
Sudah tidak ada gunanya lagi menyesali apa yang telah terjadi. Jika terus-terusan meneruti penyesalan itu maka itu tidak akan pernah ada habisnya. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Sama halnya dengan orang yang sudah tiada, dia tidak akan pernah bisa kembali hidup lagi. Semua ini sudah takdir dari Tuhan. Mau melawan takdir? Itu tidak bisa.
Itulah yang dikatakan oleh Bobby pada Giska yang terus saja menyesali kepergian bapaknya.
"Aku tau bagaimana perasaanmu, Sayang. Kau sedih dan hancur kehilangan bapak. Aku pun sama, aku juga sedih dan hancur. Bahkan sangat hancur, Sayang. Aku kehilangan Ajik dan Ibuku dalam waktu yang berdekatan," ujar Bobby sembari memeluk Giska yang masih menangis.
"Sudah hampir dua bulan ini aku kehilangan orang tuaku. Aku sedih. Tapi jika aku terus-terusan sedih, apa yang akan ku dapat? Semuanya akan semakin berantakan. Siapa yang akan mengurus pekerjaanku jika aku terus-terusan terpuruk? Siapa yang akan memberikan uang jika aku tidak kembali bekerja?" tambahnya.
"Hidup terus berjalan, Sayang. Ada banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi. Kehilangan orang tua pasti sedih tetapi cobalah mengikhlaskan perlahan. Dan juga, jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri," tuturnya kemudian.
"Tapi aku paham, saat ini memang masih terlalu berat. Tapi nanti perlahan, kau harus mulai mengiklaskan semua ini," tambahnya.
"Iya," jawab Giska sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku sendiri juga masih sulit menerima, Sayang. Tetapi jika aku bersedih, kau juga pasti akan semakin sulit menerima kenyataan pahit ini," batin Bobby sendu. Tak bisa dipungkiri, ada setetes air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya. Namun ia segera mengusapnya.
"Kita keluar, yuk. Cari udara segar, sekaligus kita makan diluar," ajak Bobby kemudian.
"Aku tidak ingin pergi kemanapun, Bli. Aku ingin di rumah saja," jawab Giska pelan.
"Tapi aku ingin, Sayang. Sangat ingin malah," celetuk Bobby.
"Please..."
"Ya, baiklah. Aku akan mengganti pakaianku dulu."
"Tidak perlu mengganti pakaian, Sayang. Pakai ini saja. Kau terlihat cantik dengan mengenakan pakaian apapun," puji Bobby sembari menoel hidung Giska.
Mendapat pujian dari suaminya, Giska tetap tak memberikan wajah senangnya. Ia bahkan tetap terlihat sedih. Namun ia sedikit berusaha menutupi kesedihannya itu dari suaminya.
Tanpa berlama-lama, mereka berdua pun pergi keluar.
Saat sudah berada di dalam mobil dan mobil sudah melaju dengan pelan, keluar dari komplek BTN itu, Giska melihat Trias sedang menangis di depan rumahnya sendiri. Sontak ia pun meminta suaminya menghentikan laju mobilnya.
"Bli, berhenti!"
"Kenapa, Sayang? Apa ada yang tertinggal?" tanya Bobby saat menghentikan mobilnya.
"Tidak ada, Bli."
"Lalu? Kenapa minta berhenti?"
"Aku melihat Trias sedang menangis. Aku ingin menghampirinya, Bli. Siapa tau dia memiliki masalah," ucap Giska seraya menunjuk ke arah Trias.
"Kita perginya lain kali saja, Bli," celetuknya kemudian.
Bobby langsung geleng-geleng kepala sambil menatap istrinya. "Kau saja sedang tidak baik-baik saja perasaanmu, Sayang. Malah mau menghibur temanmu yang menangis," batinnya.
"Jangan khawatir tentang temanmu itu, Sayang. Bukankah dia biasa seperti itu? Nanti juga dia berhenti menangis," ucap Bobby, ia kembali melajukan mobilnya.
"Bli.." Giska seakan ingin protes.
"Pasti dia menangis karena sedih, kau tadi tidak menanggapinya," celetuk Bobby kemudian.
"Menanggapi apa?" sahut Giska sedikit kesal.
