
"Pa, ingat apa yang Ajik katakan. Kita harus saling memaafkan, dan kita harus memperbaiki pernikahan kita. Jadi, ku harap, Papa tidak bersikap ketus lagi, terhadapku." Ucap Tia.
"Hmmm, kau sudah tau apa yang sebenarnya ku inginkan, Tia. Tetapi, karena Ajik, aku mau mengubah keputusanku. Aku juga masih perlu waktu untuk bisa kembali menerima dirimu." Jawab Bobby.
"Iya, aku tau itu. Tapi aku yakin, perlahan kita akan bisa kembali seperti dulu lagi, Pa. Aku percaya akan besarnya cinta kita. Cinta yang selama ini kita perjuangkan." Ucap Tia penuh percaya diri.
"Ya, lihat nanti saja. Kau harus ingat perkataan Ajik juga, bahwa kau harus bisa menerima Giska dengan tulus. Kau tidak boleh memintaku meninggalkan Giska, begitupun sebaliknya, kau tidak boleh mempengaruhi Giska, supaya Giska mau meninggalkan ku." Seru Bobby.
"Aku tidak pernah meminta itu pada wanita itu." Elak Tia. "Apa wanita itu mengatakan hal buruk tentangku?" tanya Tia kemudian.
"Dia bukan sepertimu, yang akan mengatakan keburukan orang lain. Aku hanya mengingatkanmu saja, jangan sampai kau berbuat yang tidak-tidak terhadap Giska."
"I-iya, aku tidak ada niat sedikitpun akan hal itu." Ucap Tia, meyakinkan.
"Ya, baguslah."
"Tapi ya, Pa. Wanita baik-baik itu tidak akan pernah menganggu rumah tangga orang lain. Jika sudah terlanjur dinikahi, harusnya dia bisa sadar diri, dan punya pikiran untuk pergi dari kehidupan orang yang sudah ia hancurkan kebahagiannya." Celetuk Tia.
"Kau mulai lagi! Aku tau arah pembicaraanmu. Aku tidak yakin jika kau bisa menerima Giska, seperti apa yang Ajik katakan." Bobby menatap Tia, jengah.
"Sorry, Pa. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku pasti bisa menerima nya, seiring berjalan nya waktu. Untuk saat ini, terus terang saja, aku masih berusaha, Pa. Tapi, aku janji akan berusaha berdamai dengan hatiku ini." Tia mencoba meyakinkan Bobby kembali.
"Ya." Jawab singkat Bobby.
"Ya sudah, lebih baik Papa istirahat, Ayo!" Tia meminta Bobby naik ke atas ranjangnya.
Ya, saat ini mereka tengah berada di dalam kamar. Beberapa menit yang lalu, usai pembahasan masalahnya selesai, kedua orang tua Bobby pun langsung pulang. Sementara Tia mengajak Bobby masuk ke dalam kamar, agar bisa istirahat.
"Kau duluan saja." Bobby memilih keluar dari kamar, daripada istirahat bersama Tia, di dalam kamar.
"Masih saja ketus!" Geram Tia dalam hati nya.
***
__ADS_1
Usai keluar dari kamar, Bobby memilih duduk di ruang tengah sembari menonton TV. Sebenarnya, ia tak benar-benar ingin menonton TV, justru sepertinya TV nya lah yang balik menonton Bobby. Ya, Bobby nampak sibuk dengan ponselnya, sementara TV nya ia biarkan tetap menyala.
Ya, saat ini Bobby tengah berusaha menghubungi Giska. Sudah berulang kali ia mencoba menelpon Giska, namun Giska sama sekali tak menjawab telpon nya. Banyak pesan juga sudah ia kirimkan, namun Giska jug belum membalas nya.
Rasa khawatir pun memenuhi pikiran nya. Hal yang tidak-tidak pun ia pikirkan, berbagai kemungkinan pun sempat terpikir di benak Bobby. Namun, ia tak berhenti berusaha menghubungi Giska. Ia terus menelpon Giska, sampai akhirnya, Giska menjawab telpon nya. Rentetan pertanyaan ia lontarkan kepada Giska, 'Kenapa kau tidak menjawab telponku sejak tadi? Kau juga tak membalas pesan dariku! Apa kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu denganmu?' Itulah pertanyaan yang ia lontarkan kepada Giska. Saking banyak nya pertanyaan yang ia lontarkan, Giska sampai kesulitan saat mau menjawab nya. Bagaimana tidak? Bobby terus saja bicara di telpon. Ia sama sekali tak memberi celah untuk Giska bisa menjawab semua pertanyaan nya. Setelah cukup lama ia mengoceh, akhirnya ia pun tersadar, lalu ia pun diam dan meminta Giska menjawabnya.
