Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
98. Mengungkap Rahasia 2.


__ADS_3

"Sedang apa kalian di sini?"


Starla dan Reyhan sontak menoleh ke arah pintu dengan wajah tegang sambil menelan ludah.


"Ba-Bang Deka?" gumam Starla saat melihat Deka sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.


Deka lantas melirik pistol yang masih Reyhan pegang, mendadak perasaannya tidak enak. Dengan perlahan dia melangkah mendekati dua orang itu.


Starla dan Reyhan langsung mundur beberapa langkah, keduanya merasa takut pada Deka.


"Berikan pistol itu!" Deka menadahkan tangannya ke hadapan Reyhan.


"Tidak, aku tidak akan memberikannya padamu." Reyhan menyembunyikan senjata api tersebut di belakang tubuhnya, dia takut Deka akan menembak mereka nanti.


Deka mengeraskan rahangnya dan dengan gerakan cepat ingin merebut pistol itu dari tangan Reyhan, tapi dengan sigap Reyhan mengelak dan bergerak menjauh.


Deka menatap tajam Reyhan, "Berikan pistol itu atau ...."


"Atau apa?" potong Starla cepat.


Deka mengalihkan pandangannya ke Starla.


"Atau Abang akan menghabis kami seperti Abang menghabisi korban-korban Abang?"


Deka mengernyit heran, dia bingung kenapa Starla tiba-tiba bisa berkata seperti itu? Sebenarnya ada apa ini?


"Aku tidak menyangka Abang itu manusia yang kejam! Abang psikopat! Pembunuh!" cerca Starla kecewa.

__ADS_1


Deka tercengang mendengar umpatan Starla, hari ini dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya sama-sama telah mencerca dirinya.


"Kenapa kau bicara begitu?" tanya Deka yang pura-pura tak mengerti.


Starla mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu membuka pesan dari nomor asing tadi dan melemparkannya ke ranjang, "Baca itu!"


Deka memungut telepon genggam Starla dan membaca pesan tersebut, darahnya seketika mendidih. Deka memperhatikan barisan nomor di atas pesan itu dan dia tahu siapa pengirimnya.


"Awas kau!" batin Deka geram, dia akan membuat perhitungan nanti.


"Apa Abang masih ingin mengelak?"


Deka tersentak kemudian memandang Starla, namun kali ini dengan tatapan yang penuh penyesalan.


"Starla, tolong dengarkan aku!" pinta Deka yang ingin meraih tangan Starla, tapi dengan cepat Reyhan menarik Starla dan menyembunyikan wanita itu di belakang tubuhnya.


"Tidak perlu! Aku minta sebaiknya kau jauhi Starla! Aku tidak mau kau menyakitinya nanti," bantah Reyhan.


"Tapi aku takut dengan Abang," sela Starla dari balik punggung Reyhan.


Deka menatap Starla dengan sedih, "Aku mohon dengarkan dulu penjelasan ku, kau harus tahu apa alasannya aku melakukan semua itu."


"Apa pun alasannya, Abang tetaplah seorang pembunuh!" kecam Starla.


Entah mengapa hati Deka terasa perih setiap mendengar kata -pembunuh- keluar dari mulut wanita yang dia cintai itu, ada setitik rasa penyesalan yang mulai menggerogoti perasaannya.


"Aku pikir setelah bebas dari pria kejam itu, hidupku akan aman dengan orang yang baik seperti Abang, tapi ternyata aku salah. Kalau begini Abang tidak ada bedanya dengan Papa dan orang yang membunuh ayah Abang!" lanjut Starla, dia sedih mengetahui kenyataan jika pria yang dia cintai adalah orang yang sadis.

__ADS_1


Deka memejamkan matanya kuat, rasa sesal semakin dalam menusuk hatinya. Kenapa dia begitu ceroboh hingga sampai kecolongan seperti ini? Harusnya dia lebih hati-hati menjaga rahasianya agar Starla tidak mengetahui apa yang sudah dia lakukan selama ini.


"Sebaiknya kita pergi dari sini!" pinta Reyhan pada Starla.


Deka langsung membuka mata dan menatap kedua insan di hadapannya itu dengan sendu, "Aku mohon jangan tinggalkan aku! Aku tidak akan mampu bertahan tanpamu, selama ini kau yang sudah membuat aku merasa dihargai dan disayangi. Aku seperti merasakan kehangatan keluarga yang sudah dua puluh tahun ini tidak aku rasakan."


Starla terdiam membisu, tanpa sadar air matanya jatuh menetes, namun buru-buru dia seka.


"Starla, aku mohon dengarkan aku dulu. Aku mohon!" lirih Deka penuh harap, dia tak akan sanggup kehilangan Starla karena hal ini.


Starla termangu, ada perasaan iba yang mulai menggelitik hatinya. Bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk membela diri?


Kenapa dia begitu egois dan keras kepala menolak Deka menjelaskan semuanya?


"Baiklah, aku akan mendengarkan penjelasan Abang," tutur Starla, Reyhan sontak menatapnya tak setuju, namun dia hanya menganggukkan kepala pertanda agar mengiyakan ucapannya itu.


Reyhan menghela napas kesal, lalu mengalihkan pandangannya dari Starla.


Deka menarik napas dan mengembuskan nya dengan berat, dia lantas mundur dan duduk di tepi ranjang. Sedangkan Starla dan Reyhan masih betah berdiri mengawasinya dari jarak beberapa meter.


"Aku terpaksa menjadi algojo demi membalas budi pada Tuan Victor, karena dia sudah merawat dan membesarkan aku seperti anaknya sendiri, dia bahkan selalu mendukung ku dan memberikan kemewahan padaku," terang Deka sembari mengenang semua kebaikan yang selama ini Victor berikan untuknya.


"Jadi maksudnya Abang membunuh atas perintah Tuan Victor?" Starla memastikan.


Deka mengangguk lemah.


Reyhan mengerutkan keningnya, "Tunggu! Apa yang kau maksud Victor Chen, pemilik pabrik mainan itu?"

__ADS_1


Deka sontak menoleh ke arah Reyhan dengan alis mengerut, "Kau kenal dia?"


***


__ADS_2