Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
18. Berdebar.


__ADS_3

Pagi ini Starla sudah menyiapkan dua porsi nasi goreng untuk Deka dan dirinya sarapan, tak lupa juga dua gelas teh hangat. Meskipun statusnya hanya asisten rumah tangga, tapi Starla tetap bisa makan semeja dengan Deka.


Deka turun dengan terburu-buru, hari ini dia telat bangun karena tadi malam mengobrol dengan Dani sampai larut malam.


"Mari sarapan, Bang!" ajak Starla.


"Aku sarapan di luar saja, aku sudah telat," tolak Deka.


Wajah Starla berubah sedih, "Tapi aku sudah buatkan sarapan untuk Abang."


Deka memandang wajah sedih Starla lalu beralih melihat nasi goreng dan teh hangat yang sudah terhidang di atas meja makan, entah mengapa hatinya merasa tidak tega untuk tetap menolak.


"Baiklah, aku sarapan dulu," ujar Deka yang bergegas duduk dan langsung menyantap nasi goreng buatan Starla dengan cepat.


Starla tersenyum dan ikut menyantap nasi goreng di hadapannya.


Deka makan dengan tergesa-gesa, dalam waktu sekejap dia sudah menghabiskan nasi goreng tersebut lalu menenggak teh hangat itu sampai tandas.


"Aku berangkat." Deka segera beranjak dari duduknya.


"Tunggu dulu, Bang!" sela Starla yang juga ikut beranjak dan berlari menghampiri Deka.


Deka mengernyitkan keningnya, "Ada apa lagi?"


"Kerah kemeja Abang tidak rapi, sini aku rapikan!"

__ADS_1


Tanpa permisi Starla langsung mengangkat kedua tangannya dan merapikan kerah kemeja yang Deka kenakan, aksi Starla tersebut membuat Deka sedikit kaget namun lelaki itu tak menolaknya.


Karena jarak keduanya yang sangat dekat, Deka sampai-sampai bisa mencium aroma vanilla dari rambut Starla dan membuat jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.


"Sudah, Bang. Begini kan rapi, jadi semakin ganteng," ujar Starla sembari menjauh dari Deka.


"Terima kasih," ucap Deka sedikit canggung, dia masih merasakan jantungnya yang berdebar.


Starla tersenyum, "Sama-sama, Bang."


"Aku pergi dulu." Deka bergegas pergi.


"Hati-hati, Bang."


Deka masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi dengan kecepatan tinggi. Di dalam mobil Deka masih merasa heran dengan degup jantungnya yang tidak normal tadi.


"Kenapa jantungku berdebar kencang sekali tadi?" tanya Deka sembari memegangi dada kirinya.


Dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, walaupun dia berdekatan dengan seorang wanita, dia tidak pernah merasa debaran seperti ini.


"Aneh, apa jantungku mulai bermasalah?" Deka masih berusaha bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


***


Setelah selesai mencuci piring dan membereskan dapur, Starla berniat membersihkan lantai atas, dia naik perlahan sambil membawa sapu dan kemoceng. Ini pertama kalinya Starla naik ke lantai dua, dia kembali merasa kagum saat melihat interior rumah Deka yang sangat keren dan bagus.

__ADS_1


"Aku yakin gajinya sangat besar, makanya dia bisa memiliki rumah sebagus ini. Atau jangan-jangan dia memang anak orang kaya, dan pabrik itu milik keluarganya," tebak Starla yang celingukan kesana-kemari.


"Tapi kamar Abang yang mana, ya? Aku jadi penasaran seperti apa kamarnya?" Starla memandang dua pintu kamar yang tertutup rapat.


Starla lalu berjalan mendekati salah satu pintu, "Apa yang ini?"


"Kalau ngintip boleh kali, ya? Kan dia cuma ngelarang masuk ke kamarnya saja, tidak ngelarang aku mengintipnya."


Dengan rasa penasaran, wanita cantik itu pun merunduk dan mengintip dari lubang kunci, tapi dia hanya samar-samar melihat sebuah jendela besar dengan gorden abu-abu gelap.


Starla menegakkan badannya, "Tidak terlihat seperti apa di dalam."


Karena masih penasaran, Starla berpindah ke pintu kamar yang satunya lagi dan kembali mengintip dari lubang kunci, tapi kali ini dia tidak melihat apa pun, ruangan itu sangat gelap dan tak ada cahaya sama sekali.


"Ah, sudahlah! Sebaiknya aku membersihkan tempat ini saja!"


Starla pun mulai menyapu dan membersihkan lantai atas yang memang sudah dipenuhi debu, dia bahkan sampai terbatuk-batuk karena debu yang cukup tebal itu beterbangan dan terhirup olehnya.


"Kalau tidak ada aku membersihkan, mungkin rumah ini lama-lama akan tertimbun oleh debu," gerutu Starla yang kesal karena rumah Deka sangat kotor.


Dengan cekatan dia membersihkan semua debu dan kotoran, dia juga bahkan mengepel lantai dan membuka jendela lantai atas yang selama ini selalu saja tertutup rapat.


Setelah pekerjaannya selesai, Starla memutuskan untuk turun dan mandi, dia merasa kegerahan karena berkeringat dan bermain dengan debu saat membersihkan lantai atas.


***

__ADS_1


__ADS_2