Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Kau lagi!


__ADS_3

"Vell, kenapa pipis di sini? nanti kalau Cici nya Vellyn melihat, pasti akan marah-marah." Ucap Giska.


"Tidak apa-apa, Mbak. Lagipula di sana dan di sini itu sama saja. Sama-sama kamar mandi, jadi boleh pipis di mana saja." Jawab Vellyn.


"Ya, kalau Vellyn tidak apa-apa. Beda ceritanya kalau ketahuan Sephine." Batin Giska.


Dan benar saja, baru selesai Giska membatin, nampak Sephine berdiri di belakang Giska.


"Mbak, kenapa Vellyn di suruh pipis di toilet ini! nanti kalau Vellyn tertempel kuman bagaimana?!" bentak Sephine.


"Toilet bersih begini, di bilang ada kuman nya. Biarpun ini toilet pembantu, tapi kan bersih." Gerutu Giska, di dalam hati nya.


"Maaf, Non. Non Vellyn sudah kebelet tadi." Giska membela diri.


"Iya, Ci. Vellyn sudah tidak tahan tadi." Sahut Vellyn.


"Setelah ini, Vellyn langsung mandi saja, mandi yang bersih!" seru Sephine.


Begitulah keseharian Giska, setiap ia di marahi, Vellyn lah yang maju untuk selalu membela nya. Giska merasa beruntung bisa menjadi pengasuh Vellyn, si gadis lucu, imut, nan baik hati.


Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan telah Giska lalui dengan penuh suka duka. Saat ia baru lulus SMP, ia langsung bekerja di sini, dan akhirnya ia jadi mengerti bagaimana susah nya mencari uang sendiri. Bekerja dengan orang itu tidak mudah, kadang juga suka di marahi, di suruh-suruh kemana-mana. Namun, itu semua sudah menjadi tanggung jawab nya.


Tepat di tahun ke 2 ia bekerja di sini, Giska memilih berhenti bekerja di sini. Ia ingin merantau lebih jauh lagi, supaya ia bisa mendapatkan gaji yang cukup. Bukan ia tak mensyukuri gaji nya selama menjadi pembantu, namun, selama 2 tahun ia bekerja menjadi pembantu, gaji nya hanya sampai 500 ribu rupiah saja perbulan. Awalnya ia di gaji 450 ribu, dan katanya nanti akan di naikkan, namun nyatanya hanya dinaikkan 50 ribu saja, dan itu sudah selama 2 tahun.


Mendapat gaji 500 ribu perbulan, terkadang ia juga tak sengaja melakukan kesalahan yang berakibat gajinya di potong, apalagi setiap pergi kemana-mana untuk menjaga Sephine dan Vellyn, Giska juga harus mempunyai uang sendiri untuk membeli makan di luar. Jadi misal nya, jika mereka sedang keluar, dan Giska tak mempunyai uang, alhasil Giska harus bisa menahan lapar nya sampai nanti pulang ke rumah. Namun, jika mereka keluar bersama dengan Nelly, Nelly lah yang membelikan Giska makan.


Begitulah kehidupan, setiap manusia memiliki sifat yang berbeda, ada yang baik, ada juga yang perhitungan atau bisa di bilang pelit. Itulah salah satu alasan Giska memilih berhenti, ia berpikir ingin mencari yang lebih lagi, untuk bisa memperbaiki rumah nya, karena selama 2 tahun ia bekerja, ia sama sekali belum memiliki tabungan untuk memperbaiki rumah. Di tambah lagi sekarang Bram sudah tidak bekerja, ia sudah sering sakit, dan Giska lah yang mengambil alih menjadi tulang punggung keluarga.


***

__ADS_1


Bali.


Dan di sini lah, Giska saat ini berada. Sudah satu minggu ini Giska berada di Bali. Ya, selepas ia berhenti jadi pembantu, selang beberapa hari, ia langsung berangkat ke Bali. Saat ini Giska tengah bekerja di sebuah warung makan.


"Selamat datang. Silahkan, ini buku menu nya." Giska memberikan 2 buku menu kepada 2 orang pengunjung yang baru datang, dan sudah duduk di kursi.


"Gurame panggang, plecing kangkung, ayam panggang, air mineral dan jus melon. Oh iya, ayam panggang nya, saya mau yang paha." Ucap pengunjung perempuan.


"Papa, mau pesan apa?" ucap perempuan itu kepada laki-laki yang duduk di hadapan nya.


"Samakan saja." Ucap nya singkat.


"Baiklah, mohon di tunggu sebentar, Pak, Bu." Ucap Giska sopan, lalu ia permisi ke belakang.


Tak lama kemudian, Giska sudah siap mengantarkan pesanan kepada2 pengunjung yang ia layani tadi. Dengan sangat hati-hati Giska membawa makanan dan minuman itu, ia di bantu oleh salah satu teman nya, yang membawakan sebagian makanan dan minuman itu. Namun, saat ia menata makanan dan minuman itu di meja, secara tak sengaja Giska menumpahkan jus itu, hingga mengenai pakaian pengunjung laki-laki itu.


"Kau!" bentak laki-laki itu.


"Kau bagaiamana? bisa bekerja atau tidak!" seru wanitanya.


"Maafkan saya." Giska menunduk.


"Kau lagi!" seru laki-laki itu, ia menatap Giska dengan kesal. Giska pun tak berani balik menatap nya, ia terus saja menunduk.


"Papa mengenalnya?" tanya wanita itu penuh selidik.


"Tidak." Jawab nya cepat.


"Maafkan teman saya, Pak, Bu. Dia masih baru bekerja di sini." Ucap teman Giska.

__ADS_1


"Sudahlah! selera makanku jadi hilang, gara-gara kau sudah mengotori baju suamiku!"


"Ayo, Pa. Kita pergi!" wanita itu menarik suami nya untuk segera pergi, dan membiarkan semua makanan itu utuh tak tersentuh.


"Sebentar, Pak, Bu. Kalian belum membayar makanan ini." Giska memberanikan diri mengejar kedua orang itu. Ia berpikir, bagaimana jika sampai dirinya lah yang harus membayar semua makanan ini. Dari mana ia akan mendapat uang, apalagi total nya juga lumayan banyak. Ia teringat akan pengalaman nya sebagai pembantu, di saat melakukan kesalahan selalu potong gaji.


"Kau bayar saja sendiri!" seru wanita itu.


"Tidak bisa begitu, Pak, Bu. Kalian sudah memesan, jadi kalian juga harus membayar nya." Ucap Giska, ia sudah tak perduli rasa takutnya lagi.


Laki-laki itu pun langsung mengambil uang dari saku nya, beberapa lembar uang pecahan 100 ribu an. Namun, saat laki-laki itu akan memberikan kepada Giska, tangan wanita itu lebih dulu mengambilnya dan langsung melemparkan uang itu hingga mengenai muka Giska.


"Tuh, ambil." Ucap nya.


"Kau ini apa-apa an. Tidak perlu sampai seperti itu!" tegur suami nya.


"Sudahlah, ayo kita pergi!" wanita itu menarik suaminya, pergi meninggalkan tempat itu.


"Apa semua orang kaya selalu seperti itu?" Giska pun mengambil uang yang berserakan itu, meski hatinya merasa sakit, namun ia tak memperdulikan nya. Toh ia juga sudah biasa mendapat perlakuan seperti ini.


"Gis, kau di suruh ke ruangan, Bos." Panggil teman nya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2