Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
85. Mulai Posesif.


__ADS_3

Jhon Kotto memggeram marah saat para bodyguard yang dia utus untuk menculik Starla kembali dengan tangan kosong dan dalam keadaan babak belur, bahkan salah satu dari mereka masih belum sadarkan diri.


"Mana Starla?" tanya Jhon Kotto dengan sorot mata tajam.


"Kami gagal menculiknya, Tuan," jawab seorang bodyguard dengan kepala tertunduk takut.


"Lalu apa yang terjadi sampai kalian babak belur seperti ini?"


"Seorang pria menghajar kami."


"Dengan satu orang saja kalian kalah, dasar tidak berguna!" kesal Jhon Kotto.


"Dia jago sekali, Tuan. Kami kewalahan menghadapinya."


"Iya, Tuan. Si Buyung saja cuma sekali pukul langsung tumbang." Seorang bodyguard lagi membenarkan ucapan rekannya.


Jhon mendengus. Jhon kesal sekaligus penasaran, siapa pria itu dan sehebat apa dia?


"Kalau begitu, pantau terus keberadaan Starla!" pinta Jhon, "aku akan pikirkan cara untuk menculiknya tanpa berurusan dengan si keparat itu."


"Baik, Tuan!"


Jhon tahu pria yang mereka maksud bukan Dani, sebab Dani tak bisa berkelahi dan hanya jadi pecundang. Dia harus mencari cara untuk menculik anak angkatnya itu tanpa harus terlibat dengan pria yang para bodyguard nya maksud.


***


Sorenya Deka baru saja pulang kerja, dia heran melihat sebuah sepeda motor matic terparkir di pekarangan rumahnya.


"Motor siapa ini?"

__ADS_1


Mendadak hatinya merasa cemas, dia buru-buru keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Deka terkesiap saat melihat Dani sedang mengobrol dengan Starla di ruang tamu, keduanya duduk bersebelahan dengan jarak yang cukup dekat, membuat hati Deka seketika merasa cemburu.


"Eh, itu Deka sudah pulang." Dani menunjuk Deka yang sedang melangkah ke arah mereka.


Starla berbalik dan tersenyum saat tatapannya bertemu dengan tatapan tajam sang kekasih.


"Kebetulan kau sudah pulang, aku mau pamer motor baruku," ucap Dani.


"Oh, jadi yang di luar itu motor barumu?"


Dani mengangguk, "Iya, aku baru saja membelinya."


"Uang Bang Dani banyak sekali, baru saja membeli rumah, sekarang membeli motor dan ponsel keluaran terbaru," sela Starla sambil menunjuk telepon genggam baru milik Dani yang tergeletak di atas meja.


Dani hanya tersenyum kikuk sambil melirik Deka. Dia sedikit malu pada Deka sebab semua itu dia beli dari uang pemberian sang sahabat.


Starla terkesiap, "Berdua saja, Bang?"


"Iya, kita berdua saja," sahut Dani.


Starla terdiam, dia lantas melirik Deka yang juga sedang menatapnya dengan tajam.


"Ada kafe baru tak jauh dari sini, aku mau ajak kau ke sana. Kau pasti suka tempatnya," sambung Dani antusias.


"Tidak boleh!" Deka melarang dengan tegas.


Pandangan Dani beralih ke sahabatnya itu, kemudian mengerutkan keningnya, "Kenapa tidak boleh?"

__ADS_1


"Starla itu sedang dalam bahaya, tadi pagi saja orang-orang suruhan papanya datang ke sini dan ingin menculiknya. Kalau dia keluar, itu sama saja dengan dia menyerahkan diri, karena aku yakin orang-orang itu saat ini pasti sedang mengawasinya," terang Deka.


Dani tercengang, "Jadi tadi mereka ke sini?"


Deka mengangguk.


"Kenapa tidak bilang padaku?" protes Dani.


"Buat apa bilang padamu?" tanya Deka.


Dani cengengesan, "Biar aku tahu saja."


"Tapi mereka pasti tidak berani datang lagi, karena tadi Bang Deka sudah menghajar mereka habis-habisan," ujar Starla merasa kagum pada sang kekasih.


"Kalau begitu sekarang aman kalau mengajak Starla keluar, karena mereka pasti takut balik lagi," imbuh Dani bersemangat.


"Siapa bilang? Aku rasa mereka tidak akan jera, mereka pasti datang lagi. Jadi sebaiknya Starla jangan keluar tanpa aku, dan kau juga jangan sering-sering ke sini, aku takut mereka menculik mu lagi untuk memancing Starla seperti waktu itu," bantah Deka, dia sengaja berkata seperti itu agar Dani mengurungkan niatnya mengajak Starla keluar dan tidak sering-sering datang ke rumahnya. Jujur, dia merasa cemburu pada sahabatnya itu.


Dani berdecak sebal, gagal sudah rencananya untuk berkeliling dengan Starla dengan motor barunya.


"Kalau batal pergi, aku tidak masalah. Tapi kalau jarang-jarang datang ke sini dan bertemu Starla, mana bisa? Kalau aku rindu, bagaimana?" ucap Dani sambil melirik Starla yang duduk di sampingnya.


Deka termangu mendengar ucapan Dani, dia sadar jika sahabatnya itu sangat menyukai Starla. Kalau begini bagaimana dia bisa mengakui hubungannya dengan wanita itu?


Melihat Dani cemberut dan sedih, tanpa pikir panjang Starla pun memberikan usul, "Kan Bang Dani masih bisa menelepon aku."


Deka sontak menatap Starla, bisa-bisanya wanita itu berkata demikian tanpa memikirkan perasaannya. Apa Starla pikir dia tidak cemburu?


Senyum langsung tersungging di bibir Dani, "Iya, juga, ya! Baiklah, aku akan sering-sering menelepon mu nanti."

__ADS_1


Deka mengembuskan napas kesal, kemudian berlalu pergi begitu saja. Starla memandangi kepergian Deka dengan perasaan bingung, sementara Dani tak menggubrisnya.


***


__ADS_2