Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
11. Belanja.


__ADS_3

Deka, Starla dan Dani tiba di depan sebuah toko pakaian. Rupanya tadi Deka meminta Starla memakai sweaternya karena hendak mengajak wanita itu keluar, meskipun risi sebab tidak memakai dalaman, tapi Starla tetap menuruti lelaki itu.


"Ngapain ke sini?" tanya Dani bingung, sejak tadi dia bertanya, tapi Deka tak mau mengatakan apa-apa.


"Sudah, kau tunggu saja di sini," ujar Deka, lalu berbalik memandang Starla yang duduk di jok belakang, "yuk, turun!"


"Mau ngapain, Bang?" Starla bertanya dengan bingung.


Bukannya menjawab, Deka bergegas keluar dari mobilnya. Starla juga buru-buru mengikuti lelaki itu meski hatinya masih bertanya-tanya.


"Kenapa Abang membawa aku ke sini?" Starla kembali bertanya.


"Belilah beberapa pakaian untukmu, kau tidak mungkin meminjam punyaku terus," jawab Deka.


"Tapi aku kan tidak ada uang, Bang."


Deka menyodorkan sebuah kartu kredit ke hadapan Starla, "Pakai ini, pin nya 2 0 0 6 9 0."


Starla memandangi kartu kredit itu, "Tapi, Bang ...."


"Aku akan memotong gaji mu bulan depan sebagai gantinya," sela Deka dingin sebelum Starla selesai bicara.


Wajah Starla seketika cemberut, dia lalu menerima kartu kredit yang diberikan oleh Deka itu.


"Sudah sana! Jangan lupa beli juga pakaian dalam mu dan langsung pakai!" pinta Deka.


"Iya-iya!" Starla bergegas masuk ke dalam toko pakaian.


Dani yang sudah penasaran setengah mati akhirnya menyusul keluar dari mobil, "Dia mau ngapain?"


"Aku menyuruhnya membeli pakaian," sahut Deka.


"Kenapa tidak bilang padaku?"


"Buat apa?"

__ADS_1


"Kan aku bisa menemaninya berbelanja."


Deka merangkul Dani dan menyeret sahabatnya itu masuk kembali ke mobil, "Tidak perlu, kau dan aku tunggu di mobil saja."


"Kau ini, tidak bisa lihat teman senang, aku kan mau pedekate," keluh Dani.


"Ini bukan waktu yang tepat, lain kali saja pedekate nya," balas Deka.


Dani pun mencibir kesal, namun tetap menuruti sang sahabat.


Sementara itu di dalam toko pakaian, Starla tersenyum bahagia, dia benar-benar bingung memilih baju-baju yang terpajang di hanger, semuanya cantik-cantik dan bagus.


"Aku bingung mau pilih yang mana?" gumam Starla.


"Apa aku coba saja satu-satu, biar tahu mana yang pas di badanku."


Dia lantas mengambil beberapa potong pakaian dan membawanya ke kamar ganti untuk dicoba satu per satu, dia bahkan beberapa kali mengulang hal yang sama, sampai menjadi perhatian karyawan toko yang mulai kesal karena ulahnya itu.


***


Satu jam ....


Tiga jam berlalu, tapi Starla masih juga belum keluar dari toko pakaian itu. Deka dan Dani sudah jenuh menunggu di dalam mobil, perut mereka juga mulai lapar.


"Kenapa dia lama sekali, sih? Apa semua wanita seperti ini kalau belanja?" gerutu Dani.


"Mungkin," sahut Deka malas, dia menyandarkan badannya dan memejamkan mata, bahkan hampir tertidur.


"Apa dia tidak bisa lebih cepat? Aku sudah lapar!" keluh Dani.


"Sebaiknya kau susul dia dan suruh cepat!" pinta Deka.


Dani melirik sinis Deka, "Tadi kau larang aku ikut dengannya, tapi sekarang kau suruh aku menyusulnya."


"Ya sudah kalau kau tidak mau, berarti kau harus bersabar sampai dia kembali."

__ADS_1


Dani mengembuskan napas kesal, "Cckk, baiklah!"


Baru saja Dani hendak membuka pintu mobil Deka, sosok Starla sudah terlihat keluar dari toko pakaian itu.


"Alhamdulillah, akhirnya dia selesai juga," ucap Dani penuh syukur.


Deka membuka mata dan menoleh ke arah Starla yang sedang berjalan menuju mobilnya.


"Bisa ngucap juga kau?" ledek Deka.


"Ya bisalah! Gini-gini kan aku seorang muslim," sungut Dani.


Starla mengetuk kaca jendela mobil dan Deka segera membukakan pintu, namun matanya terfokus pada barang belanjaan wanita itu.


"Tiga jam di dalam, kau hanya membeli ini?" tanya Deka sembari menunjuk empat paper bag yang Starla pegang.


Starla mengangguk, "Iya, Bang. Bajunya mahal-mahal sekali, kalau aku ambil banyak, nanti gajiku habis. Soalnya kan Abang bilang akan memotong gajiku bulan depan."


Deka terdiam.


"Wah, jadi kau akan memotong gajinya, Ka?" sela Dani heboh.


Deka menghela napas, padahal tadi dia hanya bercanda saat mengatakan akan memotong gaji Starla, tapi ternyata wanita itu menanggapinya serius.


"Aku cuma bercanda tadi," sanggah Deka.


Mata Starla sontak melotot dan berbinar, "Jadi Abang cuma bercanda? Kalau begitu aku belanja lagi, deh!"


Dani mendadak panik, Starla hendak keluar lagi dari mobil tapi Deka langsung mengunci pintu dengan otomatis.


"Ya, kok dikunci?" rengek Starla saat dia tak bisa membuka pintu mobil.


"Kita cari makan saja, aku lapar." Deka bergegas melajukan mobilnya meninggalkan toko pakaian itu.


Wajah Starla langsung cemberut.

__ADS_1


"Alhamdulillah," batin Dani lega sambil mengelus dadanya, dia tak bisa bayangkan kalau Starla kembali masuk ke dalam toko pakaian itu, bisa-bisa dia mati kelaparan di dalam mobil karena kelamaan menunggu wanita itu.


***


__ADS_2