
Dani dan Starla sudah menyiapkan semuanya, mereka kini sedang menunggu kepulangan Deka.
"Dia ke mana, sih? Lama sekali!" sungut Dani yang mulai jenuh menunggu.
"Abang sudah coba hubungi dia lagi?" tanya Starla yang matanya mulai sayu karena mengantuk.
"Sudah, aku sudah hubungi dia puluhan kali, tapi tidak dijawab. Mana aku sudah lapar lagi," keluh Dani.
Starla bergeming, hatinya masih merasa gelisah, sejak tadi dia terus saja berprasangka yang tidak-tidak tentang Deka dan Clarissa.
"Hem, Bang Dani. Aku boleh tanya sesuatu tidak?"
"Tanya apa?"
"Sebenarnya Clarissa itu siapa? Dan seperti apa hubungannya dengan Bang Deka?" tanya Starla, entah mengapa dia begitu ingin tahu.
Dani mengernyitkan keningnya, "Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang Clarissa?"
Starla terkesiap dan mendadak gugup, "Hem, a-aku cuma penasaran saja, Bang."
"Clarissa itu anak dari bos-nya Deka, mereka sudah berteman sejak kecil dan sangat dekat, Deka bahkan sudah menganggap dia seperti adiknya sendiri."
"Tapi itu dulu, tidak tahu kalau sekarang setelah mereka sama-sama dewasa. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan tanpa diduga-duga, bukan?" lanjut Dani.
Starla tertegun, hatinya semakin merasa gelisah bercampur kesal.
"Kau kenapa melamun?"
Starla tersentak, "Oh, tidak kenapa-kenapa!"
Dani menatap Starla dengan sorot mata yang tak bisa diartikan, dia merasa ada yang aneh dengan wanita itu. Starla merasa gugup dan canggung.
"Kalau Bang Dani sudah lapar, makan saja duluan," pinta Starla, dia berusaha mengalihkan situasi.
"Nanti saja, tunggu Deka pulang," tolak Dani, "tapi kalau kau mau makan duluan, silakan! Tidak usah menunggu aku dan Deka."
Starla menggeleng, "Aku makan bersama kalian saja."
"Kalau Deka lama, gimana? Kau bisa masuk angin kalau telat makan."
"Tidak apa-apa. Sebentar lagi dia pasti pulang, aku tunggu saja!"
"Baiklah, kalau begitu kita tunggu dia saja!" Dani meraih sebuah camilan lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Starla hanya melirik Dani, dia merasa lega sebab lelaki itu tak lagi menatapnya seperti tadi. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, mungkin dengan bermain ponsel bisa sedikit mengurangi kejenuhan karena menunggu Deka pulang.
Dani yang melihat Starla bermain ponsel sontak bertanya, "Ponsel siapa itu?"
__ADS_1
"Ponselku."
"Sejak kapan kau punya?"
"Baru kemarin, Bang Deka yang membelikannya," sahut Starla.
"Kenapa aku baru tahu?" gumam Dani yang sedikit terkejut, "kalau begitu aku minta nomor telepon mu, ya?"
Starla mengangguk dan memberitahukan nomor teleponnya pada Dani, begitu juga sebaliknya.
"Sekarang aku bisa menghubungimu setiap saat, jadi aku tidak perlu tersiksa lagi menahan rindu ini," seloroh Dani.
Starla tersipu-sipu, "Bang Dani gombal!"
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, keduanya pun akhirnya pulang setelah Deka memaksa Clarissa yang hampir lupa waktu.
"Gimana? Tadi seru tidak?" tanya Clarissa.
Deka yang mengemudikan mobilnya hanya mengangguk tanpa memandang Clarissa.
"Vano baik, ya? Dia memberikan ini sebagai hadiah ulang tahunmu." Clarissa menunjuk paper bag yang berisikan dua botol anggur merah pemberian Vano.
"Hem." Deka hanya berdeham.
"Seorang pria sudah seharusnya membantu dan melindungi wanita, apalagi jika wanita itu dalam kesulitan," sambung Deka, dia mendadak teringat saat pertama kali bertemu Starla di jalanan.
"Iya, sayang sekali hati aku sudah ada pemiliknya. Kalau tidak, aku pasti sudah jatuh hati pada Vano," ucap Clarissa sembari melirik Deka yang fokus mengemudi.
"Jadi kau sudah punya kekasih? Kenapa tidak bilang?"
"Belum, sih. Tapi semoga saja suatu saat nanti jadi kekasih," balas Clarissa dengan senyum penuh arti.
"Pastikan dia pria yang baik dan bertanggung jawab."
"Iya, aku sudah sangat mengenalnya dan aku yakin dia pria yang baik."
"Syukurlah kalau begitu. Semoga kalian berjodoh," ucap Deka.
Clarissa kembali tersenyum memandangi Deka yang sedang mengemudi.
Tak lama kemudian, keduanya pun tiba di kediaman Victor.
Setelah Clarissa keluar dari mobilnya, Deka pun pamit.
"Aku pulang dulu, terima kasih untuk semuanya."
__ADS_1
"Iya, sama-sama," balas Clarissa.
Clarissa bergerak mendekati Deka dan kembali ingin mencium pipi lelaki itu, tapi kali ini Deka mundur dan menghindar.
"Ih, Deka," rengek Clarissa manja.
"Maaf, Sa. Tidak enak dilihat mereka," dalih Deka sembari menunjuk para pengawal yang memandangi mereka.
Wajah Clarissa berubah masam, "Jangan pedulikan mereka!"
"Sebaiknya tidak usah!" tolak Deka tegas.
"Kalian sudah pulang rupanya?" sela Victor tiba-tiba.
Deka dan Clarissa sontak berbalik memandang Victor yang sudah berdiri di belakang mereka.
"Papa?" gumam Clarissa.
"Bisa Papa bicara dengan Deka berdua saja?" tanya Victor pada Clarissa.
"Ya sudah, deh. Aku masuk dulu." Clarissa buru-buru masuk dengan perasaan kesal bercampur malu karena penolakan dari Deka tadi.
Setelah Clarissa menghilang di balik pintu, Victor pun menatap Deka yang berdiri di hadapannya.
"Aku harap kau masih ingat pesanku dan tidak melewati batas," ujar Victor dingin.
"Iya, Tuan tenang saja! Aku cukup tahu diri, dan tidak akan melewati batas. Aku dan Clarissa hanya berteman, bahkan aku sudah menganggap dia sebagai adikku sendiri," terang Deka.
"Bagus kalau begitu, semoga kau bisa terus menepati ucapan mu!"
"Aku janji, Tuan!"
"Baiklah, aku pegang janjimu!"
Deka hanya mengangguk. Tanpa keduanya sadari Clarissa rupanya menguping pembicaraan mereka dari balik pintu, seketika hati wanita itu terluka mendengar ucapan Deka.
"Oh iya, kau sudah pikirkan caranya melenyapkan Julio Winata?" tanya Victor.
"Aku akan pikirkan malam ini," jawab Deka.
"Kalau begitu sekarang kau pulang dan pikirkan! Aku tidak mau kau gagal besok."
"Baik, Tuan. Aku permisi, selamat malam."
"Selamat malam."
Deka bergegas masuk ke dalam mobil dan melesat pergi meninggalkan kediaman Victor, dia merasa lega karena akhirnya bisa pulang ke rumah.
__ADS_1
***