
Bobby mulai menarik diri lalu mendorongnya lagi. Ia pun mulai menggenjot bergerak maju mundur, menciptakan sensasi yang luar biasa bagi kedua nya.
"Mmmhhhhh," Terdengar desisan lirih dari bibir Giska.
"Ahhhhhh.... Uhhhh... Ahhhhh..." Bobby pun ikut mendesah.
"Rasakan, Sayang... Nikmatilah." Oceh Bobby sensual, seraya terus menggenjot tubuh Giska.
Entah kenapa Giska merasa aneh, entah sadar atau tidak ia pun mulai mengeluarkan suaranya meskipun lirih. Nikmat, melayang itulah yang mungkin tengah dirasakan oleh Giska saat ini. Ia tak menampik semua rasa itu, ya sebelumnya ia memang selalu takut jika dalam situasi seperti ini, tetapi setelah beberapa kali ia melakukan nya, ia pun mulai bisa merasakan kenikmatan dari percintaannya. Apalagi jika dilakukan dengan penuh rasa sayang dan ketulusan, itu semakin menambah rasa nikmat dari percintaan ini.
"Milikmu sungguh sempit sekali, Gis. Ahhhhh, mantap." Racau Bobby.
"Mmmhhhhhhh..." Desis Giska. Giska yang sadar jika mulutnya mengeluarkan suara desahan, ia pun langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan nya.
"Duhhh, mulutku." Batinnya malu.
"Lepaskan saja, Gis. Keluarkan suaramu, jangan di tahan-tahan." Bobby menyingkirkan tangan Giska yang menutupi mulutnya.
"Ahhhhh..." Lagi-lagi Giska mendesah. Laknat sekali mulutnya, ia sudah berusaha menahan agar tak bersuara, eh tiba-tiba suara itu lolos dengan sendirinya. Takut, malu bercampur nikmat, itu yang Giska rasakan saat ini. Semua jadi satu. Mungkin, diantara ketiga perasaan itu, nikmatlah yang paling dominan saat ini. Raut wajah Giska pun terlihat sangat menikmati.
Melihat ekpresi Giska yang merem melek, gairah Bobby pun semakin melonjak. Dengan semangat ia terus menggenjot tubuh Giska, sembari sesekali ia memainkan p#ting Giska yang mulai mengeras.
10 menit...
20 menit...
30 menit...
45 menit berlalu, namun sepasang suami istri ini masih belum menyelesaikan pergumulan nya. Bahkan kini keduanya terlihat semakin memanas.
Disaat kedua nya tengah sibuk menikmati kenikmatan surga dunia, ponsel Bobby terus saja bergetar. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali.
Drrrtttt..... Drrrttttt... Drrttttt...
Drrrtttt... Drrtttt.... Drrrrtttt..
Entah kedua insan yang sedang bercinta ini mendengar suara getaran ponsel itu atau tidak, tapi yang jelas, saat ini kedua nya masih fokus melanjutkan pergumulan panasnya.
"Bli..." Suara Giska terdengar pelan. Kedua tangan Giska memegang kedua lengan Bobby dengan sangat kuat.
"Iya, Sayang." Sahut Bobby sensual sembari terus bergerak maju mundur.
"Aku..." Giska tak meneruskan ucapan nya. Ia malah memejamkan kedua matanya. Tubuhnya mengejang hebat seolah ada sesuatu yang ingin ia keluarkan.
"Keluarkan, Sayang. Ayo keluarkan!" Bobby semakin mempercepat tempo gerakan nya.
Dan... Breesshhh....
"Ahhhhhhh, kau menyiramiku, Sayang." Racau Bobby keenakan karena Giska baru saja menyemburkan miliknya.
Lemas, itulah yang tengah Giska rasakan saat ini. Napasnya pun terdengat ngos-ngosan.
Bobby pun sejenak menghentikan gerakan nya. Ia menatap Giska yang saat ini tengah mengatur napasnya usai mengelurkan cairan itu. Terulas senyuman di bibir Bobby.
__ADS_1
"Gis, apa aku bisa meneruskan nya?" tanya Bobby.
Giska menatap Bobby, "Apakah masih belum selesai juga? Rasanya tubuhku lemas sekali, Bli." Ucap Giska.
"Wajar kau sampai lemas, Gis. Kau sudah berulang kali mencapai klimaks, kau juga sudah berulang kali menyemburkan cairanmu itu. Kini giliranku untuk menyemburmu, Gis." Kata Bobby terkekeh kecil.
Giska tersipu malu mendengar perkataan Bobby.
"Kau cukup diam saja, Gis. Biarkan aku yang bekerja." Ujar Bobby, kemudian ia pun mulai menumbuk tubuh Giska.
Sebenarnya sejak tadi Giska memang hanya diam saja. Memang, Bobby lah yang terus bergerak sejak tadi. Meskipun Giska hanya diam saja, ia mampu mencapai klimaks berkali-kali. Mungkin benar yang orang katakan, jika kita melakukan itu dengan suka rela bersama pasangan kita, maka kita akan merasakan kenikmatannya. Berbeda ketika melakukan itu secara paksa, ataupun di perkosa, kita tak akan merasakan kenikmatan, melainkan sakit yang akan kita rasakan.
"Gis... Aku ingin keluar." Racau Bobby, ia pun semakin mempercepat tempo gerakan nya. Semakin lama semakin cepat.
Lalu kemudian...