"Ya, temanmu tadi kan menemui di rumah kan? Tapi katanya kau mengabaikannya. Mungkin karena itu dia menangis. Kau juga sepertinya tidak mengatakan apapun tentang Bapak. Itu sebabnya temanmu itu tidak tau. Tapi ya sudahlah. Nanti saja urus temanmu itu. Sekarang fokus saja pada kita, Sayang."
__ADS_1
"Ah iya aku baru ingat. Tadi Trias ke rumah. Tapi aku lupa apa yang dia katakan. Aku juga belum sempat cerita padanya," ucap Giska pelan, namun masih terdengar oleh Bobby.
"Hmmm. Ya nanti saja kau beritahu dia. Sudah, sekarang jangan pikirkan dia lagi. Kemarilah, mendeketlah kesini. Aku sangat ingin memelukmu."
"Bli Bobby sedang menyetir mobil. Jangan sembarangan bertingkah," celetuk Giska.
"Hanya memeluk saja tidak akan apa-apa di jalan," sahut Bobby sambil tangan kirinya menarik lengan Giska sehingga posisi Giska menjadi lebih dekat. Kemudian ia pun meminta Giska memiringkan kepalanya sampai tersandar di lengan.
"Tenang, Sayang. Aku akan tetap hati-hati kok," ucap Bobby.
"Iya," sahut Giska pasrah yang kini bersandar pada lengan suaminya.
"Sayang..."
"Iya?" Giska menjawab tanpa menatap Bobby. Ia tetap masih dalam posisinya saat ini.
"Jangan pernah tinggalkan aku ya," ucap Bobby tiba-tiba. Tetap ia sambil mengemudikan mobilnya.
"Ditinggalkan pulang ke Surabaya maksudnya?" sahut Giska, yang balas bertanya pada suaminya.
"Tidak. Untuk apa kau ke Surabaya lagi? Toh di sana sudah tidak ada, Bapak," celetuk Bobby.
"Iya, tidak ada Bapak lagi," sahut Giska sendu.
"Emmm, maksudku bukan seperti itu, Sayang. Maksudku adalah jika kau kembali ke Surabaya, takutnya kau akan semakin teringat Bapak. Aku tidak ingin kau berlarut-larut dalam kesedihan. Dan juga aku tidak ingin kau tinggal di rumah seorang diri di sana. Tetapi jika aku ikut bersamamu, baru kau boleh ke Surabaya," tutur Bobby, hangat.
"Hmm." Giska hanya berdehem.
"Hanya hmmm saja?" Bobby mengernyitkan alisnya saat ia bicara dalam hati.
°°°°°°°
Bobby dan Giska tiba di sebuah pantai yang terletak di kawasan Kuta. Bobby menggandeng Giska berjalan menuju ke area pantai itu. Bobby bahkan sesekali mendaratkan kecupan di puncak kepala Giska di sela-sela mereka sedang berjalan.
Giska pun tak menolaknya. Ia bahkan tak melayangkan protes apapun. Ia malah hanya diam saja sambil terus berjalan mengikuti langkah arahan suaminya.
Suasana pantai yang ramai, tak membuat Giska merasa terhibur. Ia bahkan tetap saja terlihat kurang bersemangat. Ia seakan merasa sepi meskipun ditengah-tengah ramainya orang-orang yang berada di pantai itu.
"Wehhh, Bob... Kau ke pantai? Tumben?" Tiba-tiba ada seorang pria menyapa Bobby.
"Weeii Rick. Kau rupanya. Iya ini iseng saja," jawab Bobby, balas menyapa Ricky --- teman kuliah Bobby.
"Bob, aku turut berduka cita ya. Aku baru hari ini tau kalau Ajik Gung De dan Ibumu sudah tiada. Aku terkejut mengetahuinya, Bob. Ini tadi aku tak sengaja bertemu dengan Istrimu di minimarket. Dia cerita tentang Ajik dan Ibumu, Bob. Kau yang kuat ya, Bob." Ricky menepuk pelan bahu Bobby.
"Iya, Rick. Terimakasih. Kau saja terkejut. Apalagi aku?" Bobby melemparkan senyuman kecil pada Ricky.
"Tapi, Bob. Sebenarnya apa yang terjadi? Tadi istrimu tidak mengatakan semuanya. Dia hanya memberitahu kalau orangtuamu sudah tiada. Sebenarnya apa yang terjadi, Bob?" tanya Ricky.
