
"Untuk apa lagi, Bli? Kita sudah tidak bisa bersama lagi." Giska memalingkan wajah nya. Ia tak mengerti dengan dirinya sendiri. Sejak awal ia sudah mengira, pernikahan nya dengan Bobby hanya lah sementara. Ia menganggap pernikahan ini hanya lah sebuah kesepakatan saja. Ia menikah dengan Bobby karena uang 50 juta, dan juga uang 9 juta yang langsung ia kirim ke kampung, untuk memperbaiki rumah nya. Sedangkan Bobby, hanya ingin meniduri Giska saja. Begitu pikir Giska, selama ini. Meskipun itu yang ada di pikiran Giska, entah mengapa, hatinya terasa sakit, saat mengetahui, bahwa dirinya hanya di jadikan sebagai alat pembuktian oleh Bobby.
Flashback On.
Tak lama setelah Bobby pulang dari tempat Giska. Tia tiba-tiba datang menemui Giska, di rumah nya. Tia menceritakan semua, tentang kesepakatan nya dengan Bobby, saat Bobby hendak menikahi Giska. Hujatan demi hujatan, hina an demi hina an, Tia lontarkan kepada Giska. Berbagai umpatan kasar terdengar sangat menyakitkan di telinga Giska. Sakit hati, pasti Giska rasakan, namun, ia juga menyadari jika ia memang bersalah, karena sudah menikah dengan suami orang lain. Ya, meskipun sebelum pernikahan terjadi, Giska sudah mengantongi restu dari istri pertama suami nya, tetapi, tetap saja, Giska merasa bersalah untuk semua ini. Giska pun langsung meminta maaf kepada Tia. Dengan segala kerendahan hati, ia memohon maaf, untuk kesalahan nya, karena sudah menikahi suami nya.
Mendengar Giska meminta maaf kepada nya, Tia pun langsung memanfaatkan kesempatan ini, untuk meminta Giska meninggalkan Bobby.
"Maaf, Bu Tia... Bukan maksud saya untuk mengingkari kata maaf saya, yang baru saja saya ucapkan. Saya memang ingin pisah dari Bli Bobby, karena saya sadar, saya sudah menjadi orang ketiga di antara kalian. Tetapi, kalau Bu Tia meminta saya untuk meninggalkan Bli Bobby, saat ini juga, saya tidak bisa, Bu." Ucap Giska, sedikit takut.
Pikiran nya saat ini kembali teringat saat ada wanita yang memecahkan kaca jendela rumah nya. Wanita itu juga berulang kali ingin memukul Giska, karena wanita itu mengira Giska tengah menjalin hubungan dengan suami nya. Saat itu Giska berpikir, wanita itu adalah Tia, istri Bobby. Ya, meskipun Giska sudah pernah melihat Tia sebelum nya, tetapi saat wanita itu datang, tiba-tiba saja ia lupa akan sosok Tia. Ia tak mengingat wajah Tia seperti apa, sehingga ia sempat mengira, wanita yang melabrak nya itu adalah Tia.
Saat ini, yang Giska takutkan adalah, bagaimana kalau Tia sampai marah dan memukuli nya, karena ia menolak perintah Tia, untuk meinggalkan Bobby, saat ini juga.
"Berapa uang yang kau inginkan? Aku akan memberikanmu uang itu, asal kau pergi sekarang juga!" Tia menatap Giska sinis.
"Bukan tentang uang, Bu. Tetapi karena saya masih menghormati, Bli Bobby." Jawab Giska. Ia teringat akan ucapan Bobby, yang meminta nya untuk menunggu di rumah, selama Bobby menyelesaikan masalah nya.
Sebenarnya, saat ini Giska merasa bingung dengan hati dan pikiran nya. Ia sakit hati mengetahui fakta tentang alasan pernikahan nya selama ini. Rasanya, seolah ada 2 orang yang sedang berbisik di kedua telinga nya. Di bagian telinga sebelah kiri, ada bisikan yang meminta Giska untuk pergi meninggalkan Bobby, sementara di telinga sebelah kanan, ada bisikan yang mengatakan, ia harus tetap di sisi Bobby. Kedua bisikan itu terdengar sama-sama kuat, sehingga membuat Giska kebingungan dengan dirinya sendiri.
"Sekali lagi saya minta maaf, Bu." Giska mengikuti bisikan di telinga kiri nya.
"Ckc, pelakor seperti mu, tau apa tentang rasa hormat!? Baiklah, kau bisa menolak ku, tapi akan ku pastikan, suami ku yang akan meninggalkanmu!" ucap Tia kesal. Ia pun langsung melenggang pergi dari rumah Giska.
Giska mengelus dada nya, "Itu juga yang ku inginkan, Bu." Batin nya.
"Ini semua memang sudah resiko, karena aku mau menikah dengan suami orang." Giska menghela napas nya, "Kalau saja aku tidak menghormati Bli Bobby, aku pasti akan pergi saat ini juga." Lirih nya, sendu.
