
Tiga jam berlalu, Starla mulai jenuh dan was-was menunggu Deka yang tidak juga menunjukkan batang hidungnya, hatinya kian resah dan takut jika lelaki berwajah tampan itu tidak kembali lagi.
Starla mendesah pasrah, dia pun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari rumah makan khas Minang itu. Dia bingung harus ke mana, sementara uang di tangannya tinggal tujuh puluh ribu rupiah, dia tak akan bisa bertahan hidup dengan uang segitu, dia harus mencari pekerjaan dan tempat tinggal.
Kaki Starla terus melangkah tanpa arah, tidak terasa dia sudah berjalan beberapa ratus meter dari warung tadi.
"Aku harus ke mana? Aku tidak tahu tempat ini sama sekali." Starla mengedarkan pandangannya melihat sekitaran tempat dia berada saat ini, hanya ada pabrik-pabrik yang besar dan kendaraan berlalu lalang.
Hari sudah mulai sore, namun matahari masih bersinar terang, Starla yang sudah lelah berjalan akhirnya berhenti di depan salah satu gerbang pabrik yang tertutup rapat dan duduk selonjoran.
"Aku lelah sekali," keluh Starla sambil mengusap peluh yang menetes di pelipis dan lehernya.
Sementara itu Deka yang sudah selesai dengan pekerjaannya, buru-buru pergi dari pabrik, dia ingat jika seorang wanita sedang menunggunya saat ini. Namun begitu tiba di rumah makan khas Minang tadi, Deka mendadak kesal dan cemas karena tidak menemukan Starla. Dia pun bertanya pada pemilik warung tersebut.
"Uni, tadi ada wanita berbaju merah dan berambut panjang makan di sini?" tanya Deka.
Pemilik warung itu tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk, "Oh iya, ada. Dia duduk lama sekali di sini, sepertinya menunggu seseorang."
"Lalu ke mana dia sekarang?" tanya Deka lagi.
"Sudah pergi," jawab pemilik warung.
"Sudah lama perginya?"
"Sekitar satu jam yang lalu."
Deka mengembuskan napas kesal, dia buru-buru pergi setelah mengucapkan terima kasih.
"Ke mana dia?" Deka melajukan mobilnya dengan pelan sambil memperhatikan setiap sudut jalanan, siapa tahu Starla masih ada di sekitar sini.
__ADS_1
Dan benar saja, tak lama kemudian dia melihat Starla sedang duduk selonjoran di depan gerbang sebuah pabrik sembari memijit kakinya sendiri.
"Itu dia!" seru Deka.
Deka menghentikan mobilnya tepat di depan Starla dan membuka kaca jendela mobilnya, "Ngapain di situ?"
Starla sontak memandangnya dengan wajah semringah, "Abang!"
Dengan perasaan senang Starla bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri mobil Deka, "Aku lelah berjalan, Bang. Makanya aku duduk di situ."
"Tadi kan aku menyuruhmu tunggu di rumah makan itu, kenapa kau malah pergi?" protes Deka kesal.
"Aku pikir Abang tidak jadi datang, makanya aku pergi. Habis Abang lama sekali."
"Aku masih ada pekerjaan, makanya lama," terang Deka kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Starla, "ya sudah, cepat masuk!"
Starla bergegas masuk ke dalam mobil Deka, dan mobil Pajero Sport hitam itu segera melesat pergi.
"Memangnya pekerjaan Abang apa?" tanya Starla.
"Karyawan pabrik," jawab Deka singkat, dia tetap fokus mengemudi.
Starla tercengang, dari penampilannya, Deka lebih pantas menjadi pemilik pabrik ketimbang karyawannya. Lihat saja pakaian dan aksesoris yang dia kenakan, semua bermerek dan pasti mahal, belum lagi mobilnya yang jelas-jelas Starla tahu ini tidak murah. Kalau pun Deka hanya karyawan pabrik, jabatan nya pasti tinggi dan gajinya pun besar, tidak mungkin dia hanya buruh biasa. Atau jangan-jangan dia hanya berbohong.
"Hem, kalau boleh tahu, pabrik apa, Bang?" tanya Starla lagi, dia benar-benar penasaran.
"Mainan."
"Wah, ada lowongan tidak? Aku bisa kok kerja di pabrik," ujar Starla antusias, siapa tahu dia bisa mendapatkan kerjaan yang enak melalui pria di sampingnya ini.
__ADS_1
Deka menggeleng, "Tidak ada!"
Wajah Starla seketika berubah masam.
"Nanti aku cari kan pekerjaan di tempat lain saja," lanjut Deka.
"Ya sudah, deh. Kerja di mana saja boleh, yang penting halal dan menghasilkan uang," ucap Starla pasrah.
Deka tak menjawab, dia hanya diam memperhatikan jalanan yang mulai macet karena sudah waktunya orang-orang pulang kerja.
"Jadi sekarang kita mau ke mana, Bang?" Starla kembali bertanya, wanita itu seolah tidak kehabisan bahan untuk mengobrol dengan Deka.
"Ke rumahku dulu, aku mau mandi, nanti baru cari pekerjaan dan tempat tinggal untukmu," sahut Deka.
"Tidak apa-apa aku ikut ke rumah Abang?"
"Tidak, kau tenang saja! Sebaiknya sekarang kau diam, agar aku bisa fokus mengemudi!"
Bibir Starla sontak manyun, wajahnya cemberut mendengar kalimat Deka, lelaki itu terlalu terang-terangan bicara dan juga dingin.
Starla pun akhirnya berhenti bicara, dia memalingkan wajahnya, memandangi deretan bangunan dan toko-toko di pinggir jalan.
"Menyebalkan! Baru kali ini aku bertemu laki-laki seperti dia, untung saja ganteng," gerutu Starla dalam hati.
Meskipun kesal, tapi dia tetap pasrah mengikuti Deka, entah mengapa jauh di dalam hatinya, dia merasa lelaki itu adalah orang baik yang bisa dia andalkan dan menjadi tempat dia berlindung untuk sementara ini.
Sedangkan Deka masih berpikir pekerjaan apa yang cocok untuk Starla dan di mana wanita cerewet ini akan tinggal nanti?
Karena dia tak ingin menampung Starla terlalu lama.
__ADS_1
***