
Deka tiba di rumah, dia membuka pintu dan melangkah dengan terseok-seok sambil memegangi dada kirinya yang terluka, darah terus mengucur dan sudah membasahi bajunya, bahkan ada yang sampai menetes di lantai.
Starla yang sudah berada di kamarnya bergegas keluar saat mendengar suara pintu, dia tahu Deka pasti sudah pulang. Namun berapa terkejutnya Starla saat melihat keadaan Deka yang berlumuran darah.
"Ya, Tuhan! Abang kenapa?" Starla langsung berlari ke arah Deka.
Deka tak menjawab pertanyaan Starla itu, dia menjatuhkan dirinya di atas sofa lalu membuka bajunya sambil meringis menahan sakit.
Starla tercengang, dia semakin panik dan cemas saat melihat luka robek di dada kiri Deka, "Apa yang terjadi, Bang? Kenapa Abang terluka seperti ini?"
"Aku tidak apa-apa. Tolong ambilkan kotak obat!"
"Iya-iya, Bang." Starla langsung berlari mengambil kotak obat.
Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa apa yang Deka minta dan air hangat serta handuk kecil.
"Aku akan bantu membersihkan lukanya." Starla langsung duduk di samping Deka.
Deka tak menolak, dia memejamkan mata dan membiarkan Starla membersihkan luka itu dengan handuk dan air hangat yang wanita itu bawa tadi. Keringat sudah membasahi sekujur tubuh Deka, dia sesekali merintih menahan sakit saat handuk kecil itu menyentuh kulit di sekitar lukanya.
"Lukanya cukup parah, sebaiknya kita ke rumah sakit agar luka ini bisa dijahit," ujar Starla memberi saran.
"Tidak usah! Ini cuma luka kecil, nanti juga sembuh sendiri." tolak Deka.
"Tapi darahnya sulit berhenti, Bang. Dan kalau tidak ditutup, nanti bisa infeksi." Starla memperingatkan.
"Nanti juga pasti berhenti!"
"Tapi Abang bisa kehabisan darah."
"Sudah bersihkan saja lalu obati!" pungkas Deka tegas.
__ADS_1
Starla terdiam dan mengembuskan napas berat, dia sungguh tak habis pikir dengan sikap keras kepala Deka itu.
Dengan hati-hati Starla membersihkan luka itu, tapi darahnya masih terus saja keluar, membuat dia kian panik dan cemas.
"Bang, kita ke rumah sakit saja, ya? Luka ini harus mendapatkan penanganan medis, aku takut terjadi sesuatu dengan Abang kalau dibiarkan begini," bujuk Starla.
"Aku tidak mau ke rumah sakit, dan tidak akan terjadi apa-apa denganku. Kau tenang saja!"
"Kenapa Abang tidak mau ke rumah sakit?"
"Sudah jangan banyak tanya! Cepat obati luka itu!" sungut Deka.
Starla kembali membersihkan luka di dada Deka itu, lalu mengoleskan obat dan menutup dengan perban agar darahnya tidak terus keluar, tapi rupanya dalam sekejap perban putih itu sudah berwarna merah karena terkena rembesan darah Deka.
"Bang, bagaimana kalau kita panggil saja dokternya ke sini? Jadi Abang tidak usah ke rumah sakit," cetus Starla.
Deka menggeleng sambil memejamkan matanya, dia mulai lemas, "Tidak usah."
Deka membuka mata dan menatap Starla, "Sudah aku katakan, tidak akan terjadi apa-apa denganku. Jadi jangan khawatir!"
Starla menghela napas pasrah, "Kalau begitu aku ambil minum dulu, Abang harus minum obat pereda nyerinya."
Starla berdiri dan buru-buru ke dapur untuk mengambilkan air minum buat Deka.
Tak lama kemudian, dia kembali dengan segelas air putih, lalu membuka obat pereda nyeri dan memberikannya pada Deka.
"Ini diminum dulu obatnya, Bang!"
Deka meminum obat tersebut dengan dibantu oleh Starla.
"Sudah?"
__ADS_1
Deka hanya mengangguk, kemudian dengan susah payah berdiri sembari memegangi dadanya yang sakit.
"Abang mau ke mana?"
"Ke kamar," jawab Deka.
"Mari aku bantu." Starla sontak memegangi lengan kekar Deka dan memapah lelaki itu berjalan menaiki anak tangga.
"Hati-hati, Bang!"
Dengan hati-hati keduanya melangkah menuju kamar Deka, tapi begitu tiba di depan pintu, Starla berhenti.
Deka mengernyit memandangnya.
"Bukankah aku dilarang masuk ke kamar Abang, jadi aku antar sampai sini saja," ujar Starla yang tahu maksud tatapan Deka itu.
Deka mengangguk dan melepaskan tangannya dari Starla, dia lalu membuka pintu kamarnya.
"Panggil aku kalau Abang butuh apa-apa, atau jika terjadi sesuatu."
"Hem." Deka pun masuk dan menutup pintu.
Starla kembali mengembuskan napas, dia masih bingung apa yang terjadi pada Deka dan kenapa lelaki itu bersikeras tidak ingin ke rumah sakit?
"Aku harus mengabarkan hal ini pada Bang Dani." Starla bergegas pergi dari depan kamar Deka.
Di dalam kamar, Deka merebahkan tubuhnya dengan perlahan, luka di dadanya itu berdenyut dan perih, sebab obat pereda nyeri yang dia minum belum bereaksi.
Dia teringat kejadian di dermaga tadi dan seketika bayangan Amir melintas dipikirannya, mendadak emosi Deka naik.
"Aku akan membuat kau menyesal!" geram Deka.
__ADS_1
***