"Sorry, Rick. Jangan sekarang ceritanya. Nanti kapan-kapan datanglah ke rumah. Kita cerita-cerita di sana. Karena sekarang aku sedang ingin membuat istriku happy lagi. Dia juga sedang sedih. Jadi makanya aku ajak di ke sini," ujar Bobby.
"Oh iya, kenalkan, Rick. Ini Giska, istriku." Kemudian Bobby mengenalkan Giska pada Ricky.
"Ohhh, iya. Hallo, saya Ricky." Ricky menyodorkan tangannya pada Giska, namun kedua matanya menatap Bobby.
"Giska." Giska pun menjabat tangan Ricky.
"Baiklah kalau begitu, Bob. Aku harus pergi. Nanti aku akan mengabarimu saat aku ingin ke rumahmu."
__ADS_1
"Baiklah, aku tunggu, Rick."
"Siap, Bob. Aku pergi dulu ya. Have fun kalian berdua." Setelah mengatakan itu, Ricky pun pergi dari sana. "Gila si Bobby, istri tuanya sedang hamil besar, eh dia malah punya istri lagi. Gokil sih Bobby." Ricky membatin sambil tersenyum.
"Kelihatan masih kecil itu istri mudanya, Bobby. Asli pedofil Bobby ini." Ricky tertawa sendiri sambil membayangkan Bobby.
"Bobby dan Tia, memang pasangan yang,--- ah sudahlah. Urusan masing-masing," gumam Ricky.
Sementara Bobby, ia pun kembali meneruskan perjalaannya, mengajak Giska lebih mendekat ke arah pantai.
"Bli Bobby membiarkan Bu Tia pergi sendirian ke minimarket sedangkan Bli Bobby malah mengajakku ke sini," celetuk Giska tiba-tiba.
"Dia tidak sendirian, Sayang. Kau jangan khawatir," tutur Bobby.
"Ohh tidak sendirian? Aku pikir sendirian. Kan kasihan Bu Tia kalau pergi sendirian. Perutnya kan sudah besar," tanggap Giska.
"Sudah berapa bulan sekarang kehamilannya, Bli?" tanyanya kemudian.
"7 bulan," jawab Bobby singkat.
"Wah, dua bulan lagi keluar babynya," sahut Giska.
"Hmm, sudahlah. Kenapa kau jadi semangat membahas Tia, Sayang. Kau bahkan sejak tadi diam saja. Giliran Tia, kau jadi banyak bicara!"
"Iya tadi kan kebetulan saja," sahut Giska.
"Oh iya, memangnya Bu Tia izin ya kalau ingin pergi? Makanya Bli Bobby tau kalau Bu Tia tidak pergi sendirian. Soalnya tadi kan temannya Bli Bobby tidak cerita kalau Bu Tia tidak sendirian?" Lagi-lagi Giska melontarkan pertanyaan tentang Tia.
"Sayang..." Bobby memprotes Giska. Ia terlihat enggan membahas Tia.
"Ya, ya maaf." Giska yang menyadari sikap Bobby, pun ia tak meneruskan untuk membahas Tia lagi.
"Aku maafkan. Tapi dengan syarat," celetuk Bobby.
"Aku tidak jadi minta maaf," sahut Giska tak terduga.
"Kau ini!" Bobby menoel gemas hidung Giska.
"Sayang, hidungmu ini sepertinya banyak komedonya. Sudah beberapa kali ku pegang, aku merasakan hidungmu sedikit berbeda," ucap Bobby.
"Biarkan saja." Giska tak mempedulikan.
"Tidak bisa dibiarkan. Ayo kita bersihkan dulu. Kita kembali ke mobil lagi. Nanti setelah hidungmu bersih, baru kita ke sini lagi," ajak Bobby. Ia bahkan langsung memutar arah langkah kakinya. Giska yang digandenganya pun otomatis mengikuti Bobby.
"Kau ini kenapa jadi aneh, Bli? Kau yang mengajakku ke sini. Kita sudah jalan lumayan jauh dari tempat parkir mobil. Sekarang hanya gara-gara hidungku yang komedoan, kau mengajakku kembali ke mobil lagi!" protes Giska. Ia yang semula banyak diam, kini memrotes suaminya yang tiba-tiba bertingkah laku aneh.
"Lagipula sejak kapan Bli Bobby memikirkan komedoku? Dulu tidak pernah kan?" kesal Giska.
"Sudah jangan banyak protes. Ayo!"
..
..
..
Bersambung...
__ADS_1