
Setelah mendapatkan telepon dari Dani, Starla pun membuka media sosialnya yang sudah lama dia tutup, ada beberapa pesan masuk tapi dia abaikan, dia pun mencari-cari video yang tengah viral itu, meski sempat kesulitan namun akhirnya dia menemukannya. Starla memperhatikan video tersebut dan terkesiap saat melihat nomor telepon yang tertera di sana, dia tahu betul nomor telepon siapa itu.
"Sudah aku duga, ini pasti ulahnya," gumam Starla kesal.
Dia tak menyangka orang yang menyebarkan video itu akan melakukan hal ini, dan Starla tidak akan tinggal diam, dia harus cari cara agar video sialan itu dihapus.
Starla membuka akun media sosialnya yang sudah lama dia non aktifkan, banyak pesan yang masuk dari teman-teman dan keluarganya, termasuk dari Reyhan. Dia membuka pesan dari Reyhan itu dan membacanya.
"STARLA, KAU DI MANA? AYO PULANG, JANGAN BUAT MASALAH!"
Starla kembali membaca pesan berikutnya.
"STARLA, AKU TAHU KAU MARAH DAN TIDAK TERIMA DENGAN KEPUTUSAN PAPAMU, TAPI SEMUA MASIH BISA DIBICARAKAN. JADI PULANG LAH!"
Starla mengeraskan rahangnya, dia tak peduli jika semua ini akan menjadi masalah, dia kemudian mengirimkan pesan pada Reyhan.
"AKU TIDAK AKAN PULANG, JADI BERHENTI MENCARI KU! DAN TOLONG HAPUS VIDEO ITU, ATAU KALIAN SEMUA AKAN MENYESAL!"
Setelah mengirimkan pesan tersebut pada Reyhan, Starla pun keluar lagi dari akunnya itu dan bergegas ke dapur.
Sementara itu di sebuah tempat, Reyhan pun membaca pesan yang dikirimkan oleh Starla, belum sempat dia membalasnya, satu panggilan dari nomor tak dikenal menghubungi.
***
Starla berjalan menuju kamar Deka, dia ingin mengecek kondisi laki-laki itu, namun saat di depan pintu, dia mendengar suara teriakkan Deka. Starla mendadak panik dan buru-buru masuk ke dalam kamar.
"Ayah, jangan tinggalkan aku! Ayah!" teriak Deka dengan mata terpejam, peluh sudah membanjiri wajah dan tubuhnya.
"Abang bangun!" Starla menepuk pelan pipi Deka yang terasa dingin.
__ADS_1
Deka pun membuka matanya yang merah dan berair lalu menatap Starla dengan sendu, air matanya jatuh menetes tanpa bisa dia cegah, tapi buru-buru dia usap.
"Abang mengigau, ya? Memangnya mimpi apa?" tanya Starla, dia prihatin terhadap lelaki itu.
Deka menggeleng, "Tidak ada."
Starla bisa menebak jika Deka pasti memimpikan mendiang ayahnya, tapi dia tak mau memaksa lelaki itu untuk cerita.
"Lihat, baju Abang sampai basah begitu karena berkeringat. Sini aku ganti!"
"Tidak usah, biar begini saja."
"Nanti Abang bisa terkena penyakit kulit kalau memakai baju yang basah dan penuh keringat, sebaiknya cepat diganti!"
Deka bergeming.
Starla beranjak dan berjalan menuju kamar mandi, dia membasahi sebuah handuk kecil yang tergantung di dekat wastafel lalu membawanya keluar.
Deka tak menjawab, dia pasrah mengikuti apa yang Starla lakukan. Dengan hati-hati Starla membuka baju Deka, dan apa yang dilakukan Starla itu membuat jantung Deka berdebar kencang.
Starla lalu mengusapkan dengan pelan handuk basah tersebut di tubuh Deka, dia juga mengecek luka di dada lelaki itu.
Deka tertegun menatap Starla yang tampak fokus, jantungnya kian berdentam tak karuan. Dia begitu menikmati setiap sentuhan wanita itu.
"Sudah, sekarang Abang pakai baju, ya. Biar aku ambilkan!" ujar Starla, membuat Deka tersentak dari lamunannya.
Starla beranjak dari sisi Deka dan berjalan mendekati lemari, ada kekecewaan di hati Deka saat wanita itu menghentikan aktivitasnya tadi. Tapi dia juga merasa lega karena sudah menyimpan pistol miliknya di tempat lain.
Starla kembali duduk di samping Deka setelah mengambil sebuah kemeja berwarna biru.
__ADS_1
"Sini aku bantu pakaikan!" ujar Starla, dan lagi-lagi Deka menurut.
Starla sangat berhati-hati memakaikan Deka baju, dia sungguh piawai dalam mengurus orang yang sedang sakit.
"Sudah selesai, sekarang Abang bisa kembali tidur," ucap Starla, "mau aku bantu berbaring?"
"Nanti saja, aku masih ingin duduk seperti ini."
"Apa Abang butuh sesuatu?"
Deka menggeleng, "Tidak."
"Kalau begitu aku keluar dulu." Starla hendak pergi tapi Deka menahannya.
"Tunggu!"
"Iya, ada apa, Bang?" tanya Starla.
"Aku minta maaf atas nama Clarissa, jangan dimasukin hati ucapannya, dia memang suka asal kalau bicara."
Starla terdiam, dia tahu pasti Dani yang melaporkan hal itu pada Deka.
Starla tersenyum, "Tidak apa-apa, Bang. Abang tidak perlu minta maaf. Aku permisi dulu."
Starla bergegas keluar dari kamar Deka.
Deka hanya menatap kepergian wanita itu sambil memegangi dadanya yang masih berdebar.
"Kenapa jantungku selalu berdebar kencang saat berada di dekatnya? Apa aku memang jatuh cinta padanya?"
__ADS_1
***