Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
31. Tersindir.


__ADS_3

Setelah mengganti pakaiannya yang basah karena terkena hujan tadi, Starla pun menyiapkan makan malam dengan wajah cemberut. Deka yang juga sudah berganti pakaian turun dan menghampiri meja makan.


"Katanya tidak mau menyiapkan makanan lagi?" ledek Deka.


"Daripada aku dipecat," sahut Starla ketus.


Deka tersenyum. Starla hanya meliriknya dengan sinis.


"Kau masak apa hari ini?" tanya Deka sembari duduk.


"Lihat saja sendiri."


Deka memperhatikan makanan yang sudah terhidang rapi di meja makan.


"Sepertinya enak, aku makanlah." Deka mengambil piring tapi Starla merebutnya.


"Sini biar aku ambilkan!" Starla mengisi piring Deka dengan nasi dan lauk pauk seperti biasa, sudah sebulan ini dia selalu melakukan hal itu, melayani Deka saat lelaki itu makan.


Deka tertegun menatap Starla, hal sederhana ini dan semua yang wanita itu lakukan membuat dia merasa dihargai dan disayangi. Semua kepedulian dan perhatian yang Starla berikan padanya membuat Deka merasa nyaman di dekat wanita itu.


Starla meletakkan piring yang sudah penuh di hadapan Deka, lalu dia mengambil nasi beserta lauk pauk untuk dirinya. Tak lupa juga dia mengisi gelas dengan air putih untuk lelaki itu.


Keduanya lalu makan dalam diam, tak ada pembicaraan sama sekali, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Setelah selesai makan, Deka beranjak dan naik ke lantai atas. Sedangkan Starla membereskan meja makan.


Tak berapa lama Deka turun lagi dan sudah memakai jaket.

__ADS_1


"Aku pergi sebentar," ujar Deka sambil berlalu begitu saja.


Starla memandangi kepergiannya sambil menggerutu, "Aku tidak boleh pergi, tapi dia bisa pergi sesuka hatinya."


Masih dengan wajah yang cemberut, Starla pun melanjutkan pekerjaannya, dia kemudian mencuci piring kotor bekas mereka makan.


Setelah selesai mengerjakan semua tugasnya, Starla berjalan menuju ruang tengah dan menjatuhkan diri di sofa, dia lalu menyalakan televisi. Hari ini ada film Hollywood keren berjudul John Wick yang akan tayang dan Starla ingin menonton film itu.


Starla duduk sendiri, menyimak film yang dibintangi oleh Keanu Reeves itu. Tapi tiba-tiba Deka pulang dan duduk di sampingnya sembari menyodorkan bungkusan.


Starla mengerutkan keningnya, "Apa ini?"


"Snack, mana asyik nonton kalau tidak ada cemilan," jawab Deka santai, rupanya tadi dia keluar membeli beberapa makanan ringan untuk menemani Starla nonton.


Starla termangu, dia tidak menyangka Deka akan memiliki inisiatif seperti ini. Dia pikir lelaki itu benar-benar tidak mau menemaninya nonton, tapi ternyata dugaannya salah. Buktinya sekarang Deka sedang fokus menatap layar televisi.


Tanpa sadar bibir Starla mengembangkan senyuman, dia lalu membongkar bungkusan itu dan membuka salah satu camilan yang Deka beli dan mereka menikmatinya bersama sambil menonton.


"Karena dendam, seseorang tega menyakiti orang lain. Balas dendam dianggap sebagai bentuk penegakan keadilan, padahal itu justru merugikan dan membuat masalah serta korban baru," celetuk Starla.


Deka tercenung mendengar ucapan Starla, tapi dia memilih untuk tidak menanggapinya.


"Padahal kalau kita berambisi untuk balas dendam, itu sama saja seperti kita terus menjaga luka di hati agar tetap basah, padahal sebenarnya luka itu bisa disembuhkan." Starla sengaja menyindir Deka sebab dia tahu lelaki itu memiliki dendam pada pembunuh ayahnya.


Deka masih bergeming, meski dia merasa tersindir dengan kata-kata Starla itu dan membuatnya sedikit emosi.


"Seharusnya tidak usah buang-buang waktu untuk balas dendam, karena orang-orang yang menyakiti kita pada akhirnya akan menemukan karmanya sendiri. Lagipula tidak ada salahnya kita memaafkan duluan, agar hati dan hidup kita lebih damai," lanjut Starla.

__ADS_1


"Sayangnya tidak semua orang bisa memaafkan dengan mudah, apalagi yang disakiti orang yang kita sayangi. Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya kehilangan yang menyakitkan sehingga menimbulkan kebencian dan dendam di hatimu," Deka akhirnya menyahut sembari menahan emosinya.


"Albert Einstein pernah berkata, balas dendam hanya untuk orang lemah, karena orang yang kuat pasti mampu memaafkan."


Deka sontak menatap tajam Starla, "Tapi bagiku, orang yang kuat itu adalah dia yang mampu bertahan dan membalaskan dendam nya!"


Starla mendadak takut saat melihat tatapan Deka yang bengis dan seolah-olah menyimpan kemarahan.


Saat ini mereka tidak lagi peduli pada film yang masih ditayangkan di televisi.


Ponsel Deka tiba-tiba berdering, dia mengalihkan pandangannya dari Starla dan meraih alat komunikasi itu.


Deka mengernyit saat melihat ada panggilan dari nomor asing, namun dia mengabaikannya.


"Kok tidak dijawab, Bang?" Starla berusaha mengalihkan suasana.


"Aku tidak kenal nomornya," jawab Deka dingin, dia lalu beranjak pergi.


Starla menghela napas, dia tahu Deka pasti tersindir dan kesal karena ucapannya. Tapi dia berharap lelaki itu bisa mencerna apa yang dia katakan tadi.


Starla ingin Deka mengubah cara berpikirnya agar dia bisa keluar dari trauma masa kecilnya itu dan melupakan dendamnya.


Deka masuk ke kamar, karena obrolannya dengan Starla tadi, mood Deka jadi buruk. Dia kesal mengingat kata-kata wanita itu yang membuatnya tersinggung.


"Kau tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku, bagaimana takutnya aku saat melihat ayah mati di hadapanku. Kau tidak akan tahu sakitnya aku!" geram Deka dengan mata berkaca-kaca, dia kembali teringat kejadian di malam naas itu.


Ponsel Deka kembali berdering, ada panggilan masuk dari nomor asing yang tadi, tapi Deka tetap mengabaikannya, dia sedang malas bicara pada siapa pun saat ini.

__ADS_1


***


...Jangan lupa like dan komentar nya, ya. Biar aku makin semangat update....


__ADS_2