
Di pabrik mainan milik Victor, suasana telah sepi karena para pekerja sudah pulang dan pabrik juga sudah tutup. Hanya ada seorang satpam yang berjaga di depan pintu masuk, dia terkejut melihat mobil Victor dan Bima melaju memasuki pabrik.
Dengan tergopoh-gopoh satpam itu menghampiri kedua mobil tersebut, Victor pun keluar dan satpam itu langsung menunduk memberi hormat.
"Kau tetap berjaga di depan! Aku ada urusan dengan Bima," ujar Victor memberi titah.
Satpam itu mengangguk patuh, "Baik, Tuan."
Si satpam berlari kembali ke tempatnya tadi, dia tak mau banyak bertanya meskipun sedikit bingung sebab Victor dan Bima memasukkan mobil ke dalam pabrik, bukan meletakkan di parkiran seperti biasa.
Victor mengetuk kaca jendela mobil Bima, dan Deka membukanya.
"Keluarkan keparat itu dan seret dia ke gudang!" pinta Victor.
"Baik, Tuan." Deka bergegas turun dan mengeluarkan Bima yang pingsan dan sudah babak belur dari dalam bagasi mobil, lalu menyeret lelaki itu ke sebuah ruangan yang Victor maksud.
Victor lalu mengambil sebuah alat yang sudah dia siapkan untuk menyiksa Bima, kemudian segera menyusul Deka.
"Ikat dia! Dan tutup mulutnya dengan lakban!" titah Victor.
Deka pun mendudukkan Bima di sebuah kursi kayu, lalu mengikatnya dan menutup mulutnya dengan lakban berwarna coklat. Sementara Victor sedang asyik membongkar alat-alat yang dia bawa tadi, ternyata isinya adalah satu set bor listrik.
Victor memilih kepala bor berbagai jenis dengan wajah yang sangat antusias, seperti seorang anak kecil yang baru di belikan mainan. Dia juga membawa palu dan beberapa buah paku berukuran besar.
"Bangunkan dia! Aku sudah tidak sabar ingin bersenang-senang malam ini." Victor memerintah Deka.
"Baik, Tuan," sahut Deka, kemudian dia mengguyur Bima dengan seember air untuk membangunkannya.
Bima yang tersadar dari pingsannya mulai membuka mata perlahan dan sontak melotot ketika melihat Deka juga Victor berdiri di hadapannya, dia berusaha memberontak tapi tidak bisa.
__ADS_1
Victor yang sedang memegang sebuah alat bor tersenyum sinis, dia berjalan mendekati Bima sambil sesekali menghidupkan mesin bor di tangannya.
Bima berusaha melepaskan diri dan ingin menjerit minta tolong, tapi tidak bisa, tubuhnya gemetar, matanya terbelalak tak berkedip, jelas terlihat jika saat ini Bima sangat ketakutan.
"Tak ku sangka kau berani mengkhianati aku," ucap Victor sambil sesekali menyalakan mesin bor yang ada di tangannya.
Bima terus saja bergerak-gerak ingin melepaskan diri, tapi ikatannya terlalu kuat.
"Kau akan merasakan sakit yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya, sampai kau merasa lebih baik mati," lanjut Victor dingin, membuat Bima semakin ketakutan.
Victor kembali menyalakan mesin bor di tangannya dan langsung menghujamkan mata bor tersebut ke paha kiri Bima yang langsung menembus hingga ke paha bagian belakang lelaki itu. Deka sampai memalingkan wajahnya sebab tak sanggup melihat adegan mengerikan itu.
Tubuh Bima menegang menahan sakit yang teramat sangat, wajah dan matanya memerah, urat-urat di lehernya sampai terlihat dengan jelas.
Darah segar seketika menetes dari lubang di paha Bima.
Victor lalu menarik mata bor dari paha Bima dan menghujamkan nya ke lutut lelaki itu hingga tembus ke bagian belakang. Dia kemudian tertawa senang melihat penderitaan tangan kanannya itu.
Bima merasakan sakit yang lebih parah dari sebelumnya, dan tak kuasa lagi menahan semua hingga tanpa sadar dia buang air kecil di celana.
Victor tertawa senang karena orang yang dia siksa sampai kencing celana.
"Sudah tua begini kau masih suka ngompol ternyata," ejek Victor, dan Bima hanya bisa menikmati rasa sakitnya sembari berlinang air mata.
Victor mencabut mata bor itu dari lutut Bima dan mematikannya, lalu menyimpan bor tersebut di atas meja.
"Baiklah, karena kau sudah menangis, jadi kita ganti permainannya," kata Victor lalu memerintah Deka, "ambilkan palu dan paku!"
Deka menoleh ke arah Victor dengan wajah tegang dan bergegas mengambil apa yang bosnya itu minta.
__ADS_1
"Ini, Tuan." Deka menyerahkan palu dan paku yang dia ambil kepada Victor.
"Sudah tahu rasanya dipaku?" tanya Victor dengan wajah jenaka.
Bima menggeleng, tatapan matanya seolah memohon ampun pada pria kejam itu.
Victor berjongkok di hadapan Bima lalu meletakkan paku di atas sepatu lelaki itu dan langsung memukulnya dengan palu sampai paku itu menembus kaki Bima.
Deka lagi-lagi memalingkan wajahnya, dia tak ingin melihat penyiksaan yang dilakukan oleh Victor.
"Inilah hukumannya untuk orang yang berani menusukku dari belakang! Aku sangat benci pengkhianat!" Victor berbicara sambil melirik Deka.
Deka hanya bergeming.
Bima yang sangat kesakitan dan kehabisan banyak darah, akhirnya tak sadarkan diri lagi.
Victor berdiri dan menjauh dari tubuh Bima, "Lepaskan dia dan masukkan ke mobil!"
Deka melepaskan ikatan Bima dan kembali menyeret lelaki itu ke mobil. Dia mendudukkan Bima di kursi penumpang depan.
"Bersihkan tempat ini!"
Deka pun menyiramkan air ke bekas tetesan darah Bima di lantai untuk menghilangkan jejak dan membuang bor serta semua peralatan yang digunakan untuk menyiksa Bima.
"Ayo pergi!"
Victor pergi lebih dulu. Setelah beberapa saat, Deka yang mengemudikan mobil Bima pun meninggalkan pabrik setelah memastikan semuanya aman.
***
__ADS_1