
Deka melajukan mobilnya menuju perumahan Casablanca setelah mengantarkan Dani sampai rumah, dia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah nomor 9 yang dijadikan pabrik narkotika dan memantau Amir. Iya, Deka ingin memberikan pelajaran kepada lelaki berkaca mata itu sebab telah berani mempermainkannya hingga sampai terluka seperti ini.
Namun hingga dua jam Deka menanti, tak terlihat sosok Amir keluar dari tempat itu.
"Cckk, ke mana si berengsek itu? Apa aku ke rumahnya saja?"
Deka mengeluarkan kartu tanda penduduk milik Amir yang sempat dia sita waktu itu dan memperhatikan alamatnya. Dia lalu menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.
Setengah jam kemudian, Deka tiba di depan sebuah rumah sederhana dan sepeda motor yang diyakini milik Amir terparkir di depan rumah.
Deka keluar dari mobil seraya memperhatikan keadaan sekitar yang cukup sepi, dengan langkah tegas dia mendekati rumah itu dan mengetuk pintu.
Pintu pun dibuka oleh si pemilik rumah yang tak lain adalah Amir, dia terkejut melihat Deka.
"Kau?"
Melihat wajah Amir, emosi Deka seketika naik sampai ke ubun-ubun. Dia langsung menarik baju lelaki itu hingga keluar dari rumah dan tanpa basa-basi melayangkan bogem mentah tepat di wajahnya.
Amir terhuyung ke belakang dan mundur beberapa langkah, dia meringis memegangi wajahnya yang sakit.
Deka melangkah mendekatinya sambil menatap tajam, "Sudah aku katakan, jika kau berani mempermainkan aku, kau akan rasakan akibatnya. Tapi sepertinya kau tidak takut."
"A-aku tidak mempermainkan mu, sungguh!" ucap Amir terbata.
__ADS_1
"Cih, kau masih tidak mau mengaku?" Deka mengangkat kakinya lalu menendang perut Amir sampai lelaki berkaca mata itu terjengkang ke lantai.
"Kau sengaja memberiku informasi palsu untuk menjebak ku, iya kan?" tuduh Deka dingin.
Amir menggeleng, "Tidak, itu tidak benar!"
Deka kembali menendang perut Amir sembari membentak lelaki itu, "Jangan bohong!"
"Demi Tuhan, aku tidak berbohong! Aku tidak memberikan informasi palsu! Aku mengatakan yang sebenarnya, tapi sepertinya Tuan Julio sudah mengetahui apa yang akan kau lakukan, makanya dia membatalkan transaksi malam itu dan malah menjebak mu." Amir berbicara sambil meringis menahan sakit.
Deka terkesiap mendengar penuturan Amir, kalau Julio Winata tahu apa yang akan dia lakukan malam itu, berarti ada yang membocorkan rencananya pada lelaki itu. Tapi siapa?
"Dari mana Julio tahu?"
"Aku tidak tahu, tapi aku sempat mendengar Tuan Julio menghubungi seseorang dan menyebut nama Victor, " jawab Amir.
"Iya, katanya Victor akan kehilangan pelanggannya termasuk Hendri Wang, karena Tuan Julio yang akan merajai pasar narkotika di Batam."
Deka mengeraskan rahangnya menahan geram, dia benar-benar marah, "Kurang ajar! Dia mau cari mati rupanya."
Amir merinding melihat wajah bengis Deka yang diselimuti amarah.
"Kalau begitu beritahu aku kapan mereka melakukan transaksi dengan Hendri Wang lagi?"
__ADS_1
Wajah Amir berubah tegang, dia mendadak gugup, "A-aku tidak tahu."
Deka tahu Amir berbohong. Dia berjongkok di hadapan Amir lalu mencengkeram rahang lelaki itu, "Aku bisa melakukan apa pun, termasuk melenyapkan mu. Jadi kalau kau masih ingin melihat matahari besok, katakan yang sebenarnya!"
Amir gemetar ketakutan, dia menelan ludah sebelum akhirnya buka suara, "Nanti malam pukul sepuluh di dermaga gelap perairan Nongsa. Karena kejadian waktu itu, mereka jadi menunda transaksi sebelumnya. Harusnya tadi malam, tapi Tuan Julio berhalangan karena ada urusan."
Deka menatap Amir dengan curiga, "Kau tidak sedang membohongi aku, kan?"
"Tidak, aku bicara yang sebenarnya, sumpah demi Ibuku," sanggah Amir.
"Baiklah, kali ini aku percaya padamu. Tapi kalau kau berani mempermainkan aku, kau akan kirim ke neraka!" ancam Deka penuh penekanan.
Amir bergidik ngeri, dia takut membayang jika itu sampai terjadi, dia belum siap mati muda.
Deka beranjak lalu berbalik dan hendak pergi, tapi suara Amir menahannya.
"Tunggu!"
Langkah Deka terhenti.
"Jangan sampai ada yang mengetahui informasi ini!"
Deka mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah sederhana milik Amir.
__ADS_1
Amir mengembuskan napas, dia tak tahu apa yang akan terjadi dengannya jika Julio tahu dia sudah berkhianat. Tapi dia tak ada pilihan, dia masih ingin hidup.
***