Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
65. Siapa Kau Sebenarnya?


__ADS_3

Deka mengemudikan mobilnya dengan kencang, tak sedikitpun dia melirik Starla apalagi berbicara pada wanita itu, wajah tampannya terlihat dingin dan tak bersahabat. Starla yang merasa takut dan gugup, hanya bisa tertunduk sambil meremas jemarinya.


Setelah cukup jauh dari rumah pria berambut putih itu, Deka pun menepikan mobilnya dengan tiba-tiba.


Starla terkejut dengan perbuatan lelaki itu dan sontak menatapnya, "Kenapa berhenti di sini, Bang?"


Deka masih menatap lurus ke depan sambil menggenggam erat kemudi mobilnya, "Siapa kau sebenarnya?"


Jantung Starla seketika berdebar kencang, dia sudah menduga Deka pasti akan mempermasalahkan ucapan Reyhan tadi.


Starla terdiam takut, dia mendadak gagu.


"Jawab!" bentak Deka, Starla sampai terperanjat kaget.


"A-aku minta maaf, Bang. Aku bisa jelaskan semuanya," sahut Starla gemetar.


Deka menatap Starla dengan sinis, "Ayo, jelaskan!"


"Sebenarnya aku bukan korban perdagangan manusia, aku juga bukan datang dari Pekanbaru baru, aku asli orang Batam dan yang mengejar-ngejar aku selama ini adalah orang-orang suruhan papaku. Aku ...." Starla menjeda ucapannya lalu menelan ludah sebab mendadak tenggorakan nya terasa kering.


"Aku kabur dari rumah karena Papa ingin menjodohkan aku dengan pria tua yang sudah beristri demi kerja sama bisnis mereka, tapi aku tidak mau," lanjut Starla dengan mata berkaca-kaca.


Deka terkesiap mendengar cerita Starla.


"Lalu kenapa kau berbohong pada kami?"


"Aku takut kalau Abang dan Bang Dani tahu siapa aku, kalian akan mengantarkan aku pulang. Aku tidak mau dinikahkan dengan bandot tua itu." Starla menangis terisak-isak.


Deka seketika merasa kasihan dan bersalah, "Kalau kami tahu yang sebenarnya, kami juga tidak akan mengantarkan kau pulang jika kau tidak mau. Harusnya kau jujur dari awal, karena aku benci dibohongi!"


"Aku minta maaf, Bang. Kalau Abang marah dan membenciku, aku akan pergi." Starla membuka pintu mobil Deka dan hendak keluar, tapi dengan cepat lelaki itu menutupnya kembali sehingga membuat jarak mereka sangat dekat.


"Kau mau ke mana? Apa aku menyuruhmu pergi?" tanya Deka, hembusan nafasnya menerpa wajah Starla.


"Tadi Abang bilang, kalau Abang benci dibohongi, itu artinya kan Abang benci padaku," ucap Starla semakin gugup sebab berada sangat dekat dengan Deka.


Deka menyentil dahi Starla dengan jarinya, "Dasar bodoh! Seenaknya saja kau mengambil kesimpulan sendiri!"


Deka menarik diri dan menjauh dari Starla.


"Sakit, Bang!" rengek Starla seraya mengusap dahinya yang merah.

__ADS_1


"Berarti mulai sekarang kau tidak bisa dipercaya."


"Kenapa?"


"Karena kau penipu yang ulung, kau berhasil menipu ku dan Dani. Jadi setiap yang kau ucapkan harus aku buktikan dulu kebenarannya," ujar Deka.


Wajah Starla berubah masam, "Aku bukan penipu! Baru kali ini aku berbohong dan itupun karena terpaksa!"


"Apa pun alasannya, kau tetaplah penipu!"


"Aku bukan penipu!" bantah Starla tak terima.


Deka hanya menaikkan kedua bahunya lalu kembali menyalakan mesin mobilnya dan melesat pergi. Setelah mendengar penjelasan Starla, emosi dan kemarahan Deka menguap begitu saja. Wanita itu selalu berhasil membuat moodnya kembali membaik.


"Kau masih berhutang penjelasan padaku, setelah ini kau harus menceritakan semua tentang dirimu." Deka menjadi penasaran dengan jati diri Starla.


"Kan tadi sudah aku katakan."


"Aku yakin masih banyak yang kau sembunyikan, jadi jika kau tidak ingin aku mencampakkan mu ke jalan, sebaiknya kau cerita semua," balas Deka.


"Iya-iya, kejam sekali, sih!" gerutu Starla dengan wajah cemberut dan Deka tak menggubris ocehannya.


Perut Starla pun mulai terasa lapar karena sejak pagi dia belum makan apa-apa.


"Hem."


"Aku lapar, dari tadi pagi belum makan apa pun," keluh Starla sambil memegangi perutnya yang keroncongan.


"Ya sudah, kita makan dulu." Deka mencari tempat untuk makan, sejujurnya dia juga merasa lapar karena tadi pagi belum sarapan.


"Asyik!" Starla memekik kegirangan.


Deka hanya meliriknya sekilas, kemudian kembali fokus mengemudi.


***


Deka dan Starla berhenti di salah satu rumah makan khas Minang, mereka memesan dua porsi nasi beserta teh manis dingin.


"Jadi bagaimana keadaan Bang Dani? Apa dia baik-baik saja?" tanya Starla tiba-tiba.


Deka mengangguk tanpa memandang Starla yang duduk di hadapannya, dia sedang asyik bermain ponsel.

__ADS_1


"Syukurlah. Kalau Abang sendiri, apa sudah baikkan?"


"Sudah."


"Tapi Abang harus menjaga lukanya agar tetap bersih dan kering, biar cepat sembuh."


Lagi-lagi Deka hanya mengangguk tanpa memandang Starla, membuat wanita itu sedikit kesal dengan sikap cuek dan dinginnya itu. Tapi hal itu justru membuat Starla penasaran dengan kehidupan pribadi Deka.


"Bang!"


"Hem."


"Abang punya pacar?" tanya Starla.


"Tidak," sahut Deka.


"Tapi pernah pacaran, kan?" Starla memastikan.


"Tidak juga."


Starla terkesiap, "Masa, sih? Jangan-jangan Abang tidak normal, ya?"


"Mungkin," jawab Deka seenaknya.


Starla tercengang, "Ih, pantas saja sikap Abang ke wanita itu dingin kayak es."


Deka tak membalas ejekan Starla itu, dia hanya tersenyum samar.


"Ganteng, mapan, dan jago berkelahi. Tapi tidak normal." Starla mengoceh sendiri, dan Deka tetap tak peduli.


Seorang pelayan pun datang membawakan pesanan mereka.


"Silakan," ucap si pelayan.


"Terima kasih," balas Starla, sementara Deka cuma diam saja.


Starla langsung melahap makanan dihadapannya dengan cepat, dia benar-benar kelaparan.


"Makannya pelan-pelan! Nanti kau bisa tersedak dan mati," ujar Deka.


"Aku lapar sekali, Bang."

__ADS_1


Deka geleng-geleng kepala melihat tingkah wanita itu.


***


__ADS_2