
Mereka semua akhirnya membawa Reyhan ke rumah Deka, sebab pria itu menolak dibawa ke rumah sakit.
Deka dan Dani merebahkan tubuh Reyhan di atas sofa, Starla dengan cekatan berlari ke dapur.
Tak lama kemudian Starla balik lagi dengan membawa segelas air putih dan kotak obat, dia duduk bersimpuh di sisi Reyhan dan mulai membongkar kotak yang dia bawa.
"Sini aku obati," ujar Starla, Reyhan hanya mengangguk pasrah dan memejamkan matanya.
Dengan hati-hati Starla membersihkan luka di bibir Reyhan menggunakan cairan antiseptik, pria itu meringis menahan sakit.
"Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja, Rey?" tanya Starla sembari mengoleskan obat di sudut bibir Reyhan.
Reyhan hanya menggeleng sebab dia sedang menikmati perih di bibirnya.
"Tapi aku takut ada luka dalam," sambung Starla cemas.
"Aku tidak apa-apa, kamu jangan khawatir."
"Gimana tidak khawatir, kau sampai babak belur dan hampir mati begini!" kesal Starla.
Reyhan mencoba tersenyum walau rasa sakit langsung menyerang bibirnya, "Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."
Starla mengangguk. Deka dan Dani yang duduk di depan mereka hanya mengamati dua insan itu dengan tatapan tak suka, keduanya cemburu melihat kedekatan Starla dan Reyhan.
"Ya sudah, kau minum obat pereda nyerinya dulu, setelah itu istirahat. Nanti aku buatkan makanan." Starla menyodorkan sebuah tablet parasetamol ke mulut Reyhan, lalu perlahan mengangkat kepala pria itu dan membantunya minum.
Deka semakin merasa cemburu, karena Starla sangat peduli dan perhatian pada Reyhan, sementara dirinya juga terluka.
Starla lantas menoleh Deka yang menatapnya tajam, "Sebentar aku ambilkan air dingin buat kompres pipi Abang."
"Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri." Deka beranjak dan melenggang pergi.
Dani serta Starla mengamati kepergian Deka dengan heran.
"Aku ke dapur dulu, Bang Dani mau aku buatkan minum apa?"
Dani mencoba tersenyum, "Tidak usah! Aku mau pulang saja."
__ADS_1
"Loh, kok pulang?" tanya Starla.
"Ini sudah malam, ayah pasti sedang menungguku," jawab Dani.
"Oh, ya sudahlah kalau begitu."
"Aku pamit."
Starla mengangguk dan tersenyum, "Hati-hati, Bang!"
"Iya."
Dani bergegas meninggalkan kediaman Deka, sejujurnya dia kesal melihat interaksi Starla dan Reyhan, tapi dia tak bisa protes sebab dia sadar bukan siapa-siapa Starla. Lebih baik dia meninggalkan mereka. Toh, ada Deka di rumah, jadi Reyhan tak mungkin macam-macam.
Setelah kepergian Dani, Starla beranjak dan melangkah ke dapur, tapi dia tidak melihat Deka di sana.
"Ke mana dia? Apa ke kamarnya?" Starla celingukan.
Dia pun berinisiatif mengambil air es lalu memasukkannya ke dalam alat kompres dan membawanya ke kamar Deka.
"Bang, buka pintunya!" pinta Starla sembari mengetuk pintu kamar Deka.
"Ada apa?" tanya Deka dingin.
"Aku mau kompres pipi Abang yang lebam," sahut Starla sedikit malu.
"Kan sudah aku bilang tidak usah! Aku bisa melakukannya sendiri, kau urus saja dia!" ucap Deka ketus, lalu berbalik dan masuk ke dalam kamar.
Starla tercengang melihat sikap Deka yang tidak ramah seperti sebelumnya, "Abang kenapa, sih? Aneh sekali!"
Deka tak menjawab, dia terlalu gengsi untuk mengatakan jika saat ini dia sedang cemburu.
"Abang cemburu, ya?" tuduh Starla curiga.
Deka terdiam, bagaimana Starla bisa tahu apa yang dia rasakan? Apa kelihatan sekali jika dia sedang cemburu?
Melihat Deka mematung membelakanginya, Starla pun melangkah masuk, dia meletakkan benda yang dia pegang di atas meja nakas lalu mendekati Deka dan memeluk tubuh kekar sang kekasih.
__ADS_1
"Aku cuma anggap Reyhan saudara, jadi Abang jangan cemburu ya kalau aku perhatian dan dekat dengannya!"
"Tapi aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya, sekarang kau itu milikku," kecam Deka.
"Iya, aku janji akan sedikit menjaga jarak. Tapi Abang juga, ya? Jangan dekat-dekat dengan wanita lain terutama Clarissa!"
Deka melepaskan tangan Starla dari pinggangnya lalu berbalik menghadap wanita itu dan menatap manik hitamnya, "Kau jangan takut, aku ini lelaki setia. Dan aku hanya mencintaimu."
Starla tersipu dengan wajah merah.
Deka lalu menarik tengkuk belakang Starla dan mencium bibir wanita itu dengan lembut. Starla pun mengalungkan lengannya di leher Deka dan membalas ciuman sang kekasih. Lama-lama ciuman mereka semakin panas dan liar, tangan Deka mulai meraba bagian sensitif Starla sehingga membuat wanita itu tersentak dan melepaskan tautan bibir mereka.
"Abang, jangan!"
"Memangnya kenapa?" tanya Deka serak, dia menatap Starla dengan penuh nafsu.
"Kalau Reyhan tahu gimana?"
"Dia tidak akan tahu," bantah Deka yang sudah tak bisa menahan gejolak hasratnya.
"Tapi aku ke sini mau mengompres pipi Abang."
"Sudah, nanti saja!" Deka langsung mengangkat tubuh Starla dan membaringkannya di ranjang.
Deka kembali mencium bibir Starla dengan bringas sambil kedua tangannya membuka kancing kebaya wanita itu, sedikit kesulitan tapi akhirnya kebaya putih itu berhasil dibuka dan dia lempar ke lantai.
Ciuman Deka turun ke leher Starla, dia menikmati aroma tubuh kekasihnya itu dengan suka cita. Deka menjilat, menggigit dan juga meninggalkan sebuah tanda kepemilikan di sana. Sementara kedua tangannya mulai bermain di daerah sensitif wanita itu.
Starla hanya bisa pasrah dan menggeliat menahan geli serta nikmat sekaligus. Walaupun logikanya menyadari ini sebuah kesalahan, tapi hatinya tak bisa menolak pesona seorang Deka yang begitu melenakan.
Tak ingin membuang waktu, Deka yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu pun menyatukan tubuhnya dan Starla.
"Ah, Starla."
Keduanya lagi-lagi melakukan perbuatan terlarang itu tanpa pikir panjang. Cinta dan nafsu benar-benar sudah menguasai mereka hingga tak lagi bisa menahan diri.
Sementara Reyhan yang tengah tertidur karena pengaruh obat, tak tahu apa yang sedang terjadi di lantai atas.
__ADS_1
***