Di saat Giska sudah meyakinkan dirinya untuk tetap di sini, menunggu sampai Bobby datang dan memutuskan semua nya, tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari Bapak nya. Bapak nya meminta nya pulang, karena saat ini Bapak nya sedang sakit. Giska pun menjadi cemas dan bingung. Mau tidak mau, ia harus segera pulang. Tanpa pikir panjang, ia langsung menelpon Kadek, ia meminta Kadek untuk mengantarkan nya ke terminal.
__ADS_1
Flashback Off.
"Apa yang kau katakan! Kenapa kau masih tidak mau mengerti ucapanku, Gis?" Bobby nampak frustasi menghadapi Giska, yang tak mau mengerti sama sekali.
"Aku sudah tau semua nya, Bli. Bli Bobby menikahiku hanya karena ingin membuktikan, bahwa milik Bli Bobby masih normal atau tidak, iya kan? Setelah Bli Bobby sudah mengetahui normal, Bli Bobby akan langsung menceraikan ku, bukan? jadi tunggu apa lagi, semua sudah terbukti normal. Jadi, cepat atau lambat, kita akan berpisah. Dan menurutku, lebih cepat akan lebih baik, untuk kita berdua berpisah." Terang Giska.
"Maaf, Bos... Sebaiknya kita pergi dari sini. Semua orang tengah menatap ke arah Bos dan juga Giska." Kadek datang, memotong perdebatan antara suami istri itu.
"Kalian saja yang pergi. Aku tetap di sini, lagipula sebentar lagi, Bus nya akan berangkat." Ucap Giska datar.
"Kau sudah pintar bicara sekarang, ya!" tanpa menunggu lama, Bobby langsung menggendong Giska secara paksa.
"Turunkan aku!" Giska berontak, ia pun memukuli dada Bobby. Bobby pun tak menghiraukan nya.
"Dek, bawa semua tas nya, Giska. Masukkan ke dalam mobil ku!" perintah Bobby, yang langsung di angguki oleh Kadek.
***
"Kau kembalilah ke bengkel, Dek! Terimakasih, karena kau sudah menemani Giska." Tutur Bobby.
Kadek mengangguk, "Baik, Bos. Emm, tolong jangan sakiti, Giska ya, Bos." Ucap nya, sembari menundukkan kepala nya.
"Dia istriku, Dek! Mana mungkin aku menyakiti nya."
"I-iya, Bos. Baiklah, saya permisi..." Pamit Kadek ramah, yang di balas anggukan oleh Bobby.
"Tolong buka pintu mobil nya, Bli! aku harus segera pulang!" pinta Giska.
"Kenapa, Gis? Kenapa kau tidak mau mendengarkanku sekali, saja. Apa kau tidak kasihan melihatku terluka seperti ini?" Bobby menatap Giska.
__ADS_1
"Sini, biar aku mengobati luka, Bli Bobby, sebelum aku pulang."
"Mana kotak obat nya?" tanya Giska kemudian.
"Bukan luka di wajahku yang ku maksud, Gis. Tapi, hatiku yang terluka. Karena kau tidak mau mendengarkan ku. Di saat aku tengah berusaha menyelesaikan masalah, dan berusaha memperjuangkan pernikahan kita, kau malah ingin meninggalkan ku."
Giska menghela napas nya, "Tapi itu, wajah Bli Bobby, memang terluka. Banyak lebam di sana."
"Lupakan luka ku ini. Katakan alasanmu, kenapa kau tidak mau mendengarkan ku?"
"Semua sudah jelas, Bli. Bu Tia sudah mengatakan semua nya, alasan Bli Bobby menikahiku. Dan bukan ny, kalau sudah terbukti bahwa milik Bli Bobby masih normal, Bli Bobby akan menceraikan ku? Sekarang lah waktu nya." Tegas Giska.
"Gis..."
"Sudahlah, Bli. Tolong, izinkan aku pulang. Aku ingin pulang, bukan karena ingin pergi dari Bli Bobby saja. Saat ini Bapak ku sedang sakit di rumah. Jadi, aku harus segera pulang. Karena perlu waktu sehari untuk aku bisa sampai di kampungku."
"Kenapa kau tidak bilang sejak tadi? Kalau tau begini, aku tidak akan mengajakmu berdebat, Gis. Baiklah, biar aku yang mengantarmu, pulang." Bobby merasa bersalah.
"Tidak perlu. Aku akan pulang naik, Bus saja." Giska menolak.
Dengan sedikit perdebatan, akhirnya Bobby pun mengizinkan dan membiarkan Giska pulang naik, Bus. Meskipun berat, tetapi ia juga tak mau memaksa Giska. Ia takut akan semakin membuang waktu Giska. Apalagi, mengingat diri nya juga masih harus meluruskan kesalah pahaman kepada kedua orang tua nya. Anggap saja, saat ini Tuhan masih belum mengizinkan Bobby untuk mengenal orang tua, Giska.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Penjelasan Bobby kepada orang tua nya, ada di next part ya...