'Maaf, Bli. Aku tertidur dan ponselku ku buat mode silent. Jadi aku tidak mendengar ada pesan masuk dan juga panggilan masuk dari, Bli Bobby. Bli Bobby tenang saja, aku baik-baik saja. Mungkin, besok siang aku akan sampai di rumah. Berhubung sekarang sudah malam, lebih baik Bli Bobby istirahat ya. Agar lukanya juga cepat sembuh.' Itulah yang Giska katakan.
Mendengar Giska baik-baik saja, Bobby pun merasa sedikit lega. Ia pun menuruti ucapan Giska, karena kebetulan juga saat ini ia merasa lelah sekali, bahkan kedua matanya pun seolah ingin terpejam. Ia pun memilih tidur di ruang tengah, usai ia mematikan panggilannya bersama Giska.
***
Keesokannya, Bobby sudah terbangun pagi-pagi sekali. Saat ia bangun tidur, pertama kali yang ia cari adalah ponsel nya. Setelah menemukan ponselnya, ia pun kembali menghubungi Giska, untuk menanyakan sudah sampai manakah, dia saat ini?
Usai ia mengakhiri panggilan nya bersama Giska, tiba-tiba saja, Tia muncul dan mengagetkan nya.
"Pa, bukannya tidur di kamar, malah tidur di sini!" Seru Tia.
"Hmm." Bobby hanya berdehem.
"Terserah kau saja." Jawab Bobby datar.
"Ya sudah, Papa tunggu ya, biar aku masakin sarapan."
"Ya." Bobby pun beranjak bangun, lalu ia melangkah masuk ke dalam kamar. Ia pikir, selagi Tia memasak, ia bisa mandi dan bersiap untuk ke bengkel.
Beberapa menit kemudian.
Bobby nampak sudah rapi, wangi dan segar. Ia sudah siap untuk berangkat kerja. Sebelum berangkat kerja, ia menyempatkan untuk memakan sarapan yang sudah Tia buat. Usai sarapan, ia pun langsung berangkat ke bengkel nya.
Sesampainya di bengkel, Bobby menyibukkan diri mengurus semua nya. Ia memilih mencari-cari pekerjaan, untuk membuat dirinya sibuk, untuk mengalihkan pikiran nya. Ya, sejak kemarin sampai saat ini, ia terus saja memikirkan Giska. Ini adalah kali pertama ia berjauhan dengan Giska, setelah Giska menjadi istrinya. Ya, meskipun mereka menikah baru beberapa hari, tetapi ia merasa aneh jika harus berjauhan dengan Giska.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa hari sudah menjelang malam. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WITA. Di jam semalam ini, Bobby terlihat baru keluar dari bengkel nya. Saat ini ia sudah berada di dalam mobilnya, dan ia pun langsung melajukan mobilnya, menuju rumah.
__ADS_1
"Di sini sudah pukul 21.00, berarti di Surabaya masih pukul 20.00. Hmm, mungkin saat ini Giska sudah selesai mengurus Bapak nya. Lebih baik aku telpon dia saja." Gumam nya, seraya mengemudikan mobilnya. Ia pun langsung memasang earphone di salah satu telinga nya. Kemudian ia ambil ponsel nya dan di tekan nya nomor Giska. Tak lama kemudian, terdengar suara sahutan di sebrang telpon.
"Hallo." Sapa Giska di sebrang telpon.
"Sudah sampai ya?" tanya Bobby.
"Sudah dari tadi siang, Bli. Tadi waktu sampai kan aku sudah mengirim pesan."
"Ohh iya." Bobby terkekeh. "Bagaimana keadaan, Bapak, Gis?" tanya Bobby.
"Bapak sudah baikan, Bli. Sudah tidak pusing lagi katanya. Tadi saat aku baru datang, aku langsung mengantarnya periksa ke dokter."
"Syukurlah kalau begitu, salam ya buat Bapak, semoga lekas sehat kembali, dan tidak sakit-sakit lagi." Ucap Bobby.
"Iya, terimakasih."
"Pasti kau lelah ya, Gis? suaramu lemas sekali."
"Iya, Bli. Badanku rasanya pegal-pegal semua." Jawab Giska.
"Ya sudah, kau ist,-----"
"Sebentar, Bli." Giska sedikit berbisik. Ia memotong perkataan Bobby. Bobby pun menjadi diam, namun, ia tak mematikan panggilannya.
Di rumah Giska.
"Bapak?" Giska merasa ketakutan, karena Bapak nya tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Giska.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...