Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
101. Saatnya Balas Dendam.


__ADS_3

Deka sedang mengelus pipi Starla yang tengah terlelap, sejak tadi dia tak bosan-bosan memandangi wajah cantik itu seolah besok tak bisa menatapnya lagi.


Deka sudah memutuskan akan berhenti dari pekerjaannya dan kabur ke kampung halamannya di pesisir kepulauan Riau setelah ia dan Starla menikah nanti, dia tak ingin lagi terlibat dengan Victor dan membunuh orang setelah urusannya dan Jhon Koto selesai.


"Aku berjanji ini yang terakhir," ujar Deka, tangannya masih terus mengelus pipi Starla dengan lembut.


"Aku mencintaimu," Deka lalu mengecup kening Starla dengan penuh kasih sayang.


Dengan hati-hati Deka melepaskan tangan Starla yang memeluk tubuhnya, wanita itu sempat menggeliat sebentar namun tertidur lagi. Deka lalu bergerak menjauh dan perlahan-lahan beranjak dari sisi Starla, dia tak ingin membangunkan wanita kesayangannya itu.


Deka turun dari atas ranjang kemudian hendak mengambil pistolnya yang tergeletak di kasur, namun tiba-tiba Starla bergerak lalu berbalik dan sialnya salah satu kaki wanita itu menimpa pistol tersebut. Deka ingin menyingkirkan kaki Starla, tapi dia takut sang kekasih terbangun. Akhirnya ia tidak jadi mengambil senjata api itu dan segera keluar dari kamar.


Deka berjalan dengan waspada, dia takut Reyhan memergokinya. Dengan dada bergemuruh hebat dan amarah yang sudah memenuhi kepalanya, Deka tancap gas meninggalkan rumah.


Padahal Starla dan Reyhan sudah melarang dan memperingatkannya, tapi Deka yang keras kepala tak ingin mendengarkan siapa pun. Dia tak akan bisa tenang jika pembunuh ayahnya masih berkeliaran dan hidup dengan enak, dia harus membalaskan dendam yang selama dua puluh tahun ini dia pendam.


Setengah jam kemudian, Deka sudah berada di depan rumah megah milik Jhon Koto, dia menatap rumah mewah itu dengan tajam. Apa yang selama ini dia cari, akhirnya dia temukan. Dengan langkah yang lebar, Deka mendekati rumah itu.


Deka masuk ke pekarangan rumah Jhon Koto dengan cara melompat dari tembok samping, karena gerbang sudah dikunci. Hentakan sepatu Deka yang menghantam tanah membuat seorang bodyguard yang sedang berjaga terkejut dan langsung menoleh ke arahnya, namun begitu melihat wajah Deka, nyali bodyguard itu langsung ciut dan lari tunggang-langgang masuk ke dalam rumah.


Bodyguard yang ketakutan itu menggedor pintu kamar Jhon Koto dengan tidak sabar, "Tuan, bangun! Tolong buka pintunya!"


Pintu bercat putih itu pun terbuka, Jhon Koto yang sudah tidur muncul dengan wajah mengantuk, "Ada apa malam-malam begini kau membangunkan aku?"


"Pria yang waktu itu membawa Nona Starla datang lagi, Tuan," adu si bodyguard panik.

__ADS_1


Jhon Koto terhenyak kebingungan, "Mau apa lagi dia? Bukankah Starla tidak ada di sini?"


"Saya juga tidak tahu, Tuan."


Praaang ....


"Bajingan, keluar kau!" teriak Deka.


Jhon Koto serta bodyguardnya terperanjat saat mendengar suara benda pecah dan teriakkan Deka dari lantai bawah, kemudian disusul dengan kemunculan dua bodyguard lagi yang lari ketakutan.


"Tuan, dia datang lagi dan menghancurkan barang-barang." Seorang bodyguard lain mengadukan tak kalah panik.


"Kurang ajar! Dia mau cari mati rupanya," geram Jhon Koto, lalu menatap satu per satu anak buahnya itu, "kalian tunggu apa lagi? Hajar dia!"


"Dasar tidak berguna!" bentak Jhon Koto sembari menendang ke-tiga bodyguard tersebut.


Dia kemudian masuk ke dalam kamar dan mengambil pedang yang dia gantung di dinding, Jhon Koto menatap pedang itu dengan sinis.


"Tampaknya aku harus menggunakan ini untuk menghabisi keparat itu."


Dengan emosi yang meledak-ledak, Jhon Koto keluar dari kamarnya dan turun untuk mengatasi Deka. Dia sempat tertegun melihat ruang tamunya berantakan karena ulah Deka, lemari kacanya bahkan pecah berkeping-keping.


"Apa yang kau lakukan? Mau apa kau ke sini?" tanya Jhon Koto saat melihat Deka yang berdiri membelakanginya.


Deka sontak berbalik dan menatap tajam Jhon Koto, lalu pandangannya turun ke pedang yang pria paruh baya itu pegang.

__ADS_1


"Pedang itu?" batin Deka, darahnya semakin mendidih melihat benda yang dua puluh tahun lalu menusuk dada ayahnya. Tangannya kini terkepal kuat dengan rahang yang mengeras.


Tanpa menunggu waktu lama, Deka bergegas menyerang Jhon Koto, dia ingin melampiaskan amarahnya saat itu juga.


Jhon Koto yang sudah siap dengan serangan Deka langsung mengangkat tangan dan hendak menebaskan pedangnya tapi dengan sigap kekasih Starla itu menghindar lalu menendang pinggangnya. Jhon Koto nyaris terjatuh, untung dia cepat memegang tepian tangga.


"Berengsek!" umpat Jhon Koto kesal.


"Matilah kau!" teriak Jhon Koto, dia pun kembali mengayunkan pedangnya, Deka dapat melihat kilatan benda tajam itu saat terkena pantulan cahaya lampu, seketika memori kelam dua puluh tahun yang lalu berputar di kepalanya, di mana pedang yang sama menikam dada sang ayah.


Dengan gerakan cepat Deka menangkap tangan Jhon Koto lalu memelintirnya ke belakang hingga laki-laki itu meringis kesakitan dan pedang yang dia pegang terlepas, kemudian dia membanting tubuh Jhon Koto ke lantai dan menghajarnya dengan kalap.


Karena sedang terluka dan tidak sehat, Jhon Koto tak sanggup melawan Deka yang tenaganya jauh lebih kuat darinya. Dia hanya pasrah menerima pukulan yang bertubi-tubi menghujani wajah tuanya. Sementara ke-tiga bodyguardnya hanya mengintip dari lantai atas, mereka tak berani melawan Deka.


Melihat lawannya sudah tak berdaya dan babak belur, Deka berhenti memukulinya. Dia berdiri kemudian memungut pedang milik Jhon Koto yang tergeletak tak jauh darinya, dan kembali mendekati pria keji itu.


Tubuh Jhon Koto seketika gemetar saat melihat tangan Deka memegang pedang miliknya.


"Kenapa kau melenyapkan ayahku?" tanya Deka dingin sembari mengarahkan ujung pedang itu ke Jhon Koto.


"Apa maksudmu? Memangnya siapa kau ini?" tanya Jhon Koto bingung.


"Aku adalah putra Darlan Piliang, orang kau habisi dua puluh tahun yang lalu."


***

__ADS_1


__ADS_2