
Starla membawa masuk pakaian Deka yang dia angkat dari jemuran dan berjalan mendekati lelaki itu.
"Bang, ini letak di mana?" tanya Starla seraya menunjuk pakaian-pakaian di tangannya.
Deka dan Dani yang sedang mengobrol sontak memandang ke arah Starla, keduanya sedikit terkejut.
"Oh, letak di situ saja!" Deka menunjuk sofa di hadapannya.
Starla menurut, dia meletakkan pakaian-pakaian Deka di sofa itu.
"Sudah cantik, rajin lagi! Cocok banget jadi bini Abang," seloroh Dani.
Starla tersipu-sipu, "Abang bisa saja."
"Kalau dia jadi bini kau, terus pacar-pacar kau yang tak terhitung jumlahnya itu mau kau kemana kan?" sela Deka.
Dani langsung menendang kaki sahabatnya itu lalu berbisik, "Jangan buka kartu! Kau ini tidak bisa lihat teman senang!"
"Aku kan cuma bertanya?" sanggah Deka.
Dani mencibir, "Tidak perlu bertanya!"
Starla hanya termangu memandangi dua lelaki itu, ternyata di balik sikap cuek dan dinginnya, Deka juga suka bercanda.
"Oh iya, temanmu ada yang buka lowongan pekerjaan tidak?" tanya Deka kemudian.
Dani mengerutkan keningnya, "Lowongan pekerjaan? Untuk siapa?"
"Untuk dia." Deka menunjuk Starla yang sudah duduk di hadapan mereka.
Starla sontak merengek, "Bang, aku kerja dengan Abang saja, ya? Aku bisa jadi pembantu yang multifungsi, kok."
"Aku kan sudah bilang, aku tidak butuh pembantu!" tolak Deka tegas.
"Bang, aku takut kalau kerja dengan orang lain, bagaimana kalau aku jadi korban perdagangan manusia lagi?"
"Iya, Ka. Itu ide yang bagus! Sebaiknya dia kerja sama kau saja, kau kan tidak ada pembantu," sambung Dani, lalu berbisik di telinga Deka, " jadi aku masih bisa sering-sering ketemu dia buat pedekate."
Deka melirik Dani lalu menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau!"
__ADS_1
Wajah Starla berubah sedih, ternyata Deka benar-benar keras kepala.
"Ka, kasihan dia kalau majikan atau bos-nya nanti bukan orang baik," lanjut Dani.
"Makanya aku tanya apakah ada temanmu yang buka lowongan pekerjaan, kau kan pasti tahu temanmu itu orang baik atau tidak," dalih Deka.
Dani menggeleng, "Tidak ada, teman-temanku tidak ada yang membuka lowongan pekerjaan."
"Ya sudah, biar aku coba tanya teman-temanku saja, siapa tahu mereka ada pekerjaan untuk dia." Deka beranjak dari duduknya dan hendak pergi, tapi tanpa diduga-duga, Starla juga ikut bangkit dan mengejarnya.
"Bang tunggu!" Starla menarik tangan Deka dan menggenggamnya dengan berlinang air mata, "aku mohon izinkan aku bekerja dengan Abang, aku janji tidak akan menyusahkan dan meminta gaji yang tinggi."
Deka tertegun melirik tangan Starla yang memegangi tangannya, entah mengapa dia merasa seperti ada sengatan listrik yang membuat hatinya merasakan sesuatu yang aneh.
Dani juga memandangi tangan kedua insan itu dengan terkejut, dia tak menyangka Starla akan memohon sampai seperti itu.
"Bang, boleh, ya? Aku mohon!" Starla menatap penuh harap.
Deka beralih menatap wajah cantik Starla, mata indah wanita itu yang basah membuat Deka merasa iba dan tidak tega. Ini untuk pertama kalinya dia merasa kasihan terhadap orang lain.
"Deka!" tegur Dani karena melihat sahabatnya itu melamun memandangi Starla.
"Apa?" tanya Starla.
"Jangan mencampuri urusanku dan jangan masuk ke kamarku tanpa izin!"
Starla mengangguk patuh, "Baik, Bang."
Dani merasa lega karena akhirnya Deka mau mengizinkan Starla untuk bekerja di rumahnya, itu artinya Dani bisa sering-sering bertemu wanita itu untuk melakukan pendekatan.
"Ya sudah, kalau begitu kau boleh tidur di kamar tamu yang ada di lantai bawah," pinta Deka.
Starla mengangguk.
"Lakukan tugas seorang pembantu dan jangan buat apa yang aku larang! Kalau kau sampai melanggarnya, aku akan memecat mu," ujar Deka tegas.
"Iya, Bang," sahut Starla sambil tersenyum manis.
"Jangan terlalu kejam, ah! Kasihan!" sela Dani.
__ADS_1
"Sekarang kan aku majikannya, jadi aku harus tegas pada pembantuku," sindir Deka.
"Iya, tapi jadilah majikan yang baik," balas Dani, lalu kembali mendekati Deka dan berbisik, "dan jangan coba-coba kau sentuh, ya! Ini jatah aku!"
Deka melirik sahabatnya itu lalu menyeringai, "Aku tidak janji."
Dani sontak melotot dan meninju lengan Deka, "Hei, aku bilang jangan coba-coba! Awas saja kalau kau berani."
"Kenapa tidak berani?" tantang Deka, "siapa suruh kau paksa aku menerimanya?"
"Kau ini!" geram Dani.
Deka mengangkat bahu tak peduli lalu beranjak ke kamarnya.
Starla terdiam kebingungan melihat tingkah Deka dan Dani, dia tak paham apa yang kedua sahabat itu bicarakan. Tapi dia merasa senang bisa berada di sini, dari sikap Deka, dia semakin yakin jika lelaki itu memang orang baik.
Dani beralih menatap Starla yang masih terdiam, "Kau harus berhati-hati padanya, dia itu playboy kelas kakap, pacarnya ada di mana-mana."
Starla terkesiap mendengar ucapan Dani, tapi dia merasa tidak heran jika lelaki setampan Deka menjadi seorang playboy.
"Wajar saja kalau dia playboy, orang ganteng gitu," ujar Starla polos.
Wajah Dani berubah masam, tapi dia tak ingin menyerah memprovokasi Starla, "Buat apa ganteng kalau tidak setia? Mending sama aku, sudah ganteng, setia dunia akhirat lagi."
"Jangan percaya! Dia sudah mengatakan itu pada puluhan wanita, tapi ujung-ujungnya dikhianati juga," sela Deka yang kembali lagi sembari membawa sebuah sweater berwarna hitam miliknya.
Starla dan Dani yang kaget, sontak menoleh ke arahnya.
"Berengsek, kau! Nyamber saja kayak petir!" gerutu Dani kesal.
Deka tak menggubris umpatan sahabatnya itu, dia mendekati Starla dan menyodorkan sweater itu, "Pakai ini!"
Starla mengernyit, "Untuk apa aku memakainya, Bang?"
"Sudah pakai saja!"
Meski kebingungan, Starla tetap menuruti perintah Deka.
***
__ADS_1