
Deka memutuskan mengajak Starla dan Dani makan di sebuah restoran di tengah kota Batam, mereka memesan beberapa menu makanan dan juga minuman. Dani yang memang sudah kelaparan langsung menyantap makanan di hadapannya, begitu juga dengan Deka dan Starla.
"Kamu mau cicipi punya aku tidak?" tanya Dani kepada Starla yang duduk di sampingnya.
"Tidak usah, Bang!" tolak Starla.
"Ayam bakar di sini enak sekali, kamu harus cicipi!" desak Dani sedikit memaksa, dia bahkan menyodorkan sepotong ayam bakar ke depan mulut Starla.
Dengan terpaksa Starla pun membuka mulutnya dan memakan ayam yang disodorkan oleh Dani itu, dia merasa tidak enak bila menolaknya.
Deka yang sedang makan hanya melirik kedua orang itu.
"Enak kan?" Dani memastikan.
Starla mengangguk, "Iya, enak."
"Mau lagi?" Dani kembali hendak menyuapkan sepotong ayam bakar lagi kepada Starla.
"Eh, tidak, Bang! Aku makan ini saja." Starla menunjuk nasi dengan rendang daging miliknya.
Dani meringis malu dan langsung memasukkan potongan ayam bakar itu ke dalam mulutnya, sedangkan Deka hanya geleng-geleng kepala melihat usaha pendekatan sahabatnya itu.
"Rendang dagingnya enak?" Dani beralih memandang piring Starla, dia sepertinya tidak kehabisan bahan untuk bicara.
"Lumayan, Bang. Tapi aku bisa masak rendang daging yang lebih enak dari ini, rendang khas Minang," ujar Starla bangga.
"Benarkah? Kalau begitu kapan-kapan kau bisa masakin untukku, soalnya aku suka rendang daging," pinta Dani.
"Boleh, Bang," jawab Starla lalu mengalihkan pandangannya ke Deka, "Abang juga suka rendang daging?"
Deka mengangguk dua kali, Dani memandang Starla dan sahabatnya bergantian.
"Nanti aku masakin, ya?"
Deka kembali mengangguk, "Hem, boleh."
"Masak dendeng balado, gulai ayam, ikan asam manis, apa saja aku bisa," sambung Starla.
"Ya sudah, kalau begitu kau masak saja setiap hari di rumah Deka, daripada dia beli makan di luar terus. Nanti aku bisa mampir buat numpang makan," sela Dani, sambil terkekeh.
"Ide bagus itu!" seru Starla.
__ADS_1
"Cocok tidak, Ka?" tanya Dani.
"Iya, terserah," sahut Deka pasrah.
Starla dan Dani tertawa senang.
"Kalau begitu aku harus belanja, dong. Soalnya tadi aku lihat di dapur dan kulkas Abang tidak ada bahan makanan apa pun, bahkan garam saja tidak ada di rumah sebesar itu," cetus Starla, sambil mencibir.
"Gimana mau ada apa-apa, kalau yang punya rumah cuma pulang buat mandi dan tidur saja, itupun kalau dia tidak mandi dan tidur di hotel bersama wanitanya," sindir Dani sambil melirik Deka.
Starla terkesiap dan sontak memandang Deka, tapi lelaki itu cuek saja.
Melihat Starla terbengong menatap Deka, Dani pun mengalihkan perhatian wanita itu, "Sudah, jangan kaget begitu! Aku kan sudah bilang kalau dia itu playboy kelas kakap."
"Dan kau induk kakapnya," sambung Deka kemudian.
Dani seketika tertawa terbahak-bahak mendengar balasan Deka. Sedangkan Starla hanya terdiam, tapi sesekali dia melirik Deka yang tetap bersikap tenang walaupun Dani mengejeknya.
Tapi rupanya Dani memperhatikan itu, dia sadar Starla curi-curi pandang ke sang sahabat.
