Dendam Mafia Berdarah Dingin.

Dendam Mafia Berdarah Dingin.
53. Merasa Bersalah.


__ADS_3

Dani menemui Deka dan menceritakan apa yang dilakukan Starla pada Clarissa tadi, Deka jelas terkejut dan tak percaya mendengarnya, dia tak menyangka kedua wanita itu akan berseteru.


"Kau serius?" Deka memastikan.


"Iya, aku serius! Aku saja kaget saat Starla menyiram Clarissa tadi," sahut Dani.


"Pantas saja Clarissa tidak kembali ke sini lagi, padahal tadi dia bilang mau ambil minum."


"Dia langsung pulang."


"Nanti aku akan hubungi dia dan minta maaf atas kelakuan Starla," ujar Deka, dia merasa tidak enak pada Clarissa.


"Kenapa harus minta maaf padanya? Kalau menurutku dia pantas mendapatkan itu, dia sudah keterlaluan menghina Starla," protes Dani.


"Iya aku tahu Clarissa keterlaluan, tapi apa yang Starla lakukan juga tidak baik. Aku merasa tidak enak saja kalau Tuan Victor tahu jika putrinya diperlukan seperti itu," dalih Deka.


"Siapa suruh putrinya itu tidak bisa menjaga bicaranya!" cibir Dani.


"Kau kan tahu Clarissa itu seperti apa?"


Dani mengangguk, "Iya, aku tahu."


"Nanti aku juga akan minta maaf pada Starla atas ucapan Clarissa itu," lanjut Deka, Dani pun kembali mengangguk.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kau beristirahatlah! Aku mau pulang ganti baju dan pergi bekerja," pungkas Dani.


"Iya, terima kasih, Dan."


Dani tersenyum, "Tidak usah berterima kasih! Cepat sembuh, ya! Aku pulang dulu."


Deka mengangguk. Dani pun bergegas meninggalkan sahabatnya itu.


Deka membayangkan Starla dan tanpa sadar dia tersenyum.


"Dasar wanita bar-bar!" gumam Deka.


Deka tersentak saat ponselnya tiba-tiba berdering, dia meraba alat komunikasi berlogo apel tergigit itu di atas meja nakas, lalu mengernyit.


"Clarissa?"


"Halo, Sa,"


"Deka! Aku kesal sekali!"


Deka sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar teriakkan Clarissa.


"Sa, bicaranya pelan-pelan saja!" pinta Deka, dan Clarissa menurut.

__ADS_1


"Tadi aku kan lagi ambil minum di dapur, tiba-tiba pembantu mu datang dan memarahiku, lalu dia menyiramkan air dan cairan pencuci piring ke wajahku. Bahkan dia juga mendorongku hingga jatuh, Ka."


Deka termangu saat mendengar Clarissa mengadu, versinya jelas berbeda dengan yang Dani ceritakan tadi. Dia tak menduga Clarissa akan berbohong dan memfitnah Starla, dia tentu lebih percaya pada Dani.


"Pokoknya kau harus memecatnya, Ka! Dia sudah keterlaluan padaku!"


"Sa, sebelumnya aku minta maaf atas sikap Starla, tapi aku tahu dia melakukan itu bukan tanpa alasan. Pasti ada membuatnya tersinggung sampai dia melakukan itu padamu," sahut Deka yang sengaja menyindir Clarissa.


"Jadi maksudmu aku sudah menyinggungnya? Pasti dia sudah mengadu yang tidak-tidak padamu, iya, kan?"


"Sa, Starla tidak mengatakan apa-apa padaku, kami juga belum ada bertemu. Aku tahu Starla itu wanita yang baik, pasti ada sesuatu kalau sampai dia berbuat begitu," sanggah Deka, meskipun sedikit kesal dengan Clarissa namun dia tetap berusaha untuk tidak menyakiti wanita itu.


"Ih, Deka! Kau kenapa belain dia, sih? Jangan-jangan kau suka padanya, ya? Dia pasti sudah menggoda mu, iya, kan?"


"Sa, kau ini bicara apa? Jangan sembarangan! Starla tidak begitu!"


"Terserah, deh! Kau menyebalkan!"


Clarissa langsung menutup teleponnya sepihak, lagi-lagi wanita manja dan angkuh itu merajuk.


Deka mengembuskan napas berat, tadinya dia ingin minta maaf pada Clarissa, tapi urung karena kesal dengan sikap teman kecilnya itu. Dia memang sudah tahu sifat buruk Clarissa sejak dulu, tapi dia tak menyangka jika semakin hari sikap wanita itu semakin jelek dan kekanak-kanakan.


Seharusnya dia lebih dewasa dan bijaksana, namun justru lebih parah dari sebelum mereka berpisah lima tahun yang lalu.

__ADS_1


Deka jadi merasa bersalah dan kasihan pada Starla, dia tahu wanita pasti sangat tersinggung mendengar kata-kata hinaan dari Clarissa.


***


__ADS_2