Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
70. Terima Kasih, Bang!


__ADS_3

Deka kembali ke rumah, dia tertegun saat melihat Starla berbaring di sofa. Deka mendekati Starla dan berjongkok di sisi wanita itu. Sejenak matanya terpaku menatap wajah cantik yang kini terlihat begitu tenang, mendadak ada perasaan aneh yang kembali menyerang hatinya, membuat jantung Deka seketika berdegup kencang.


Dengan lancangnya tangan Deka mengelus lembut pipi mulus Starla dan tanpa sadar sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


Namun rupanya perbuatan Deka itu membuat Starla menggeliat, dan nyaris terjatuh dari sofa, untung Deka dengan sigap menahan tubuh Starla sehingga wanita itu tidak jadi jatuh.


Starla tersentak dan terbangun dari tidurnya, dia terkejut mendapati Deka memeluk dirinya.


"Abang?"


"Kau hampir terjatuh tadi, untung aku pegangi," terang Deka, sambil menjauh. Dia tak ingin Starla salah paham.


"Benarkah?"


"Hem."


"Astaga, aku lupa kalau tidur di sofa, aku pikir di ranjang," Starla bangkit lalu meregangkan otot-ototnya.


Deka geleng-geleng kepala, dia kemudian beranjak dan hendak pergi, tapi Starla menahan langkahnya.


"Bang, tunggu!"


Deka menolehkan kepalanya ke arah Starla, "Ada apa?"


"Ada yang mau aku tanyakan."


Deka mengerutkan keningnya dan menatap Starla, "Apa?"

__ADS_1


"Kan sekarang Abang sudah tahu siapa aku sebenarnya, apa aku masih boleh bekerja di sini?" tanya Starla, sejak tadi pertanyaan itu berputar di kepalanya sampai akhirnya dia tertidur.


"Itu tergantung kau, masih mau bekerja atau tidak," jawab Deka.


"Masih lah, kalau tidak bekerja, aku mau makan apa?"


"Ya sudah, kalau begitu bekerjalah dengan baik." Deka kembali hendak melanjutkan langkahnya, tapi lagi-lagi Starla membuatnya urung.


"Abang!"


Deka menoleh dengan malas, "Ada apa lagi?"


"Terima kasih sudah membantuku tadi, terima kasih juga karena sudah mau mengerti dan memaafkan aku," ucap Starla sambil tersenyum manis.


Deka hanya mengangguk, dia kemudian melanjutkan langkahnya dan kali ini Starla tidak lagi menghentikannya.


***


Reyhan yang sedang diperjalanan menuju rumah Dani berulang kali menghubungi Starla, tapi tidak pernah tersambung.


"Cckk, ada apa ini? Kenapa dia tidak bisa dihubungi?" keluh Reyhan kesal.


Dia melirik mobil yang dikemudikan bodyguard yang dia ajak tadi dari balik kaca spion, kedua orang itu tak mungkin bisa diajak kompromi, mereka pasti mengadu kepada bos mereka itu apa yang terjadi.


Reyhan mendesah pasrah, dia tak punya cara lain. Mau bagaimana pun, dia harus ke rumah Dani dan bicara pada lelaki itu.


Mobil sedan hitam miliknya berhenti sempurna di depan kediaman sederhana milik Rakis, dari luar rumah itu tampak sepi seolah tak berpenghuni. Reyhan keluar dari mobil, begitu pun dua bodyguard yang mengikutinya.

__ADS_1


"Biar aku yang masuk, kalian tunggu di sini!" pinta Reyhan.


Kedua bodyguard itu mengangguk patuh, "Baik, Bang!"


Dengan langkah yang lebar, Reyhan masuk ke pekarangan rumah Rakis, dia memantau keadaan sekitar yang juga sangat sepi lalu mengetuk pintu.


Pintu bercat coklat itu terbuka, Reyhan mundur dan mengawasi siapa yang membukanya.


"Selamat sore, Pak," sapa Reyhan saat melihat Rakis di ambang pintu.


"Selamat sore. Kau siapa? Dan ada perlu apa?"


"Saya Reyhan, saya ingin bertemu Dani."


Rakis memperhatikan Reyhan dari bawah sampai atas, dia sedikit curiga dengan lelaki di hadapannya itu.


"Mau apa kamu ingin bertemu anak saya?" tanya Rakis dengan nada penuh selidik.


"Nanti akan saya jelaskan, sekarang tolong izinkan saya masuk! Saya tidak punya waktu banyak," ujar Reyhan memohon.


Rakis mencoba menimbang-nimbang permintaan Reyhan dan akhirnya mempersilakan lelaki itu masuk.


"Baiklah, silakan masuk!"


"Terima kasih, Pak." Reyhan tersenyum penuh arti lalu melangkah masuk.


***

__ADS_1


__ADS_2