Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
61. My Future Wife.


__ADS_3

Pagi ini Starla bersiap dan buru-buru keluar dari kamarnya, dia harus datang tepat waktu sebelum terjadi sesuatu pada Dani, namun baru beberapa langkah dia berjalan meninggalkan kamar, suara Deka mengejutkannya.


"Mau ke mana kau pagi-pagi begini?"


Starla sontak berhenti dan berbalik menatap Deka yang sudah berdiri di ujung anak tangga teratas, wanita itu mendadak gugup dan panik.


"Eh, Abang kenapa ada di situ?"


"Aku bosan di kamar terus, makanya aku keluar untuk cari udara segar," jawab Deka, "kau belum jawab pertanyaan ku, mau ke mana pagi-pagi begini?"


Starla menelan ludah sebelum bicara, "A-aku ada urusan sebentar, Bang."


Deka mengernyitkan keningnya, "Urusan? Urusan apa?"


Starla tergagap, dia bingung harus menjawab apa. Dia lantas melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit, itu berarti dia hanya punya waktu tiga puluh menit lagi.


"Starla!" tegur Deka yang heran melihat Starla bergeming, dia pun menuruni anak tangga dengan perlahan.


"Hem, u-urusan keluarga," jawab Starla asal.


"Deka semakin bingung, "Urusan keluarga?"


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu, Bang!" Starla bergegas pergi meninggalkan rumah Deka demi mengalihkan pembicaraan, dia tak ada waktu untuk menjelaskan semuanya pada lelaki itu.


"Eh, Starla! Tunggu!" Deka berteriak memanggil Starla dan berusaha menghentikannya, tapi wanita itu tak peduli, dia tetap berlari pergi.


"Bukannya dia tidak punya siapa-siapa di sini, semua keluarganya kan ada di Pekanbaru?" Deka bertanya-tanya, mendadak hatinya merasa curiga.


"Aku harus ikuti dia!" Deka balik lagi ke kamarnya, dia mengambil dompet, ponsel dan juga kunci mobil. Lalu buru-buru turun ke lantai bawah untuk menyusul Starla.


Tapi begitu keluar dari pintu, Deka terkejut melihat kedatangan Rakis.


"Paman?"


"Deka, kau mau ke mana?" tanya Rakis.


"Tidak kemana-mana, aku cuma mau menghirup udara segar, bosan di kamar terus," dalih Deka sembari celingukan mencari keberadaan Starla yang sudah tidak terlihat di sekitar rumahnya.

__ADS_1


"Ka, kau mencari siapa?" tegur Rakis heran, dia bahkan sampai ikut celingukan.


Deka pun langsung mengalihkan pandangannya ke Rakis, "Oh, bukan siapa-siapa, Paman.


"Kalau begitu mari kita masuk, Paman!" Deka mengajak Rakis masuk ke dalam rumah dan mengurungkan niatnya untuk membuntuti Starla.


Keduanya pun duduk berhadapan di sofa ruang tamu.


"Paman dengar kau terluka, bagaimana keadaanmu?"


"Aku sudah baikan, Paman. Ini hanya luka kecil, kok," jawab Deka.


"Syukurlah kalau begitu, Paman sempat khawatir tadi," ucap Rakis lega.


"Tumben sekali Paman pagi-pagi datang ke sini? Memangnya tidak pergi bekerja?"


"Kerja, kok. Tapi Paman mau mencari Dani dulu, sudah dua malam dia tidak pulang ke rumah. Paman pikir mungkin dia menginap di sini?"


"Kemarin malam dia memang menginap di sini, tapi tadi malam tidak," terang Deka.


"Apa Paman sudah hubungi dia?"


Rakis mengangguk, "Sudah, tapi tidak dijawab sama sekali. Paman juga sudah menghubungi mu tadi, tapi tidak tersambung."


Deka terkesiap dan langsung mengecek ponselnya yang ternyata dalam keadaan mati karena habis baterai. Akibat sakit, dia lupa mengisi daya baterai ponselnya.


"Maaf, Paman. Aku tidak tahu kalau ponselku mati," sesal Deka, dia merasa bersalah.


Rakis tersenyum, "Tidak apa-apa."


"Oh iya, kau tahu siapa teman-teman Dani yang lain? Atau rumah pacarnya?" tanya Rakis kemudian.


Deka menggeleng, "Tidak, Paman. Dan setahu aku Dani belum punya pacar."


"Ah, masa, sih? Kalau dia belum punya pacar, lalu siapa yang tiap malam dia telepon sambil senyum-senyum sendiri? Bahkan Paman sering dengar Dani menyebutnya my future wife."


Deka termangu mendengar penuturan Rakis itu.

__ADS_1


"My future wife? Apa itu Starla?" batin Deka, entah mengapa hatinya merasa tidak suka dan cemburu.


"Ka! Deka!" tegur Rakis sebab melihat Deka melamun.


Deka tersentak, lamunannya buyar seketika, "Iya, Paman?"


"Kenapa kau melamun?"


Deka kembali menggeleng, "Tidak, tidak apa-apa, Paman."


"Selamat pagi," sapa Adam.


Deka dan Rakis sontak menoleh ke arah dokter muda itu yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Selamat pagi," balas Deka dan Rakis bersamaan.


"Silakan masuk, Dok!" Deka mempersilakan Adam untuk masuk.


"Hari ini jadwal kontrol luka kamu, saya sengaja datang lebih pagi, karena sebentar lagi saya akan ke luar kota untuk seminar," kata Adam sembari melangkah mendekati Deka.


"Iya, tidak apa-apa, Dok," sahut Deka.


"Baiklah, kalau begitu Paman ke pabrik dulu, hubungi Paman jika ada kabar tentang Dani!" pinta Rakis.


Deka mengangguk, "Iya, Paman. Aku akan segera memberi kabar kepada Paman."


Rakis beranjak lalu pergi dari rumah Deka setelah menegur Adam.


***


Hai, aku mau promosi karya terbaru aku, baru aja terbit tadi.


Kisahnya gak kalah seru, kok.


Mampir dan buktikan sendiri.


__ADS_1


__ADS_2