"Oh iya, kau sudah hubungi keluargamu?" tanya Dani tiba-tiba, dia ingin mengalihkan perhatian Starla dari Deka.
"Kenapa? Mereka pasti menunggu kabar darimu," ujar Dani, sedangkan Deka hanya diam menyimak.
"Ponselku hilang dan aku lupa nomor telepon keluargaku, jadi aku tidak bisa hubungi mereka," dalih Starla.
"Kau juga tidak tahu nomor teman-temanmu?"
Starla menggeleng, "Tidak, Bang."
Deka tetap bergeming, dia masih menyimak obrolan Starla dan Dani.
"Keluarga mu pasti sangat cemas karena kau tidak memberikan kabar," lanjut Dani.
Starla hanya menganggukkan kepalanya.
"Sudah, cepat habiskan makanannya! Ini sudah terlalu malam," pungkas Deka demi memutus pembicaraan dua orang itu.
Ketiganya pun melanjutkan makan mereka, dan setelah selesai, mereka bergegas pergi dari restoran itu.
***
__ADS_1
Mobil Deka terparkir di depan sebuah mini market, seperti yang mereka bicarakan tadi di restoran, Starla memutuskan untuk belanja bahan makanan dan keperluannya yang lain, dan kali ini Dani ikut berbelanja agar bisa meminimalisir terjadinya hal serupa, agar mereka tidak menunggu lama lagi seperti di toko pakaian tadi. Sementara Deka lebih memilih untuk tetap di dalam mobil, bersantai sambil mendengarkan musik.
Di dalam mini market, Starla memilih aneka sayuran dan buah. Dia juga membeli daging, ikan, telur, udang, dan bermacam-macam bumbu dapur termasuk garam tentunya. Dani setia mengikuti wanita itu berbelanja sambil mendorong troli, mereka terlihat seperti pasangan yang bahagia.
"Beli apa lagi, ya, Bang?" tanya Starla bingung.
"Beras sudah?"
"Oh iya, beras! Masa ada lauk tapi tidak ada nasi, sih!" ujar Starla sambil tertawa.
Dani memandangi wajah cantik Starla sambil senyum-senyum sendiri, dia sungguh terpesona dengan wanita itu sejak pandang yang pertama.
"Bang Dani, bantu aku angkat karung beras ini!" pinta Starla.
Dani tersentak, lamunannya seketika buyar, "Eh, iya-iya!"
Dengan sigap dan cekatan dia mengangkat karung beras seberat lima belas kilogram itu.
"Sudah, yuk bayar!" Starla gantian mendorong troli yang berisi belanjaan mereka.
Keduanya berjalan menuju kasir, namun tiba-tiba dua orang pria berpakaian serba hitam dan memakai masker menyelonong masuk ke dalam mini market lalu mengacungkan celuritnya ke penjaga kasir.
Aksi kedua orang yang diduga perampok itu sontak membuat beberapa pelanggan mini market histeris dan panik, termasuk Starla dan Dani.
"Diam! Jangan ada yang berteriak!" bentak salah seorang perampok berkepala plontos sambil mengangkat celuritnya.
Semua orang seketika diam ketakutan, begitu juga dengan Starla dan Dani.
"Berikan uangnya!" pinta perampok yang satunya lagi pada si penjaga kasir.
Namun sial, ponsel Dani tiba-tiba berdering dan menarik perhatian dua perampok itu.
Dengan tatapan yang tajam, si perampok berkepala plontos melangkah mendekati Dani dan Starla yang berdiri tak jauh darinya.
Dani menelan ludah, dia ingin melawan tapi kemampuan berkelahinya tidak cukup baik. Dia melirik keluar, berharap Deka mengetahui apa yang sedang terjadi dan datang menyelamatkan mereka.
"Serahkan ponselmu!" pinta perampok berkepala plontos yang kini berdiri di hadapan Dani.
Dani bergeming memegangi ponselnya di dalam saku yang terus berdering.
***
__ADS_1