Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
87. Kau Milikku.


__ADS_3

Deka tampak murung setelah kepergian Clarissa, Starla sejak tadi memperhatikan gelagat kekasihnya itu.


"Abang kenapa? Nyesal sudah mengakui aku sebagai pacar?" tebak Starla sedikit sebal.


"Kenapa kau bicara begitu?"


"Habis dari tadi Abang diam saja setelah dia pergi, aku jadi berpikir mungkin Abang menyesal karena dia tahu hubungan kita."


"Kau ini suka sekali berburuk sangka! Mana mungkin aku menyesal, aku cuma kasihan pada Clarissa, dia pasti sakit hati dan sedih."


Starla cemberut, "Abang peduli sekali padanya."


"Bagaimana pun kami sudah bersahabat sejak kecil dan aku menyayanginya seperti adikku sendiri. Aku selalu menjaga dan melindunginya karena itu juga salah satu bentuk rasa terima kasihku pada papanya," terang Deka, dia tak ingin Starla salah paham.


"Kalau begitu kenapa Abang tidak pacaran saja dengan dia?" sindir Starla.


"Kan sudah aku bilang, aku cuma menganggap dia sahabat sekaligus adik. Lagipula cinta itu tidak bisa dipaksakan," sahut Deka gemas karena Starla terus saja menyindirnya.


"Tapi apa Abang tidak sungkan pada papanya jika dia tahu putrinya terluka karena Abang? Apa tidak jadi masalah nanti?"


Deka menggeleng, "Tidak, karena Tuan Victor sendiri justru memintaku untuk tahu diri dan batasan. Dia hanya memberiku izin untuk berteman dengan putrinya, tidak lebih dari itu."


"Apa karena itu Abang jadi tidak berani jatuh cinta pada Clarissa?"


Deka terdiam, dia sendiri tak tahu apa yang menyebabkan dirinya tidak bisa mencintai Clarissa.


"Abang! Kenapa diam?" tegur Starla.

__ADS_1


Deka tersentak dan menatap Starla, "Sudah, ah! Berhenti membahas Clarissa! Mending kita nonton film saja."


Deka beranjak dari duduknya demi memutus pembicaraan dengan Starla.


"Ih, Tapi Abang belum jawab!" rengek Starla.


"Aku tidak perlu jawab! Sudah sini!" teriak Deka.


Starla merengut tapi tetap menuruti permintaan pria yang sudah menjadi kekasihnya itu.


"Abang mau nonton film apa?" tanya Starla saat melihat Deka mencari program di televisi digital miliknya.


"Belum tahu," sahut Deka yang fokus menatap layar datar lima puluh inci di depannya.


Starla tiba-tiba mendapatkan ide, dia pun berlari ke dapur. Tak lama dia kembali dengan membawa dua buah gelas dan paper bag yang tadi Clarissa bawa.


"Nontonnya pasti makin seru kalau ditemani ini," jawab Starla yang sibuk menuangkan wine ke dalam gelas yang dia bawa.


"Tapi aku sedang tidak ingin minum," tolak Deka.


"Ayolah, Bang. Anggap saja kita sedang merayakan hubungan kita."


"Sebaiknya tidak usah!"


"Aku tidak menerima penolakan!" Starla mengangkat gelas berisi wine itu dan memberikannya kepada Deka.


Deka mendesah pasrah dan menerima gelas tersebut.

__ADS_1


"Cheers!" seru Starla kemudian menenggak wine itu.


Deka yang tadinya menolak pun akhirnya ikut minum.


Kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu nonton sambil menikmati anggur merah dan camilan yang Clarissa bawa tadi.


Beberapa saat kemudian, Starla yang mulai pusing merebahkan kepalanya di pundak Deka, lalu memejamkan mata, dia tak lagi berselera untuk nonton.


Sedangkan Deka yang masih fokus menatap layar kaca merasa sedikit gelisah, adegan romantis di hadapannya membuat lelaki dingin itu salah tingkah sendiri. Naluri laki-lakinya mulai terpancing dan jantungnya berdebar kencang. Dengan perlahan Deka memutar kepalanya ke arah Starla dan mengelus pipi mulus wanita itu.


Starla membuka mata dan mendongak menatap Deka, sejenak tatapan mereka terkunci. Deka yang mulai tak bisa mengendalikan diri perlahan mendekati dan mencium bibir Starla, ciuman yang basah dan penuh gairah.


Bak gayung bersambut, Starla yang dipengaruhi alkohol membalas ciuman itu dengan sedikit liar hingga memancing hasrat Deka untuk melakukan lebih. Dia mulai meraba paha Starla dan semakin naik ke atas, Starla hanya menggelinjang sambil terus menikmati setiap sentuhan Deka.


Semakin lama kedua insan yang sudah dikuasai hawa nafsu itu semakin tak terkontrol. Seperti terhipnotis, Starla hanya pasrah dengan apa yang Deka lakukan, tak ada perlawanan yang berarti. Sadar jika tak ada penolakan dari Starla, Deka pun melanjutkan aksinya hingga akhirnya terjadi sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan.


Televisi yang menyala tak lagi mereka gubris dan hanya menjadi saksi bisu pergulatan dua anak manusia yang saling mencintai.


Sementara itu, di dalam kamar super mewahnya, Clarissa sedang bersembunyi di balik selimut tebalnya nan hangat. Dia menangis tersedu-sedu, meluapkan rasa sakit dan kecewanya atas apa yang terjadi. Dia tak pernah menyangka Deka akan menolak dirinya dan lebih memilih Starla, dia tak terima wanita itu memiliki Deka.


"Kau milikku, Deka! Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku!" ucap Clarissa lirih.


***


Hai, semua!


Terima kasih sudah membaca kisah ini, aku harap kalian selalu setia menunggu kelanjutannya.

__ADS_1


Novel ini sedang menuju tamat, ya. Jadi aku mohon dukungannya dengan like dan komen agar aku semakin semangat untuk nulis.🥰


__ADS_2