"Akhhhhhhh......." Bobby pun menyemburkan benihnya ke dalam rahim Giska.
Bobby pun mendaratkan kecupan di kening Giska, tanda mereka menyudahi pergumulan panas ini. "I love you." Ucap Bobby, kemudian ia menarik tubuhnya, lepaslah penyatuan mereka. Lalu ia pun menjatuhkan tubuhnya di samping Giska.
"Ternyata seperti ini rasanya melakukan penyatuan dengan tanpa paksaan. Apalagi di perlakukan manis seperti ini. Ahh rasanya aku tak ingin menyudahi ini semua." Giska membatin. Terulas senyum di sudut bibir nya.
"Aduhh, mikir apa sih aku ini. Lebih baik aku membersihkan diri sekarang." Gumam Giska, ia pun ingin beranjak bangun dari kasur. Namun, baru saja ia bergerak, Bobby sudah menahan nya.
"Tetaplah di sini!" Bobby memeluk perut Giska.
"Aku mau ke kamar mandi, Bli. Kita harus siap-siap berangkat ke Bali, bukan?"
"Iya, kita akan berangkat, tapi nanti. Kau diamlah disini, nanti saja kita akan membersihkan tubuh kita bersama-sama." Pinta Bobby, seraya mempererat pelukan nya.
Melihat istrinya pasrah, Bobby malah merasa heran, "Tumben kau tidak protes, Gis."
"Iya, aku tadi baca-baca di google, katanya istri harus nurut kepada suami jika tidak ingin suami nya sampai mencari gadis lain lagi di luaran sana." Jawab Giska polos.
"Nah iya, benar sudah begitu. Kau harus seperti ini terus. Kalau perlu tanya google saja terus." Bobby tersenyum senang. Jika saja google ada di hadapan nya, ia akan langsung mencium tangan nya, kalau perlu mencium kakinya, karena berkat google, Giska jadi berubah menjadi istri yang penurut. Tapi sayangnya, google bukan manusia, jadi ya lupakan saja niat untuk mencium tangan nya google. 😁😁😁
"Hmmm." Giska hanya berdehem.
Drttttt... Drrttttt....Drrttttt..
"Ponselnya berdering itu, Bli. Sepertinya sejak tadi terus berdering." Ucap Giska.
"Iya, tadi aku juga mendengarnya. Tapi, berhubung tadi kita lagi bergulat, jadi ya aku abaikan saja suara ponselku." Ujar Bobby terkekeh.
"Ya sudah, sekarang jawab saja."
"Iya." Bobby pun mengambil ponsel nya. Nampak nama Tia tertera di layar ponsel nya. Bobby ingin menjawab nya, namun ia tak enak jika harus bicara di depan Giska. Ia pun memilih tak menjawabnya. Nanti saja ia akan menelpon Tia, begitu pikirnya.
"Kok tidak di jawab?" tanya Giska.
"Biarkan saja. Nanti aku akan menelpon nya."
"Kenapa? Apa itu dari Bu Tia?"
__ADS_1
Bobby mengangguk.
"Jawab dong, Bli! Kalau Bli Bobby tidak nyaman karena aku ada di sini, aku akan pergi ke kamar mandi. Bli Bobby bisa bicara dengan Bu Tia dengan nyaman." Ucap Giska.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaanmu. Itu sebabnya aku tidak menjawab telpon nya."
"Aku tidak terluka, Bli. Jawab saja."
"Oke baiklah. Tapi, apa kau mau tetap berada di sini selagi aku bicara dengan Tia?" tanya Bobby ragu.
"Iya, lagipula juga Bli Bobby tidak mengizinkanku pergi. Jadi ya aku akan tetap di sini. Tenang saja aku tidak akan mengeluarkan suara." Jawab Giska.
"Maaf ya, Gis." Ucap Bobby, sesaat sebelum ia menjawab telpon dari Tia.
Giska tersenyum kelu. Ia masih tak menyangka akan berada di dalam situasi seperti ini. Menikah dengan suami orang. Dan di saat ia baru saja selesai melakukan pergumulan, tiba-tiba istri pertama suami nya menelpon. Berdosa sekali rasanya. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.
Back to Bobby.
"Ada apa, Tia?"
"__________"
"Sorry, karena aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Emmm, aku akan kembali 2 jam lagi." Ucap Bobby.
"_________"
"Ohh, oke, baiklah. Kau hati-hati lah."
"__________"
Tuttt....
Panggilan berakhir.
Bobby pun kembali menaruh ponsel nya. Kini tangan nya pun kembali melingkar di perut Giska.
"Apa kau tidak marah?" tanya Bobby.
"Tidak, untuk apa marah. Harusnya Bu Tia yang marah, Bli. Lebih baik sekarang kita segera bersiap-siap lalu segera berangkat ke Bali. Kasihan Bu Tia sudah Bli Bobby tinggal lama." Celetuk Giska.
"Nanti saja, Gis. Tia baru saja mengatakan, dirinya memilih pulang ke Bali lebih dulu. Ini sekarang di sudah berada di Bandara Juanda."
"Haa? Apa Bu Tia ikut ke Surabaya?"
"Iya."
"Astaga, pasti Bu Tia sangat marah karena menunggu Bli Bobby terlalu lama. Makanya Bu Tia memutuskan untuk pulang sendiri naik pesawat." Giska merasa tak enak hati.
"Kau tidak perlu cemas memikirkan Tia. Dia akan baik-baik saja."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...