Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
22. Fitnah Bima.


__ADS_3

Di salah satu sudut pabrik yang sangat sepi, Bima sedang mengobrol dengan seseorang via telepon, raut wajahnya tampak serius dan penuh kehati-hatian. Sesekali dia celingukan, memperhatikan sekitar, memastikan tidak ada yang mendekat dan mendengar pembicaraannya.


"Pokoknya anda tenang saja, saya akan atur semuanya. Yang penting sesuai kesepakatan kita tadi," ujar Bima pelan.


Dari kejauhan Deka yang memang sedang mencari Bima, tidak sengaja melihat lelaki itu, dengan langkah yang lebar Deka berjalan menghampirinya.


"Saya akan kabarin anda lagi jika mereka setuju dengan ...."


"Bisa kita bicara?" sela Deka tiba-tiba, membuat Bima tak sempat melanjutkan kata-katanya.


Melihat Deka yang sudah berdiri tak jauh darinya, Bima mendadak tegang dan panik.


"Nanti saya hubungi lagi, Pak. Selamat pagi." Bima langsung menutup teleponnya, lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.


Bima memandang Deka dengan sedikit gugup, "Ada apa?"


"Katakan padaku dari mana Tuan Victor tahu jika polisi datang menemui ku?" tanya Deka tanpa basa-basi.


Bima tersenyum mengejek, "Kau masih penasaran rupanya?"


"Jangan banyak basa-basi! Katakan saja, kau pasti tahu," hardik Deka.


Bima melipat kedua tangannya dan meletakkan di depan dada, "Kau ini bodoh atau pura-pura tidak tahu, sih? Seharusnya kau ingat pada siapa kau menceritakan hal ini, karena dialah orang yang telah menyampaikannya kepada Tuan Victor."


Deka tercenung, dia tak bisa percaya begitu saja jika Rakis orangnya.


"Kenapa? Kau sudah sadar siapa orangnya?"


Deka bergeming menatap tajam Bima.


"Aku peringatkan, ya. Terkadang antara teman dan musuh itu bedanya tipis, dia selalu mendukung semua yang kau lakukan, tapi ada kalanya dia menusuk mu dari belakang demi kepentingannya," ujar Bima berusaha memprovokasi Deka.


"Paman Rakis bukan orang seperti itu!" bantah Deka.


Bima tertawa terbahak-bahak, Deka mengepal kuat tangannya dan mengeraskan rahangnya menahan geram.

__ADS_1


"Deka .... Deka ....! Ternyata kau benar-benar naif dan bodoh!" ejek Bima saat dia sudah berhenti tertawa, membuat emosi Deka semakin naik.


"Beberapa orang rela mengkhianati orang lain hanya demi mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri, apa lagi pak tua yang tidak tahu diri itu, dia pasti ...."


Buuukk ....


Deka langsung melayangkan pukulan ke wajah Bima sebelum lelaki besar mulut itu menyelesaikan kata-katanya yang menghina dan memfitnah Rakis.


Bima terhuyung ke belakang, punggungnya sampai membentur tembok pabrik, tak cukup sampai di situ, Deka yang sudah emosi menarik Bima dan kembali memukul lelaki itu sampai membuatnya menabrak beberapa barang lalu jatuh terjengkang dengan sudut bibir yang pecah dan berdarah.


Karena mendengar suara gaduh, beberapa karyawan pabrik sontak berdatangan, namun tak ada yang berani mendekat apalagi melerai, sebab takut pada Deka.


Dengan sorot mata yang tajam, Deka mencekik leher Bima yang tak berdaya sebab memang tak bisa melawannya.


"Jangan sampai aku dengar lagi kau menjelek-jelekkan Paman Rakis, atau aku akan mematahkan lehermu!" ancam Deka.


Bima yang kesulitan bernapas tak mampu menjawab, dia hanya melotot menatap wajah marah Deka.


Rakis yang mendengar ada keributan pun datang ke tempat kejadian dan langsung menarik Deka agar melepaskan Bima, "Deka lepaskan dia!"


Deka lantas pergi begitu saja tanpa bicara sepatah katapun.


Melihat Bima yang kesakitan, Rakis merasa iba, dia pun mendekati lelaki itu dan menyentuh pundaknya, "Kau tidak apa-apa?"


Bima menepis kasar tangan Rakis dari pundaknya dan buru-buru pergi sambil menahan marah dan sakit hati, dia merasa dipermalukan oleh Deka di depan karyawan yang lain. Dia memang tidak memiliki kemampuan berkelahi yang baik, dan Deka bukan tandingannya, makanya dia tidak berani membalas lelaki keji itu.


Rakis menghela napas, dia bingung dengan apa yang terjadi.


"Sudah, bubar! Semua kembali bekerja!" pinta Rakis, semua karyawan pabrik yang berkumpul pun berpencar dan kembali ke tempat masing-masing.


Rakis kemudian menyusul Deka, dia tahu ke mana sahabat putranya itu berada saat seperti ini.


***


Rakis mendatangi Deka yang sedang duduk di salah bangku panjang di belakang pabrik, Deka sering menghabiskan waktunya di tempat ini jika dia sedang tidak ada pekerjaan atau sedang ada masalah seperti saat ini.

__ADS_1


"Boleh Paman duduk?"


Deka mengangguk dua kali.


Rakis pun duduk di sampingnya, sementara Deka hanya diam, tatapannya lurus ke depan.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau memukul Bima?" tanya Rakis.


Deka menundukkan kepalanya, dia bingung harus menjawab apa.


Rakis memegang pundak Deka, "Ka, cerita pada Paman!"


"Dia menghina dan memfitnah Paman," jawab Deka dengan kepala yang tertunduk.


Rakis mengerutkan keningnya, "Kenapa dia lakukan itu?"


"Tuan Victor tahu jika polisi menemui ku, tapi Tuan Victor tidak mau bilang mendapatkan informasi itu dari mana. Saat aku bertanya pada si berengsek itu, dia malah menuduh Paman. Dia juga menghina Paman sebagai seorang pengkhianat, makanya aku marah dan memukulnya," ungkap Deka.


Rakis termangu, jantungnya bergemuruh hebat saat mendengar kata -pengkhianat- itu, namun dia berusaha menguasai diri.


"Paman tidak akan membela diri, karena Paman tahu kau bisa menilai sendiri seperti apa Paman mu ini. Kau pasti memahami bagaimana Paman, bukan?"


"Iya, Paman. Aku tahu Paman tidak akan melakukannya, Paman tidak mungkin menusukku dari belakang, makanya aku berusaha mencari tahu dari mana Tuan Victor mendapatkan informasi itu," sahut Deka.


"Mungkin ada yang mendengar pembicaraan kita waktu itu dan mengadu pada Tuan Victor," tebak Rakis.


"Mungkin saja, Paman. Tapi siapa?"


"Sudahlah, tidak usah kau cari tahu! Karena cepat atau lambat kebenaran akan terbuka sendiri. Paman juga tidak mau kau terlibat masalah lagi seperti ini."


Deka bergeming dan mengangguk.


Namun tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Victor.


"Tuan Victor," keluh Deka saat melihat layar ponselnya, dia bisa menebak mau apa atasannya itu menelepon.

__ADS_1


***


__ADS_2