bo. Aan mengejar Vellyn, sampai akhirnya Vellyn terjatuh dan terluka seperti ini." Ujar Vellyn, ia menangis sesenggukan.


Note : jadi Aan ini adalah nama dog peliharaan keluarganya.


"Maafkan saya, Nyonya. Saya sudah lalai." Ucap Giska sembari membersihkan luka Vellyn.


"Tidak apa-apa, Gis. Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri." Tutur Nelly menepuk pundak Giska.


"Sakit, Bo... Perih, Mbak..." Hiks, hiks, hiks tangisan Vellyn semakin kencang.


"Sudah-sudah, tidak apa-apa, setelah di obati pasti akan cepat sembuhnya." Nelly menenangkan cucu nya.


"Maaf." Hanya itu yang bisa Giska ucapkan.

__ADS_1


"M-mbak, Ve-llyn mau menelpon Mama." Ucap nya di sela-sela isakan nya.


"Baiklah." Giska mengambil ponsel nya di kantong celana nya, lalu ia menekan nomor majikan nya.


Beberapa saat kemudian


Johan terlihat masuk ke kamar anak nya dengan tergesa-gesa. Usai ia mendapat telpon dari Giska tadi, ia langsung pulang ke rumah untuk segera melihat anak nya.


"Nak..."


"Lututmu sampai seperti ini? bagaimana ini bisa terjadi?" Johan memeluk Vellyn.


"Papa... tadi Vellyn di kejar Aan."


Johan menatap Giska dengan penuh kemarahan, tatapan nya seolah bersiap akan menerkam Giska.


"Apa ini sudah di obati?" tanya Johan.


"Belum, Ko." Jawab Giska takut.


"Kau ini bagaiamana! kenapa tidak langsung di obati!" bentak Johan. Giska tidak berani menjawabnya, ia hanya diam menundukkan kepalanya.


"Harusnya dia bisa membujuknya, itu kan sudah tugasnya." Ucap Johan, nadanya masih terdengar marah. Giska semakin merasa takut, bahkan mata nya sudah berkaca-kaca, namun ia masih berusaha agar air mata nya tak sampai jatuh.


"Tidak mau, Pa. Vellyn tidak mau di kasih obat, nanti perih." Vellyn menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nak, kalau tidak di obati nanti tidak akan sembuh. Harus mau di obati ya, Papa akan pelan-pelan." Bujuk Johan.


"Tidak mau, pokonya tidak mau."


Huuaaa... Tangis Vellyn kembali pecah. Dengan cekatan Johan mengambil salep yang ada di tangan Giska, lalu ia segera mengoleskan nya pada luka di lutut anak nya.


"Perih..." Huaaa.....


"Sudah selesai, Nak. Cup, cup." Johan berusaha menenangkan anak nya, ia mengusap-usap puncak kepala Vellyn sampai Vellyn berhenti menangis.


"Vellyn di sini bersama Bobo dulu ya." Tutur Johan membelai rambut Vellyn. Vellyn hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ma, titip Vellyn sebentar."


"Kau! ikut aku!" Johan menunjuk Giska.


"Iya, Ko." Giska beranjak berdiri.


"Apa aku akan di pecat?" tanya Giska dalam hati, ia benar-benar merasa takut. Baru saja ia mendapat gaji, apa itu adalah gaji pertama sekaligus gaji terakhir nya, pikirnya.


"Han, jangan,----"


"Sudahlah, Ma." Johan berjalan keluar kamar dari kamar anaknya, sementara Giska juga langsung mengikutinya.


Johan berdiri di ruang tamu, ia melipat kedua tangan nya di atas dada nya.


"Maafkan saya, Ko." Ucap Dewi menundukkan kepalanya.


"Sudah ku peringatkan, jaga putriku dengan baik! tapi apa ini? putriku malah terluka. Apa kau tidak melihatnya tadi, dia sangat kesakitan!"


"Aku menggajimu bukan untuk melihat putriku terluka seperti ini! aku menggajimu supaya kau menjaga nya!" bentak Johan.


"Maafkan saya, saya tidak sengaja. Tadi saat saya masih menutup pintu gerbang, Non Vellyn sudah berlari masuk lebih dulu." Giska memberanikan diri membela dirinya sendiri.


"Itu bukan alasan. Kau kan bisa mengejarnya, dia hanya anak umur 4 tahun, sedangkan kau sudah besar, langkah kaki mu saja lebih lebar dari pada anak ku, tapi kenapa kau kalah dengan anak kecil? atau mungkin kau memang tak bersungguh-sungguh dalam pekerjaan mu!?" Johan benar-benar sangat marah kepada Giska, ia merasa tidak terima karena kelalaian Giska anak nya jadi terluka.


Giska hanya menunduk, ia tak berani membela diri nya lagi, air mata nya sudah tergenang di kedua mata nya, bahkan sudah sedikit jatuh di pipi nya, namun dengan cepat tangan nya mengusapnya. Mungkin ia sudah pasrah jika memang hari ini ia di pecat. Ya, mau bagaimana lagi, ia juga tak mau Vellyn terluka seperti ini, namun ini semua sudah terjadi. Baru kali ini Giska di marahi oleh orang hingga seperti ini, ia merasa sedih sekaligus sakit hati, namun kembali lagi, ia juga menyadari kesalahan nya.


Sementara Johan, melihat Giska hanya diam, ia langsung kembali masuk ke dalam kamarnya, ia meninggalkan Giska yang masih diam tak bergeming di tempat nya. Namun tak lama kemudian Johan kembali keluar.


.


.


.


Bersambung...


Haii.. Maaf baru Up hari ini, terimakasih karena sudah mau menunggu😘

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.


Terimakasih❤❤❤


__ADS_2